Saraoh, Anyaman Penutup Kepala Khas Suku Bajo yang Terancam Punah

Ketgam : Nujia, perempuan Bajo di Kabupaten Konawe, membuat Saroa, topi dari anyaman daun nipa. Ketgam : Jum Nurdin

Bokori. Bentaratimur – Saat melaut nelayan Suku Bajo kerap menggunakan penutup kepala untuk melindungi diri dari sinar matahari. Mereka menyebut penutup kepala tersebut saraoh, anyaman yang terbuat dari daun nipah.

Penutup kepala ini menjadi salah satu hal penting bagi nelayan suku Bajo. Tak heran hampir semua nelayan memiliki saraoh di perahunya.

Tak hanya digunakan oleh para nelayan, ibu-ibu suku Bajo juga sering memakai saraoh saat beraktivitas di bawah terik matahari, misal saat menjemur pakaian, menjemur sagu, mengangkat air, atau menjemur ikan asin.

Untuk membuat saraoh, daun nipah terlebih dulu dijemur hingga betul-betul kering. Setelah kering, daun nipah dipotong sesuai ukuran yang diinginkan.

Selanjutnya potongan daun nipah tersebut dijahit helai demi helai menggunakan tali rapia sehingga membentuk lingkaran. Agar ujungnya keras dan membentuk lingkaran sempurna, digunakan rotan sebagai rangkanya.

Usai membentuk lingkaran, bagian atasnya kembali dilapisi dengan daun nipah. Caranya sama seperti pertama, yaitu dijahit. Ini bertujuan agar penutup kepala lebih tebal dan tidak gampang rusak.

Pada tahap ini, untuk mempercantik tampilan, selain daun nipah, juga digunakan sampah plastik bekas seperti bungkusan detergen atau perlak bekas yang diselipkan di sela-sela daun nipah dan dijahit.

Terkahir barulah dibuat bagian kepalanya. Setelah itu, dijahit hingga membentuk penutup kepala yang sempurna.

Salah satu perajin saraoh yang masih eksis adalah Nujia (65), warga Desa Bajoe, Kecamatan Soropia, Kabupaten Konawe. Ia bahkan menjadikan saraoh sebagai salah satu sumber penghasilan tambahan.

Kemarau, Warga Bajo di Pesisir Soropia Kesulitan Air Bersih

Nujia membanderol satu buah saraoh seharga Rp30.000. Ia tak menjajakannya, tapi menunggu sang pembeli datang sendiri ke rumahnya.

Kadang juga tetangganya yang menjual ikan kering di Konawe Selatan memborong saraoh buatannya untuk dijual kembali. Saat itulah ia bisa mendapatkan Rp200 ribu sampai Rp300 ribu, tergantung berapa banyak yang bisa ia hasilkan.

Nujia bercerita sudah lama menjadikan anyaman saraoh ini sebagai sumber penghasilan tambahan. Satu saraoh, ia biasa membutuhkan waktu dua sampai tiga hari.

Selain penutup kepala, ia juga mahir membuat anyaman tikar dari daun nipah. Namun tikar kini tak begitu diminati lagi karena sudah ada tikar plastik yang harganya lebih murah ketimbang tikar anyaman.

Nujia kini membuat tikar hanya untuk keperluan pribadi saja. Ia baru akan membuat tikar jika ada yang memesan.

Nujia mengaku keterampilan menganyam tersebut ia pelajari secara otodidak bersama teman-teman sepermainannya dulu saat masih bermukim di Pulau Bokori, pulau yang kini menjadi objek wisata andalan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra).

“Belajar dari orang tua dulu, lihat-lihat ketika mereka menganyam, terus sama teman-teman kita praktekkan. Dulu waktu masih di Pulau Bokori, kita anak-anak gadis ada yang belajar menganyam, belajar menjahit, sama belajar menyulam juga,” terang Nujia saat ditemui ketika menganyam saraoh di rumahnya, Rabu (4/10/2023).

Ukuran saraoh biasanya hanya untuk orang dewasa, namun biasa ada juga yang memesan untuk anak mereka sehingga ukurannya juga disesuaikan dengan ukuran kepala anak kecil.

“Dulu biasa satu bodi (perahu) kita jual di Kendari,” kenangnya.

Sayangnya, anyaman saraoh ini terancam punah. Pasalnya, tak ada lagi generasi muda yang mencoba mempelajarinya.

“Anak-anak sekarang ndak ada yang mau belajar, yang pintar bikin ini (saraoh) sudah tua semua, ada juga yang sudah meninggal,” tutur Nujia.

Penulis : Jum Nurdin