● Papua adalah habitat penting bagi hewan langka hiu paus muda.
● Lebih dari 75% hiu paus di kawasan ini terluka akibat interaksi dengan aktivitas manusia.
● Perlu pengelolaan wisata dan alat tangkap yang lebih ramah agar tidak membahayakan hiu paus.
Hiu paus (Rhincodon typus) adalah satu jenis ikan terbesar di dunia, panjangnya bisa mencapai 18-20 meter.
Sang raksasa laut tropis dan subtropis ini termasuk dalam daftar hewan yang terancam punah karena populasinya terus menurun.
Riset sebelumnya menunjukkan hiu paus di Indonesia hidup di beberapa wilayah, seperti Teluk Saleh, Nusa Tenggara Barat; Talisayan, Kalimantan Timur; Botubarani, Gorontalo; serta perairan Probolinggo di Jawa Timur.
Riset terbaru saya bersama tim di Frontiers in Marine Science menunjukkan bahwa hiu paus ternyata juga banyak hidup di Bentang Laut Kepala Burung, Papua, utamanya Kaimana dan bagian selatan Teluk Cenderawasih. Dua area ini menjadi habitat penting bagi hiu paus muda.
Tapi sayangnya, keberadaan hiu paus di wilayah tersebut menghadapi berbagai ancaman akibat aktivitas manusia di sekitar habitat mereka, bahkan kami menemukan mayoritas hiu paus ini dalam kondisi terluka.
Pola garis dan bintik nan unik
Kami melakukan riset dengan menggabungkan data identifikasi foto yang dikumpulkan oleh ilmuwan dan para pegiat sains warga (citizen science) selama 13 tahun (2010-2023).
Riset kami menemukan setiap individu hiu paus punya pola garis dan bintik yang unik dan permanen pada tubuhnya, layaknya sidik jari pada manusia. Pola inilah yang menjadi kunci untuk membedakan setiap individu.
Dari 1.118 perjumpaan dan ribuan foto yang dianalisis, kami menemukan sebanyak 268 individu hiu paus yang berbeda.
Sebagian besar hiu paus kami temukan di Teluk Cenderawasih (159 individu) dan Kaimana (95 individu), sementara sisanya di perairan Raja Ampat (12 individu) dan Fakfak (2 individu).

Lokasi perjumpaan hiu paus yang tersebar di Bentang Laut Kepala Burung, Papua (A), termasuk Kaimana (B) dan Teluk Cenderawasih (C). Setyawan et al. 2025
Menariknya, sebagian besar hiu paus di kawasan ini adalah jantan muda (90% dari 235 individu yang teridentifikasi jenis kelaminnya), terlihat dari ukuran klasper mereka yang masih kecil.
Klasper adalah organ kelamin pada hiu jantan berupa perpanjangan dari sirip perut. Pada hiu paus dewasa ujungnya mengapur seperti kembang kol. Ukurannya melebihi panjang sirip perut.
Tubuh mereka juga masih relatif kecil. Kebanyakan berkisar sepanjang 2-8 meter, dengan rata-rata paling banyak 4-5 meter.
Temuan ini menunjukkan bahwa perairan Papua merupakan tempat pertumbuhan hiu paus muda sebelum mereka bermigrasi ke laut lepas saat mulai beranjak dewasa, yaitu setelah panjang tubuhnya mencapai 9 meter.
Setia pada rumahnya
Riset kami juga menunjukkan lebih dari separuh hiu paus yang teridentifikasi terlihat selalu kembali ke area yang sama. Hal ini mengindikasikan bahwa hiu paus memiliki tingkat residensi atau kesetiaan menetap yang tinggi pada area tertentu.
Hal ini kemungkinan karena ketersediaan makanan yang relatif stabil sepanjang tahun, terutama di Teluk Cenderawasih. Kawasan tersebut dikelilingi oleh hutan mangrove dan muara sungai-sungai besar yang menyuplai sumber makanan utama bagi organisme laut seperti plankton dan ikan-ikan kecil—makanan hiu paus.
