Bentaratimur.id

Menelisik Konsep Collective Care Ala Masyarakat Adat Kajang (Bagian 1)

  • Kementerian Kesehatan RI mencatat, saat ini sekitar 28 juta penduduk Indonesia mengalami masalah kesehatan mental. Kecemasan dan depresi menjadi keluhan yang paling banyak ditemukan. Isolasi emosional disinyalir menjadi sebab semakin tergerusnya kesejahteraan psikologis generasi muda.
  • Sementara itu, di pelosok Kajang, Bulukumba, Sulawesi Selatan, masyarakat adat Kajang tunduk pada ajaran hidup Tallasa Kamase-masea. Prinsip hidup dalam kesederhanaan yang melahirkan dukungan sosial,  terbukti mampu merawat mental masyarakat.
  •  Cohen & Wills dalam studinya “Stress, Social Support and Buffering Hypothesis” yang diterbitkan Psychological Bulletin, menemukan bahwa dukungan sosial berfungsi sebagai buffer atau pelindung yang mengurangi dampak stress pada kesehatan mental.
  •  Individu dengan dukungan sosial yang kuat mengalami tingkat depresi lebih rendah dan kemampuan adaptasi lebih baik ketika menghadapi tekanan. Di Kajang, dukungan sosial seperti itu tidak hanya ada, ia  tumbuh secara alami, turun temurun jauh sebelum istilah kesehatan mental dikenal luas. Tradisi yang mampu dipelihara oleh sebuah komunitas yang ditekan konflik lahan selama lebih dari 30 tahun.

Ritual yang Masih Terus Terjaga

MATAHARI masih sepenggal di atas kepala ketika halaman rumah panggung beratap rumbia itu sudah hidup. Riuh rendah suara orang-orang bersahutan memenuhi udara.

Asap tipis membumbung dari tungku perapian. Harum  masakan yang sudah matang bercampur  aroma kayu yang terbakar.

Panci-panci besar berjejer rapi  di atas 4 tungku perapian yang dibuat dari batu-batu sungai yang berwarna  hitam. Empat perempuan mengenakan pakain hitam tampak sibuk.  Butiran keringat mengalir di sela pelipis mereka karena terpapar cahaya perapian.

Perempuan pertama menanak nasi dalam panci besar berwarna hitam legam, tangan kanannya memegang kayu penusuk nasi sambil tangan kiri membuka tutup panci untuk memeriksa tingkat kematangan. Putihnya nasi yang mengembang terlihat jelas ketika udara panas keluar dari dalam panci, membawa aroma tepung yang manis.

Tallasa Kamase-masea dan Rahasia Ketahanan Mental Perempuan Adat Kajang (Bagian 2)

Perempuan kedua sedang merebus air dalam ceper besar. Jerigen berisi air dari sumur ia masukkan perlahan.  Air itu nantinya akan jadi bahan kopi dan teh. 

Di tungku ketiga, seorang perempuan sedang memanggang ikan dengan tempurung kelapa kering yang dibakar hingga menjadi bara merah menyala. Kulit ikan yang mulai menghitam mengeluarkan aroma gurih yang menusuk hidung.

 Di terakhir, seorang perempuan muda, sedang memarut kelapa tua. Tangan kanannya mendorong kelapa turun naik ke parutan, sementara tangan kiri menahan parutan  agar tidak jatuh.

Santan kelapa yang keluar perlahan ia taruh dalam sebuah wadah, siap untuk dijadikan bahan masakan atau campuran kue tradisional.

Tak jauh dari sana, sepuluh lelaki berusia antara 50 hingga 60 tahun meraut dan mengikat bilah-bilah bambu seukuran betis orang dewasa. Mereka mengenakan pakain hitam dipadu pacaka—celana pendek putih diatas lutut—serta tope le’leng (sarung hitam) yang melilit di pinggang. Pasapu —penutup kepala berwarna hitam khas masyarakat adat Kajang menutupi rambut mereka.

