Makassar. Bentara Timur – Penggunaan Artificial Intelligence atau lebih dikenal dengan istilah AI di kalangan jurnalis dan media semakin tak terhindarkan.
Meski begitu perdebatan muncul mengenai posisi AI yang ideal apakah ia merupakan mitra kerja yang mempermudah atau berpotensi mengikis kerja-kerja profesionalisme.
Project Manager BBC Media Action Indonesia Pravita Kusumaningtias menyampaikan bahwa AI harus dipandang secara tegas sebagai alat bantu (tools), bukan sebagai pengganti sumber daya manusia.
“Untuk konteks media, AI itu sebenarnya tools. Dan dia memang diciptakan sebagai alat. Alat kita untuk mempermudah pekerjaan kita, bukan untuk menggantikan kita sebagai sumber daya,” ujar Vita.
Menurut Vita, AI seharusnya membuat waktu kerja jurnalis lebih singkat, lebih efektif, dan ujungnya, membuat produksi berita atau konten menjadi lebih berkualitas. Meski demikian, Vita memberikan garis batas yang sangat jelas terkait etika dan tanggung jawab, AI tidak boleh ditinggalkan sendirian.
“Konsep kita harus ada pengawasan. Jadi saat AI itu kita gunakan, harus ada tahap-tahap selanjutnya dan pengawasan bagaimana kita memproses informasi atau hasil dari AI tersebut,” tegasnya.
Pengawasan ini menjadi krusial, terutama saat AI digunakan untuk riset data. Vita menekankan bahwa verifikasi mejadi keharusa. Ia mencontohkan praktik yang baik, di mana sebuah redaksi menggunakan AI untuk riset awal, tetapi tetap harus turun ke lapangan, melakukan interview, dan verifikasi data di instansi terkait.
“Fungsi jurnalisme itu harus dikedepankan. AI hanyalah tools, bisa bantu teman-teman untuk mempercantik kontennya atau mempermudah riset di awal. Tetapi fungsi jurnalisme dalam melakukan verifikasi seperti interview, investigasi ke lapangan, melakukan verifikasi data, itu tetap nomor satu dan harus dilakukan,” tambahnya.
Ketika disinggung mengenai ketimpangan penggunaan AI antara jurnalis di Kawasan Barat dan Timur Indonesia, perempuan lulusan Queen Mary University of London
Menyebut tantangan besar terkait infrastruktur. AI, menurutnya, membutuhkan infrastruktur yang mumpuni, mulai dari energi, akses, hingga internet.
Namun, ia menekankan bahwa masalah akses tidak hanya soal koneksi fisik. Vita menyoroti pentingnya pengetahuan tentang bagaimana memanfaatkan AI secara efektif dan bertanggung jawab.
“Aksesnya itu bukan cuma tahu bahwa AI itu ada Perplexity, Gemini, ada Grok, ada ChatGPT, dan segala macam, tapi akses itu juga bagaimana cara menggunakan dia dengan efektif dan bertanggung jawab, jika jurnalis hanya tahu cara menggunakannya tanpa tahu cara memanfaatkannya secara efektif, mereka justru akan diatur-atur oleh AI,” lebih jelas Vita yanag ditemuai usai memberikan paparan materi Produksi Konten Debunking Mis/Disinformasi Menggunakan AI pada puluhan jurnalis di kawasan Indonesia Timur pada acara di Makassar pekan ke dua November 2025.
Meskipun tantangan infrastruktur nyata, Vita mendorong komunitas jurnalis di daerah untuk tetap mengejar pembaruan teknologi. Kunci dari keberhasilan ini adalah kreativitas manusia dalam mengolah informasi yang dihasilkan AI.
“Kreativitas tidak akan pernah digantikan sama AI. Kreativitas pasti itu 60 persen dari kerja teman-teman, inovasi dan penggalian isu tetaplah ranah eksklusif jurnalis, sementara AI hanyalah alat yang membantu,” tutup Vita.