Luka di tubuh raksasa
Melimpahnya ikan-ikan kecil di Teluk Cenderawasih tidak hanya menarik hiu paus, tapi juga nelayan—terutama dari luar masyarakat setempat—yang menggunakan bagan berperahu (bagan) dilengkapi jaring angkat. Alat tangkap tradisional asli Sulawesi ini menggunakan lampu terang untuk menarik ikan-ikan di malam hari.
Pertemuan antara hiu paus dan nelayan bagan pun tak terelakkan dan menimbulkan risiko.
Riset kami mengungkap bahwa lebih dari 75% individu hiu paus yang teridentifikasi memiliki luka atau bekas luka. Sebagian besar ringan, seperti goresan kecil di sepanjang tepi sirip punggung yang diduga akibat gesekan dengan struktur bagan.
Namun, ada juga luka parah, seperti sirip dada dan ekor yang terpotong atau robek, diduga karena jeratan alat tangkap ikan, baling-baling kapal cepat, atau aktivitas manusia lain yang belum diketahui.
Jadi, meskipun Teluk Cenderawasih merupakan taman nasional yang merupakan area konservasi, tekanan pada hiu paus dari aktivitas manusia masih tetap tinggi karena penggunaan alat tangkap bagan masih diperbolehkan di zona tradisional—area masyarakat lokal boleh menangkap ikan secara terbatas.
Jika tidak dikelola dengan bijak, interaksi dengan manusia justru bisa memperparah ancaman terhadap hiu paus dan bisa saja membuat mereka tidak lagi betah di sana.
Risiko wisata hiu paus
Hiu paus punya kebiasaan muncul di sekitar bagan saat dini hari hingga pagi untuk menikmati “kudapan gratis” ikan-ikan kecil hasil tangkapan nelayan.
Kebiasaan unik ini lantas dimanfaatkan nelayan untuk wisata hiu paus. Mereka sengaja memberi makan hiu paus supaya tetap berada di sekitar bagan. Dengan begitu, wisatawan bisa berjam-jam ‘berenang bersama’ raksasa laut ini.
Belakangan wisata ini semakin populer, terutama setelah banyak artis dan influencer memamerkan foto bersama hiu paus di Botubarani (Gorontalo) atau Teluk Saleh.
Begitu pula di Papua, khususnya Teluk Cenderawasih, yang sejak dimulainya wisata ini pada 2011, kini menarik ribuan wisatawan setiap tahun.
Ke depan, perlu riset lebih lanjut untuk mengetahui apakah kebiasaan memberi makan hiu paus di bagan ini berdampak negatif pada perilaku makan alami, serta kesehatan raksasa berdarah dingin ini akibat terpapar suhu air yang relatif hangat dalam waktu lama.
Perbaikan kualitas bagan dan perketat aturan wisata
Wisata hiu paus tentu bisa mendukung ekonomi lokal, namun dapat berdampak negatif pada hiu paus jika aturan interaksi tidak ditegakkan dengan ketat.
Aturan wisata hiu paus sebenarnya sudah ada, seperti menjaga jarak aman (2 meter dari tubuh dan 3 meter dari ekor), membatasi jumlah wisatawan (1 kapal per bagan dengan batas 1 grup berisi wisatawan dan 1 pemandu), larangan mengejar dan memegang hiu paus, serta waktu interaksi maksimal 60 menit per grup.
Namun, aturan ini belum diterapkan sepenuhnya.
Selain memperketat aturan wisata, desain bagan juga perlu disesuaikan agar lebih ramah terhadap hiu paus. Misalnya, melapisi bagian bawah struktur bagan dan perahu dengan karet atau bahan halus untuk mengurangi risiko gesekan dengan sirip hiu paus. Selain itu, tali pancing sebaiknya tidak dibiarkan tergantung agar tidak menjerat hewan ini.
Dengan cara ini, nelayan bagan tetap bisa menangkap ikan dan memperoleh tambahan penghasilan dari wisata tanpa membahayakan hiu paus.
Untuk ikut memantau hiu paus, masyarakat umum, terutama wisatawan juga bisa berkontribusi mengirimkan potret hiu paus ke basis data nasional hiu paus melalui platform yang dikelola oleh Elasmobranch Institute Indonesia.![]()
Edy Setyawan, Lead Conservation Scientist, Elasmobranch Institute Indonesia
Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.