Banjir Berulang Kepung Kendari, Warga Tuntut Solusi Permanen

Di sudut lain halaman, 20-an lelaki lebih muda bekerja tanpa banyak bicara. Ada yang memotong kayu, membelah bambu hingga mengangkat tiang-tiang penyangga. Yang muda tampil lebih sederhana: kaos berwarna gelap dan celana pendek selutut. Satu yang hampir sama dari tampilan para lelaki itu, di pinggang kiri mereka tersampir parang yang menjuntai begitu saja.

Menjelang pukul 10 pagi, pekerjaan pria selesai. Rupanya kesibukan hari itu karena ada abbaju barung-barung — membuat pondok tambahan dari bambu untuk pabbunting bahine (acara pernikahan), yang akan menjadi tempat perjamuan para tamu saat pesta berlangsung.

Usai bekerja, para lelaki tua dan muda menempati pondok bambu itu untuk melepas lelah sambil berbincang, bercengkrama dan tertawa. Tak lama berselang, para perempuan yang sudah menyelesaikan masakannya datang menyuguhkan gelas-gelas berisi teh dan kopi serta bermacam-macam kue.

Kesibukan hari itu bertempat di rumah milik Hode. Tiga hari lagi ia akan menggelar pernikahan  putrinya dengan seorang pemuda asal Kajang luar.

Suasana hangat pagi itu bukan sekadar menunjukkan persiapan sebuah hajatan, melainkan juga peristiwa yang memperlihatkan bagaimana gotong royong di tanah adat Kajang bekerja.

Panci-panci besar berisi aneka masakan untuk persiapan prosesi adat Kalomba, prosesi buang sial bagi anak-anak masyarakat adat suku Kajang. (Foto: Rosniawanti)

Tradisi Saling Menopang

Tradisi saling menopang dalam komunitas suku Kajang salah satunya dikenal dengan istilah Pa’solo, yakni kebiasaan memberikan bantuan uang atau kebutuhan lain saat seseorang membutuhkan. Hajatan, misalnya. Biaya penyelenggaraan hajatan yang sering dianggap terlalu besar di suku Kajang,  biasanya dipikul bersama agar meringankan. 

Namun, bantuan tidak melulu hadir dalam bentuk materi.  Kehadiran kerabat jauh hari sebelum acara berlangsung juga sangat dihargai. Mereka membantu memasak, mendirikan tenda, menyiapkan perlengkapan, hingga menyelesaikan berbagai pekerjaan yang diperlukan. Dukungan serupa juga hadir dalam banyak aspek kehidupan suku Kajang, seperti saat membangun rumah, kedukaan, hingga kelahiran.

Sejumlah perempuan di Desa Bonto Baji, Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, tengah mempersiapkan aneka makanan tradisional untuk prosesi adat Kalomba, yang diperuntukan bagi anak-anak masyarakat adat Suku Kajang. Kalomba diyakini sebagai ritual pembuang sial. (Foto: Rosniawanti)

Sistem itu bekerja seperti tabungan sosial yang terus berputar. Ketika seseorang membantu hari ini, bantuan yang sama akan kembali kepadanya saat dia membutuhkan. Inilah yang disebut “social capital” oleh Putnam dalam bukunya “Bowling Alone: The Collapse and Revival of American Community. Social Capital merupakan istilah yang merujuk pada jaringan kepercayaan, norma dan kerjasama dalam komunitas yang memungkinkan  anggota saling membantu perhitungan instan. Penelitian Putnam menunjukan bahwa social capital  berfungsi sebagai mekanisme protektif yang mengurangi rasa terisolasi dan meningkatkan ketahanan psikologis komunitas.

Ritual Komunal Dimata Gen-Z Suku Kajang

Pagi di pertengahan Maret 2026, di salah satu lobi hotel di Kota Makassar, Bentara Timur menemui Andi Tenrinia Asmanur yang tengah duduk di depan layar laptop. Dua lesung pipi di wajah perempuan muda itu sesekali terlihat ketika ia berbicara dengan suara dari ujung telepon seluler miliknya.

Ia akrab disapa Tenri, berusia 29 tahun dan merupakan dosen muda di Sekolah Tinggi Agama Islam Bulukumba dan lulusan Magister Linguistik Universitas Hasanuddin. Sebelumnya ia menempuh pendidikan sarjana di Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar. Laiknya anak muda generasi Z pada umumnya, sehari-harinya Tenri disibukkan dengan bekerja. Ia juga aktif menggunakan media sosial, nongkrong di kafe dan berorganisasi.

