Kendari – Bentara Timur – Wajah pemukiman di Indonesia bakal segera berganti rupa. Presiden Prabowo Subianto baru saja mencanangkan gerakan “Gentengisasi Nasional” sebuah inisiatif untuk mengganti atap seng yang selama ini mendominasi rumah warga di luar Pulau Jawa dengan genteng tanah liat.
Dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pemerintah Pusat dan Daerah 2026 di Sentul, yang berlangsung pada Senin 2 Februari 2026, Presiden Prabowo secara blak-blakan menyentil atap hunian masyarakat Indonesia
“Seng ini panas untuk penghuni, seng ini juga berkarat. Tidak mungkin Indonesia indah kalau semua atap dari seng,” tegas Presiden.
Ia menekankan bahwa tujuan utama program ini bukan sekadar mengganti material, melainkan memperindah wajah Indonesia sekaligus menggerakkan ekonomi kerakyatan melalui produksi genteng di desa-desa.
Lantas, bagaimana kondisi di Sulawesi Tenggara ? Data berbicara mengacu pada Hasil Survei Ekonomi Nasional (Susenas) tahun 2025 menyebutkan mayoritas rumah tangga di Sultra masih menggunakan seng. Berbeda dengan Yogyakarta yang penggunaan gentengnya mencapai 95,03% atau Jawa Timur di angka 93,58%, wilayah Sulawesi justru menjadi lumbung penggunaan atap logam.
Secara regional di Pulau Sulawesi, angka penggunaan seng bahkan menyentuh level ekstrem. Berdasarkan Sensus BPS tahun 2022 Provinsi Gorontalo menjadi wilayah dengan penggunaan atap seng tertinggi totalnya menyentuh diangka 97,3 % disusul Sulawesi Utara 96,23% lalu Sulawesi Barat 95,97%, Sulawesi Tengah 93,39 %, Sulawesi Selatan 93,26 %, dan Sulawesi Tenggara 91,52 %. Untuk data dan rincian selengkapnya, dapat dilihat melalui publikasi resmi BPS atau klik pada tautan berikut bit.ly/DataAtapBPS2022”
Di Sulawesi Tenggara sendiri, penggunaan genteng masih menjadi barang langka. Selain faktor ketersediaan bahan baku genteng tanah liat yang minim, faktor geografis dan tradisi membangun rumah yang lebih memilih material praktis seperti seng, kayu, atau sirap menjadi alasan utama.
Estetika vs Realitas Geografis
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), secara nasional sebenarnya 57,93% rumah tangga di Indonesia sudah menggunakan genteng. Namun, angka ini menipu karena sebarannya tidak merata genteng menumpuk di Jawa dan Lampung, sementara wilayah Indonesia Timur atap seng menjadi primadona.
Presiden menilai seng tidak ramah lingkungan dan membuat suhu hunian menjadi panas. Namun, bagi masyarakat di Sulawesi Tenggara, pilihan seng seringkali berkaitan dengan daya tahan terhadap cuaca lokal dan kemudahan distribusi.
Program Gentengisasi ini pun memantik pertanyaan besar bagi warga Bumi Anoa, seberapa siap industri tanah liat lokal memasok kebutuhan jutaan rumah jika transisi ini benar-benar dijalankan?

