Gangguan Jantung, Masalah Baru Setelah Sembuh Dari COVID-19, Mengapa dan Bagaimana Terjadi?

ilustrasi Covid- 19: acc.org

Jumlah orang Indonesia yang sembuh dari infeksi COVID-19 hingga 13 September 2022 mencapai sekitar 6,2 juta orang atau 97% dari total yang terkonfirmasi terinfeksi.

Jumlah ini akan terus bertambah karena, walau kasus harian COVID kini menurun, kasus yang aktif masih sekitar 32 ribu atau 0,5%.

Salah satu masalah serius pada sebagian orang yang sembuh adalah mereka masih terus merasakan gejala sakit setelah berbulan-bulan sembuh dari infeksi. Hal ini dapat mempengaruhi kualitas hidup mereka.

Jumlah kasus seperti ini besar. Sebuah riset di Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita Jakarta pada 2022 menyatakan 66,5% dari 385 penyintas COVID di Indonesia masih merasakan gejala meski sudah dinyatakan negatif menurut tes laboratorium.

Satu riset yang terbit di The Lancet menguatkan bahwa lebih dari 91% dari 3.762 penyintas masih merasakan gejala COVID selama 7 bulan lamanya.

Gejala sisa yang menetap hingga lebih dari 3-4 bulan setelah terinfeksi ini dikenal sebagai gejala “Long COVID,” “Chronic COVID Syndrome,” “Long-Haul COVID,” “Post-Acute Sequelae of SARS-CoV-2 infection”, dan “Post-Acute COVID-19 Syndrome (PACS)”.

Risiko masalah jantung naik

Gejala COVID berlarut-larut itu ternyata juga meningkatkan risiko masalah jantung dan pembuluh darah.

Sebuah studi yang terbit di Nature Medicine dengan sampel lebih dari 150.000 orang yang pernah terinfeksi COVID menyebutkan setelah satu tahun pulih dari infeksi, para penyintas memiliki peningkatan risiko berbagai masalah jantung dan pembuluh darah.

Masalah itu, di antaranya, gangguan irama jantung, radang otot jantung (miokarditis), radang selaput jantung (perikarditis), gangguan pembekuan darah, stroke, infark miokard (serangan jantung), dan gagal jantung.

Informasi yang cukup mencengangkan adalah peningkatkan risiko ini terlihat jelas bahkan pada penyintas yang tidak dirawat di rumah sakit karena hanya bergejala ringan.

Gangguan pada jantung

Ada banyak dugaan bagaimana COVID dapat menyebabkan gangguan pada jantung.

Richard C. Becker, kepala dokter di Heart, Lung and Vascular Institute University of Cincinnati Amerika Serikat mengatakan komunitas medis di sana tahu betul bahwa infeksi SARS-CoV-2 selama fase awal dapat menyebabkan radang otot jantung; radang selaput jantung; dan serangan jantung.

Masalah ini terjadi akibat adanya respons imun berlebihan saat infeksi (badai sitokin), rendahnya kadar oksigen dalam darah, terbentuknya bekuan darah di pembuluh koroner, atau kegagalan jantung dalam menjalankan fungsinya.

Dengan demikian, menurut Becker, gangguan jantung ini muncul sebagai efek tidak langsung dari radang yang terjadi di seluruh tubuh akibat virus COVID.

Analisis lain mengungkapkan bahwa kerusakan jantung adalah efek langsung dari masuknya virus ke jantung.

Virus SARS-CoV-2 hanya bisa masuk ke tubuh atau menginfeksi organ jika dalam organ tersebut terdapat reseptor ACE-2. Ibaratnya, virus SARS-CoV-2 adalah tamu, maka untuk masuk ke dalam rumah, ia tidak bisa masuk jika tidak ada among tamunya, yaitu orang yang akan menyambut dan mempersilakan tamunya masuk ke rumah. Nah, “among tamu” ini adalah reseptor ACE-2.

Tempat virus melekat ini ditemukan pada berbagai organ di dalam tubuh, salah satunya di jantung.

Reseptor ACE-2 ditemukan di jantung, endotelium, kardiomiosit, dan jaringan adiposa epicardial (selaput jantung). Temuan virus dalam sel endotel jantung menunjukkan bahwa SARS-CoV-2 dapat menyebabkan kerusakan langsung pada struktur jantung sehingga dapat menyebabkan kerusakan fungsi jantung.