Tenri mewakili sebagian generasi Z suku Kajang yang telah tersentuh modernisasi. Baginya, modernisasi tidak mungkin ditolak karena dunia terus berubah dan teknologi selalu berkembang. Namun, Tenri percaya tidak semua modernitas berarti lebih baik dan perlu diikuti.

Menurut Tenri ada satu praktik baik yang masih dilakukan hingga saat ini oleh komunitas adat Kajang, yakni dukungan yang datang tanpa diminta. Dukungan itu hadir mengiringi hampir di setiap fase kehidupan dari mulai  baca doang  (pembacaan doa), pernikahan, kelahiran, panen dan ritual adat lainya.

 “ Kalau ada keluarga punya acara, kita pasti datang. Mau tidak mau kita hadir untuk membantu. Bukan Sekadar untuk penuhi undangan, di sana kita bantu memasak, bersih-bersih atau kalau tidak ada pekerjaan yah hanya datang duduk saja,”  kata Tenri.

Bagi masyarakat Kajang, ritual menjadi alasan kuat orang-orang untuk datang. Mereka ingin berkumpul bersama, tertawa, bercengkrama, bertukar cerita dan melakukan hal-hal sederhana lainya. Di sanalah cerita dibagikan, beban dibicarakan dan kesedihan perlahan diurai. Ritual menjadi ruang sosial yang mempertemukan banyak orang. Menurut Tenri, dari sanalah dukungan sosial atau istilah bekennya collective care muncul.

Ritual Komunal sebagai Ruang Penyembuh Trauma

Tenri meyakini berbagai ritual adat yang masih dijalankan masyarakat Kajang memiliki fungsi yang lebih dalam daripada yang sering dipahami orang luar— termasuk bagi mereka yang pernah mengalami luka akibat konflik agraria berkepanjangan.

Masyarakat adat Kajang memiliki sejarah konflik lahan yang panjang dengan perusahaan perkebunan PT Lonsum (PT. London Sumatra) Indonesia. Perusahaan perkebunan karet ini beroperasi di wilayah Bulukumba sejak tahun 1919. Tersebar di 4 kecamatan yakni Ujung Loe, Kajang, Herlang, dan Bulukumpa dengan luasan mencapai 5.784 hektar.

Status tanah adat warga Kajang yang tumpang-tindih dengan Hak Guna Usaha (HGU) PT Lonsum melahirkan konflik berdarah yang panjang. Tahun 2003, bentrokan antara aparat kepolisian menyebabkan 2 warga suku Kajang meninggal dunia dan puluhan orang masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO).  Perempuan, anak-anak, dan keluarga korban ikut menanggung dampak psikologis yang tidak kecil. Memupuk luka dan trauma yang hidup hingga saat ini.  Orang tua Tenri merupakan penyintas konflik itu.

Menurut Tenri, berbagai ritual adat dan ruang-ruang berkumpul yang terus hidup di komunitas menjadi salah satu cara masyarakat merawat ingatan sekaligus memulihkan diri dari trauma konflik masa lalu.

 “Acara-acara adat itu jadi ruang penyembuhan.”

 Tradisi saling membantu itu menjadi semacam jaring pengaman sosial yang membuat warga tidak merasa sendirian ketika menghadapi persoalan hidup.

Hamberger et al, dalam penelitian tentang “Community-Based Trauma Recovery among Indigenous Peoples” yang diterbitkan di Journal of Traumatic Stress, menemukan bahwa ruang sosial komunal seperti ritual, pertemuan dan aktivitas bersama memainkan peran penting dalam pemulihan psikologis karena menciptakan rasa aman, mengurangi isolasi dan memungkinkan cerita trauma dibagi tanpa kesepian.

Dalam ritual yang dijalankan secara komunal, masyarakat adat Suku Kajang juga mengenal tradisi Kelong Jaga, yakni bernyanyi bersama dengan dua tabuhan kendang  yang biasa dilakukan pada malam hari dalam sebuah hajatan. Bagi sebagian orang-orang Kajang, tradisi ini diyakini dapat menjadi terapi. 

