Bentara Timur – PT Vale Indonesia Tbk (INCO) membukukan lonjakan laba bersih hingga 100 persen pada kuartal I-2026 di tengah penguatan harga nikel dunia dan strategi efisiensi operasional perusahaan.
Mengutip pemberitaan Katadata, Vale Indonesia mencatat laba bersih sebesar US$43,6 juta pada tiga bulan pertama tahun ini. Angka tersebut meningkat dua kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Kinerja positif itu turut ditopang kenaikan pendapatan perusahaan yang mencapai US$252,7 juta atau tumbuh 22,37 persen secara tahunan. Selain itu, EBITDA Vale Indonesia juga meningkat signifikan menjadi US$80,1 juta.
Meski laba perusahaan meningkat tajam, produksi nikel matte justru mengalami penurunan. Sepanjang kuartal I-2026, produksi tercatat sebesar 13.620 metrik ton, turun sekitar 20 persen dibandingkan kuartal sebelumnya maupun periode yang sama tahun lalu.
Penurunan produksi tersebut disebut berkaitan dengan kegiatan pemeliharaan terencana, termasuk pembangunan kembali Furnace 3 yang ditargetkan selesai pada semester I-2026. Penyesuaian produksi juga dipengaruhi proses persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) tahun 2026.
Sejalan dengan penurunan produksi, pengiriman nikel matte Vale juga turun sekitar 25 persen secara kuartalan. Meski begitu, perusahaan tetap optimistis mampu mencapai target produksi tahunan sebesar 67.645 ton.
Di tengah turunnya volume produksi, Vale justru mendapat keuntungan dari tren kenaikan harga nikel global. Perusahaan mencatat rata-rata harga jual nikel matte sebesar US$14.213 per metrik ton pada kuartal I-2026, naik sekitar 15 persen dibandingkan kuartal sebelumnya.
CEO dan Presiden Direktur Vale Indonesia Bernardus Irmanto mengatakan perusahaan tetap mampu menjaga kinerja positif di tengah tantangan industri dan kondisi pasar yang belum stabil.
“Terlepas dari tantangan yang terus berlanjut dan lingkungan operasional yang tidak pasti, kami terus menunjukkan kemampuan untuk mempertahankan margin positif dan disiplin keuangan,” ujar Bernardus dalam keterangan resmi perusahaan, Kamis (30/4/2026).
Ia menambahkan, Vale saat ini juga mulai memperluas sumber pendapatan perusahaan melalui penjualan bijih limonit dari blok Pomalaa. Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi diversifikasi bisnis jangka panjang perusahaan.
“Dimulainya penjualan limonit dari Pomalaa menjadi langkah penting dalam memperkuat diversifikasi pendapatan dan meningkatkan keberlanjutan bisnis kami ke depan,” katanya.
Tahun 2026 menjadi fase penting bagi ekspansi Vale Indonesia. Perusahaan mulai mengoperasikan tiga blok tambang secara bersamaan, yakni Sorowako, Bahodopi, dan Pomalaa. Selain meningkatkan kapasitas produksi, langkah ini juga memperkuat posisi Vale dalam rantai pasok industri kendaraan listrik.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai peluang Vale untuk terus mencatatkan pertumbuhan kinerja masih cukup besar pada sisa tahun ini. Ia memperkirakan produksi nikel matte akan kembali meningkat setelah proyek pembangunan Furnace 3 selesai.
“Saat ini volume produksi memang masih melandai, tetapi setelah proyek ini selesai tentu akan ada optimalisasi produksi,” ujar Nafan.
Menurutnya, prospek Vale juga akan ditopang tren penguatan harga nikel dunia. Harga nikel diperkirakan masih berpeluang naik hingga mendekati US$20.000 per metrik ton tahun ini, seiring pengendalian produksi nasional melalui penyesuaian RKAB dan revisi formula Harga Patokan Mineral (HPM).
Selain itu, Vale Indonesia dinilai memiliki prospek jangka panjang yang kuat melalui pengembangan proyek smelter High Pressure Acid Leach (HPAL) di Pomalaa, Morowali, dan Sorowako. Proyek hilirisasi tersebut didukung fasilitas pembiayaan berkelanjutan atau Sustainability-Linked Loan (SLL) senilai US$750 juta dari sejumlah bank internasional.
Nafan menilai proyek smelter HPAL akan memperkuat posisi Vale dalam rantai pasok baterai kendaraan listrik global karena produk hasil pengolahannya memiliki nilai tambah lebih tinggi dibandingkan nikel matte konvensional.
“INCO akan memiliki posisi tawar yang lebih kuat dalam rantai pasok baterai kendaraan listrik global,” kata Nafan. (red)