Dugaan ini semakin diperkuat dengan analisis post-mortem pada 17 pasien yang meninggal karena infeksi COVID. Materi genetik (RNA virus SARS-CoV-2) ditemukan di jantung 82% pasien yang meninggal tersebut.

Waspadai nyeri dada

Keluhan nyeri dada yang menetap setelah sembuh dari COVID-19 bisa jadi merupakan tanda gangguan pada jantung.

Keluhan tidak nyaman di dada adalah salah satu gejala sisa yang banyak dialami oleh para penyintas COVID. Keluhan ini dapat berupa nyeri tajam di area dada, sensasi burning (terbakar) pada area dada, maupun sensasi dada tertekan seperti ditimpa batu besar.

Dalam studi survei online internasional yang dilakukan pada 2021 dengan responden 3.762 penyintas, gejala nyeri dada ditemukan pada sekitar 53% dari 86% penyintas selama 7 bulan dari infeksi.

Angka yang lebih kecil namun lebih umum dijumpai dalam penelitian menyebutkan bahwa nyeri dada dialami oleh sekitar 22% penyintas yang mengalami long COVID. Jika disederhanakan, ada 1 dari 5 orang yang mengalami rasa nyeri atau tidak nyaman pada dada setelah sembuh dari COVID.

Di luar layanan kesehatan, keluhan nyeri dada bisa diketahui dari tren pencarian kata kunci di Google Trends.

Sebuah ringkasan penelitian di American Heart Journal menyebutkan bahwa meningkatnya pencarian informasi dengan kata kunci “chest pain” atau nyeri dada di meta-data Google Trends sangat berkorelasi dengan jumlah kasus COVID-19 di Amerika Serikat.

Lonjakan ini secara tidak langsung menggambarkan bahwa selama pandemi, ada banyak masyarakat yang merasakan nyeri dada. Mereka berupaya mencari solusi nyeri dadanya di internet yang nasibnya sampai sekarang tidak diketahui pasti.

Radang selaput jantung

Infeksi COVID dapat mengaktifkan respons imun tubuh. Respons imun ini akan berusaha mengenali virus dan membersihkannya dari tubuh.

Namun, pada sebagian orang, sistem imun merespons secara berlebihan sehingga malah memicu kerusakan organ tubuh sendiri meski virus sudah hilang dari tubuh. Fenomena ini dikenal dengan badai sitokin.

Banyak pasien yang kritis dan berakhir meninggal bukan karena serangan virusnya, namun karena respons imun tubuh yang berlebihan selama terinfeksi. Respons imun berlebihan ini menyebabkan peradangan pada organ, termasuk pada jantung.

Salah satu jenis peradangan yang paling sering dijumpai pada jantung saat dan setelah seseorang terinfeksi COVID adalah radang selaput jantung.

Peradangan ini dapat diketahui dari berbagai macam pemeriksaan seperti pemeriksaan fisik, darah, aktivitas listrik jantung, struktur dan fungsi jantung.

Lalu bagaimana?

Dampak long COVID bagi jantung saat ini sudah menjadi perhatian serius di berbagai negara. Para tenaga kesehatan pun semakin dilatih untuk mengenali gangguan jantung setelah terinfeksi COVID, termasuk radang selaput jantung.

Kebijakan klaim BPJS Kesehatan perlu mengakomodasi masalah ini untuk para penyintas yang mengalami long COVID. Ini penting agar para dokter dan tenaga kesehatan dapat melakukan pemeriksaan lebih lengkap (melalui echocardiography atau MRI) untuk menegakkan diagnosis dan mengobati secepat mungkin.

Long COVID dan berbagai efek peradangan terhadap jantung, termasuk radang selaput jantung, perlu menjadi salah satu perhatian bagi para dokter ketika menemui pasien penyintas COVID dengan gejala nyeri dada kronis.

Bagi orang yang telah sembuh dari infeksi COVID-19 menurut tes lab, tapi mengalami nyeri dada terus menerus, segeralah berkonsultasi dengan dokter.

 

Artikel ini pertamakali terbit di The Conversation