Pun bagi Hama’, lelaki berumur 55 tahun yang juga salah satu pemangku adat sekaligus kepala dusun di Desa Benteng, Kajang Dalam, Kelong Jaga merupakan ruang pelepasan emosi. Di sela-sela nyanyian, warga biasa berbincang dan saling bertukar cerita. Tradisi seperti itu menjadi ruang sosial yang memungkinkan warga saling mendengar, saling menguatkan, sekaligus menjaga hubungan emosional.

 “ Berkumpul membuat perasaan senang. Suasana seperti itu selalu ki kita rindukan. Kalau pergi merantau paling lama tiga bulan sudah ingin pulang. Kalau ada pesta kumpul, tertawa itu memberi energi,” Kata Hama.

Hama (55) Kepala Dusun Desa Benteng di kawasan adat Ammatoa, menjadikan Kelong Jaga sebagai salah satu cara pelepasan emosi ketika sedang ditimpa masalah. Hama sendiri merupakan seniman Kelong Jaga di masyarakat adat suku Kajang. (Foto: Rosniawanti)

Bagi penyintas konflik, pemulihan tidak selalu datang melalui layanan psikologis formal. Sebaliknya ruang-ruang komunal yang tercipta melalui ritual adat, kunjungan keluarga, gotong royong dan pertemuan-pertemuan kampung menjadi bagian penting dari proses penyembuhan kolektif. Kehadiran komunitas menciptakan rasa aman bahwa seseorang tidak menghadapi penderitaanya sendirian.

 Tantangan Gen-Z Suku Kajang Menjaga Ritual

Sebagai perempuan adat Kajang, Tenri berada di antara dua dunia, modernitas dan nilai-nilai adat yang diwariskan leluhurnya. Ia mengaku pernah mengalami masa ketika ia malu memperkenalkan dirinya sebagai perempuan adat Kajang. Ia mengingat berbagai stereotip yang kerap dilontarkan pada sukunya.

 ” Ada istilah torrajangang, emm…kurang lebih artinya bodoh. Kalau bilang ki dari suku Kajang, emm kita dibilang ikh  dia itu torrajangan.  Orang Kajang juga  itu dibilangi terbelakang, punya pa’doti (ilmu sihir hitam) ndak pakai sendal dan hal negatif lainya.” Kata Tenri.

Pelabelan itu sempat menggerus rasa percaya dirinya. Namun, perasaan itu berubah setelah ia bergabung dalam berbagai forum perempuan adat. Di sana ia mulai memahami identitas adat bukanlah sesuatu yang harus disembunyikan. Sebaliknya identitas menyimpan pengetahuan dan nilai yang justru dicari banyak orang.

Menurut Tenri, salah satu tantangan  terbesar generasi muda Kajang hari ini bukan hanya menjaga ritual atau tradisi. Yang jauh lebih penting adalah menjaga kebanggaan terhadap identitas mereka sendiri.

 “Kita harus tahu dulu kekuatan kita sebagai perempuan adat, kalau kita tahu siapa diri kita, tahu peran dan kekuatan, maka kita akan berusaha mewariskan itu”.

Selain Pa’solo atau konsep saling berbagi, suku Kajang juga mengenal Si Sare-sare dan Si Turu-turugi yakni prinsip saling menjaga dan kerjasama yang dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

 “Kita punya pengetahuan tradisional, di Kajang ada namanya Si turu-turugi—kerjasama.”

 Tenri mengingat pengalaman ketika ia melahirkan anak pertamanya.

 Ia merasakan bagaimana dukungan itu hadir. Saat kedua orang tuanya sibuk bekerja, ayahnya ke kebun dan ibunya mengajar di sekolah, tetangga-tetangganya yang juga komunitas adat Kajang datang bergantian.

 Ada yang membawakan daun katuk untuk membantu produksi ASI.

Ada yang datang hanya untuk menemani berbincang.

 ”Datang menjenguk dan hanya mengobrol saja sebenarnya itu sudah membuat hati senang, merasa ki diperhatikan,” ujar Tenri yang saat ini aktif dalam organisasi Perempuan AMAN (Aliansi Masyarakat Adat Nusantara)  sebuah organisasi yang memperkuat peran perempuan adat dalam menjaga pengetahuan, budaya dan hak-hak komunitasnya.

