Waspada Bahaya Bencana Hidrometeorologi saat Musim Hujan

Kendari, Bentara Timur- Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Sulawesi Tenggara mengingatkan supaya masyarakat mewaspadai potensi bencana hidrometeorologi saat musim hujan.

Bencana hidrometeorologi adalah bencana yang muncul akibat aktivitas cuaca seperti curah hujan, angin dan kelembaban. Bentuk bencananya berupa banjir, angin kencang, banjir bandang, tanah longsor, kebakaran hutan dan kekeringan.

Kepala Stasiun Klimatologi Sulawesi Tenggara, Aris Yunatas menyampaikan berdasarkan data prediksi BMKG, memprakirakan sebagian besar wilayah Sulawesi Tenggara akan memasuki musim hujan periode Desember-Januari.

Menurut Aris, kondisi musim saat ini sedang berada dalam masa pancaroba atau peralihan dari musim kemarau ke musim hujan. “Di masa pancaroba waspada cuaca ekstrim seperti potensi terjadinya puting beliung, hujan deras disertai angin kencang dan petir,” jelasnya melalui pesan singkat, Jumat (1/12/2023).

Disampaikan Aris, BMKG memetakan daerah Sulawesi Tenggara warsa 2023 menjadi 19 zona musim (ZOM) dengan awal musim hujan berbeda. Awal musim hujan terjadi secara bervariasi antara Desember dasarian satu, dua, dan tiga sampai Januari dasarian satu.

Namun, kata Aris, dari seluruh wilayah di Sulawesi Tenggara, Kolaka Utara mengalami musim hujan lebih maju tiga dasarian atau dimulai November. Hal ini dipengaruhi kondisi topografi wilayahnya yang menentukan karakteristik curah hujan.

“Sebenarnya perbedaannya nggak terlalu signifikan. Perbedaan satu atau dua dasarian itu nggak masuk perbedaan juga karena masih di ring antara November dan Desember. Itu masih normal saja,” katanya.

Aris menerangkan, cara menentukan prakiraan musim hujan menggunakan kurun waktu tiga dasarian. Semisal, apabila dalam waktu 10 hari curah hujan sudah mencapai angka 50 atau lebih milimeter disusul dua dasarian berikutnya, maka dapat disimpulkan sedang terjadi musim hujan.

“Tapi kalau masih di bawah 50 milimeter atau di bawah 150 dalam tiga dasarian, berarti belum bisa masuk di musim hujan,” ujarnya.

Pembagian zona musim juga membagi masa puncak musim hujan setiap wilayah. Dari prakiraan BMKG, musim hujan terjadi antara Januari hingga Juni 2023. Aris pun mengimbau berbagai pihak agar selalu berjaga terhadap potensi bencana yang timbul di musim hujan.

Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulawesi Tenggara, Muhammad Yusuf menyampaikan, pihaknya sudah menyiapkan rencana dan segala kebutuhan untuk menghadapi potensi munculnya bencana hidrometeorologi saat musim hujan.

Kata Yusuf, melihat tindakan operasi penanganan sebelumnya, bencana hidrometeorologi yang kerap timbul berupa banjir dan tanah longsor.

Adapun daerah yang dominan bahkan menjadi langganan sasaran bencana adalah Kolaka, Kolaka Utara, Konawe, Konawe Selatan, Konawe Utara dan Buton Utara. Pemicu utamanya, menurut Yusuf, adanya aktivitas deforestasi untuk kepentingan eksplorasi usaha ekstraktif di bidang pertambangan dan perkebunan sawit. Terlebih, aktivitas penggundulan hutan ini tanpa menimbang aspek daya dukung lingkungan.

“Meluapnya air sungai itu kan karena adanya sedimen, sehingga permukaan air naik. Sedimen terjadi karena aktivitas perambahan hutan. Akhirnya, ketika hujan terjadi erosi dan masuk ke sungai. Jadi kan permukaan air naik,” ujarnya saat dihubungi lewat sambungan telepon seluler, Kamis (7/12/2023).

Kata Yusuf, ia sudah mengingatkan jajaran pemerintah kabupaten/kota terutama yang berada di daerah rawan banjir seperti bantaran sungai untuk melakukan upaya antisipatif demi mengurangi dampak bencana.

Selaku upaya mitigasi bencana, masyarakat diminta agar membersihkan lingkungan, semisal saluran air untuk menghindari adanya penyumbatan yang bisa memicu genangan. Yusuf mengingatkan pula masyarakat yang tinggal di daerah dengan topografi dataran tinggi dan kontur tanah lembab untuk mewaspadai potensi bencana tanah longsor.

Disamping itu, BPBD Sulawesi Tenggara telah menyiapkan logistik, peralatan serta

pasukan untuk membantu memenuhi kebutuhan tindakan operasi penanggulangan bencana. Kata Yusuf, pihaknya menyiagakan setidaknya 50 orang pasukan yang akan bekerja sama dengan aparat TNI/Polri.

Penulis: La Ode Muhlas