Bentaratimur.id

Laba PT Vale Melonjak 31,68% di 2025, Kinerja Tetap Tangguh di Tengah Tekanan Harga Nikel

Bentara Timur – PT Vale Indonesia Tbk (INCO) mencatatkan performa keuangan yang tetap solid sepanjang 2025, meskipun dihadapkan pada pelemahan harga nikel global. Dilansir dari Kontan.co.id, perseroan membukukan pendapatan sebesar US$ 990,19 juta, tumbuh 4,18% secara tahunan dibandingkan US$ 950,38 juta pada tahun sebelumnya.

Sejalan dengan kenaikan tersebut, beban pokok pendapatan juga meningkat menjadi US$ 879,34 juta dari sebelumnya US$ 842,16 juta. Dari sisi operasional, beban usaha naik cukup signifikan menjadi US$ 52,18 juta dari US$ 38,25 juta. Beban lainnya turut meningkat menjadi US$ 12,71 juta dari US$ 9,87 juta, sementara pendapatan lain-lain hanya naik tipis menjadi US$ 3,92 juta dari US$ 3,72 juta.

Tekanan ini menyebabkan laba usaha turun menjadi US$ 41,43 juta, dibandingkan US$ 63,82 juta pada periode sebelumnya. Penurunan tersebut mencerminkan tingginya tekanan operasional sepanjang tahun berjalan.

Meski demikian, kinerja laba bersih tetap menunjukkan peningkatan yang signifikan. Hal ini didorong oleh faktor non-operasional, termasuk keuntungan dari perubahan nilai wajar aset derivatif yang berbalik positif menjadi US$ 16,57 juta, dari sebelumnya rugi US$ 19,94 juta. Pendapatan keuangan juga meningkat menjadi US$ 37,26 juta dari US$ 36,2 juta.

Selain itu, perusahaan mencatat keuntungan dari nilai wajar investasi saham sebesar US$ 6,68 juta serta kontribusi laba dari entitas asosiasi sebesar US$ 607.000. Dengan dukungan faktor-faktor tersebut, laba sebelum pajak meningkat menjadi US$ 94,53 juta dari US$ 74,06 juta. Setelah dikurangi pajak penghasilan sebesar US$ 18,47 juta, laba bersih INCO mencapai US$ 76,06 juta atau melonjak 31,68% dibandingkan tahun sebelumnya sebesar US$ 57,76 juta.

Dua Proyek Smelter Vale di Sulawesi Ditargetkan Beroperasi Akhir 2026

Presiden Direktur INCO, Bernardus Irmanto, menyampaikan bahwa kinerja operasional perusahaan sepanjang 2025 menunjukkan tren positif. Produksi nikel matte tercatat mencapai 72.027 metrik ton, meningkat dari 71.311 ton pada 2024.

Namun, secara triwulanan, produksi pada kuartal IV 2025 tercatat sebesar 17.052 ton, turun sekitar 12% dibandingkan kuartal III yang mencapai 19.391 ton. Penurunan ini dipicu oleh proses pembangunan kembali Furnace 3 yang dimulai pada November 2025 dan ditargetkan rampung pada Mei 2026.

Jika dibandingkan dengan kuartal IV 2024 yang mencapai 18.528 ton, produksi pada periode yang sama tahun ini juga sedikit lebih rendah. Kendati demikian, total produksi tahunan tetap mencatatkan peningkatan.

“Hasil ini mencerminkan komitmen berkelanjutan perusahaan dalam menjaga keandalan operasional dan mengelola produksi secara efisien sepanjang tahun,” ujar Bernardus.

Dari sisi komersial, penjualan bijih nikel saprolit juga menunjukkan kinerja positif. Sepanjang 2025, volume penjualan mencapai 2.316.023 wet metric tons (wmt), dengan kontribusi terbesar berasal dari Blok Bahodopi. Volume bulanan tertinggi tercatat pada Oktober sebesar 516.167 wmt.

Buruan Daftar, PT Vale Buka Lowongan Kerja untuk Posisi Enginer

Pengiriman nikel matte turut meningkat menjadi 73.093 ton dari sebelumnya 72.625 ton. Capaian ini mendukung perusahaan mempertahankan EBITDA sebesar US$ 228,2 juta, sedikit lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya.

Sementara itu, harga realisasi rata-rata nikel matte pada 2025 tercatat sebesar US$ 12.157 per ton, turun sekitar 7% dari US$ 13.086 per ton pada 2024. Meski berada dalam tekanan harga, peningkatan volume pengiriman dan kebijakan payability yang lebih baik berhasil menjaga pertumbuhan pendapatan.

Secara triwulanan, pendapatan pada kuartal IV 2025 mencapai US$ 284,8 juta, naik 2% dibandingkan kuartal sebelumnya, seiring pemulihan harga nikel yang moderat.

Dari sisi efisiensi, INCO berhasil menjaga biaya tetap kompetitif dengan mencatat unit biaya kas penjualan sebesar US$ 9.339 per ton, lebih rendah dibandingkan US$ 9.374 per ton pada tahun sebelumnya. Angka ini menjadi yang terendah dalam empat tahun terakhir, turun dari sekitar US$ 11.201 per ton pada 2022.

Untuk bisnis bijih nikel, biaya kas penjualan berada di kisaran US$ 17–US$ 19 per ton, termasuk royalti dan logistik. Pasokan bijih sepenuhnya berasal dari Blok Bahodopi, sementara Pomalaa masih dalam tahap uji coba sebelum produksi penuh yang dijadwalkan dimulai pada 2026.

Sepanjang tahun, perusahaan mengalokasikan belanja modal sebesar US$ 485,9 juta, meningkat 46% dibandingkan tahun sebelumnya. Investasi ini difokuskan pada pengembangan proyek strategis dan kebutuhan operasional berkelanjutan.

Ke depan, INCO terus memperkuat strategi melalui pengembangan proyek pertambangan dan hilirisasi bersama mitra. Proyek di Pomalaa telah mencapai progres sekitar 60%, sementara pembangunan fasilitas HPAL telah menyentuh sekitar 50% tahap konstruksi. Proyek ini ditargetkan mencapai penyelesaian mekanis awal pada triwulan III 2026.

“Seluruh inisiatif strategis dijalankan dengan disiplin keuangan yang pruden, tata kelola yang kuat, serta komitmen terhadap keberlanjutan jangka panjang,” tambah Bernardus.

Analis MNC Sekuritas, Raka Junico, menilai penjualan bijih nikel menjadi penopang penting kinerja perusahaan. Menurutnya, strategi ini mampu mengimbangi tekanan harga global dengan kontribusi penjualan bijih mentah sekitar US$ 102 juta.

Di sisi lain, Senior Teknikal Analis Sucor Sekuritas, Reyhan Pratama, menilai pergerakan saham INCO masih berada dalam tren naik, meskipun dalam jangka pendek mengalami koreksi.

“Koreksi diperkirakan masih berlanjut dengan potensi penurunan menuju area support di kisaran Rp4.800 hingga Rp5.000 per saham,” ujarnya.

Ia pun merekomendasikan investor untuk bersikap wait and see hingga fase koreksi mereda atau harga mendekati area support tersebut.

Dengan capaian tersebut, prospek INCO ke depan dinilai tetap menjanjikan, terutama dengan strategi ekspansi, efisiensi biaya, serta peluang pemulihan harga nikel global.