 Hal-hal itu terlihat sederhana. Namun dalam kajian psikologi komunitas kehadiran sosial merupakan salah satu faktor penting dalam mencegah isolasi emosional yang sering menjadi pemicu gangguan kesehatan mental.

Sebagai generasi Z dari perempuan adat Suku Kajang, Andi Tenrinia Asmanur (29), melihat trasnformasi pelan-pelan masuk dan mulai menggerus identitas perempuan adat suku Kajang. Kunci perubahan itu adalah mengenali dan bangga pada identitas sebagai perempuan adat. (Foto: Rosniawanti)

Cohen & Wills dalam buku The Social Ecology of Resilience: A Handbook of Theory and Practice” menegaskan bahwa ketahanan psikososial komunitas dibangun dari jaringan dukungan informal yang memungkinkan individu tidak menghadapi kesulitan sendirian. Penelitian ini menunjukan bahwa collective care atau perawatan kolektif menjadi fondasi utama kesehatan mental komunitas.

 Di Kajang dukungan seperti itu tumbuh secara alami. Bahkan ketika rumah Tenri kedatangan tamu, sementara anggota keluarganya sedang tidak berada di rumah, tetangga dapat masuk ke dapur untuk memasak atau membuat kopi bagi para tamu.

 ”Kalau di kota sulit membayangkan minta tetangga yang bukan keluarga ta mo datang ke rumah untuk memasak. Tapi di sini itu biasa.”

 Perempuan Sebagai Aktor Utama Collective Care

Dukungan kolektif dalam masyarakat adat Kajang sering datang melalui tangan-tangan perempuan. Dalam setiap acara, perempuan biasanya sibuk menyiapkan makanan tradisional seperti kampalo, baje, ruhu-ruhu, kue merah serta berbagai sajian  yang disusun dalam wadah-wadah tradisional seperti tide dan kappara.

Menurut Zulfikarni Bakri, peneliti muda lulusan program magister Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, yang berfokus pada isu perempuan adat, ketahanan masyarakat Kajang tidak hanya bertumpu pada struktur adat yang terlihat. Ada kekuatan lain yang bekerja diam-diam. Kekuatan itu tumbuh di dapur, di ruang makan, di kebun, di sumur dan dalam percakapan-percakapan panjang dan interaksi sederhana antara perempuan

 ”Kalau kita hanya melihat struktur formal adat, kita akan menemukan banyak ketimpangan yang terlihat patriarkis,” kata Zulfikarni. ”Tapi kalau kita melihat struktur yang tidak terlihat justru di sanalah perempuan punya pengaruh besar.”

Zulfikarni Bakri. (Foto: Rosniawanti)

Selama meneliti masyarakat adat Kajang, Zulfikarni menemukan bahwa figur perempuan adat yang dikenal sebagai Anrongta memang memiliki posisi penting dalam ritual adat. Namun, peranya tidak otomatis menjangkau seluruh persoalan yang dihadapi perempuan.

Dalam berbagai kasus kekerasan seksual, pernikahan anak atau persoalan rumah tangga yang sering muncul justru bukan struktur adat formal, melainkan perempuan-perempuan yang memiliki pengetahuan, pengalaman, kepedulian terhadap sesama. Mereka bisa seorang guru, aktivis komunitas, anggota organisasi perempuan atau sekadar tetangga yang dipercaya.

 ”Kalau ada perempuan yang punya masalah, biasanya dia datang ke orang yang dianggap bisa mendengar dan membantu. Mereka cerita, nah dari situlah dukungan muncul.”

Menurut Zulfkarni, praktik saling mendukung itu berlangsung secara organik dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Perempuan tidak hanya berkumpul untuk memasak atau menyiapkan kebutuhan keluarga. Di balik aktivitas domestik itu, mereka bertukar cerita, berbagi pengalaman dan mencari jalan keluar atas berbagai persoalan yang mereka hadapi.

 “ Mereka itu masyarakat yang suka bercerita.”

Pagi hari sebelum berangkat ke kebun, para perempuan biasanya sudah berada di dapur dan sumur sejak subuh. Mereka menyiapkan makanan, membuat minuman hangat dan mengurusi pekerjaan rumah tangga. Pada saat itulah percakapan berlangsung.

Mereka membahas anak-anak, keluarga, persoalan ekonomi, konflik rumah tangga hingga masalah yang sedang dihadapi. Percakapan serupa berlanjut ketika mereka bekerja di kebun atau saat berkumpul kembali menjelang sore.

 “Kadang kita menganggap itu cuma ngobrol biasa. Tapi sebenarnya disitulah mereka saling memberi dukungan,” ujar Zulfikarni.

Dalam ruang-ruang yang tampak sederhana itu, perempuan saling menguatkan satu sama lain. Ketika seorang perempuan mengalami tekanan karena dinikahkan pada usia muda, misalnya, ia, biasanya mencari orang yang dipercaya untuk bercerita.

Perempuan yang lebih berpengalaman kemudian mendekati keluarga secara perlahan, menjelaskan pentingnya pendidikan dan masa depan anak perempuan. Pendekatanya tidak konfrontatif.

 “Biasanya mereka datang baik-baik ke orang tuanya. Mereka bilang, coba dipikirkan lagi, lebih baik anaknya sekolah dulu.”

Model pendampingan seperti ini mungkin tidak tercatat dalam dokumen adat atau laporan resmi pemerintah. Namun dalam praktiknya, mekanisme tersebut menjadi salah satu cara komunitas saling melindungi.

 ”Ia bekerja melalui relasi sosial, kedekatan emosional dan rasa saling percaya. Menurut saya disitulah kekuatan perempuan Kajang.” Tambahnya

Pengaruh perempuan bahkan tidak berhenti di ruang domestik. Cerita-cerita yang lahir di dapur sering kali ikut membentuk percakapan dalam keluarga. Saat makan bersama perempuan membagikan apa yang mereka dengar, pikirkan dan rasakan bersama suami maupun anak-anak mereka.

Laki-laki kemudian duduk dalam forum adat atau pertemuan komunitas tidak datang sebagai individu yang terpisah dari keluarga. Mereka membawa pengalaman, cerita dan pertimbangan yang terbentuk dari interaksi sehari-hari di rumah.

 “Jadi sebenarnya, suara perempuan tidak pernah benar-benar hilang. Kadang suara itu tidak muncul secara formal dalam rapat adat, tapi dia hadir melalui percakapan-percakapan yang membentuk cara berpikir komunitas,” jelas Zulfikarni.

 

Rumah warga masyarakat adat Kajang di Desa Bonto Baji, Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba. Berbeda dengan kawasan adat Ammatoa di Kajang Dalam, masyarakat yang tinggal di luar kawasan adat telah menggunakan listrik, peralatan elektronik, dan kendaraan bermotor dalam aktivitas sehari-hari. Meski sudah bersentuhan dengan modernitas, mereka tetap mempertahankan hubungan sosial dan nilai budaya adat Kajang. (Foto: Rosniawanti)

Karena itulah ia melihat masyarakat Kajang tidak bisa dipahami hanya melalui pemisahan kaku antara ruang publik laki-laki dan ruang domestik perempuan. Keduanya saling memengaruhi keputusan komunitas. Cerita sehari-hari menjadi bagian dari proses menjaga kehidupan bersama.

Dalam bahasa akademik, praktik semacam itu disebut bentuk collective care atau perawatan kolektif. Dan bagi masyarakat adat Kajang itu bukan konsep baru. Itu adalah cara hidup yang telah berlangsung turun temurun.

Cara hidup yang membuat seseorang tidak pernah menghadapi kesulitan sendirian. Cara hidup yang memungkinkan luka dibagi, beban dipikul bersama dan persoalan diselesaikan melalui hubungan sosial yang terus dirawat.

Dalam masyarakat Kajang, ikatan itulah yang menjaga orang tetap bertahan. Dan sering kali, penjaga pertama dari ikatan itu adalah perempuan-perempuan yang duduk di dapur, menyeduhkan teh hangat lalu mendengarkan cerita satu sama lain hingga malam tiba.

Bersambung…

 Acknowledgement : Liputan ini terselenggara atas dukungan dari Internews -Earth Journalism Network (EJN)