Kendari. Bentara Timur – Wakil Gubernur Sulawesi Tenggara Hugua menekankan pentingnya pendekatan ekoteologi dalam pengelolaan sumber daya alam agar pembangunan ekonomi tidak mengorbankan keberlanjutan lingkungan dan kehidupan masyarakat.
Pesan tersebut disampaikan Hugua saat membuka Forum Ekonomi Regional Sulawesi Seri VII 2026 di Universitas Islam Negeri (UIN) Kendari, Rabu (26/8/2026). Forum yang diinisiasi Kabar Grup Indonesia itu mengangkat tema “Mewujudkan Pengelolaan Sumber Daya Alam Berbasis Ekoteologi”.
Menurut Hugua, pendekatan ekoteologi relevan di tengah tekanan terhadap lingkungan yang muncul bersamaan dengan percepatan pembangunan dan modernisasi. Pengelolaan kekayaan alam, kata dia, tidak cukup hanya mempertimbangkan aspek ekonomi, tetapi juga harus memperhatikan dimensi spiritual, sosial, dan ekologis.
“Forum ini sangat istimewa karena membincangkan ekoteologi, yang berarti kita berbicara tentang keterkaitan mendasar antara Tuhan, ekosistem, dan masyarakat,” ujar Hugua.
Ia menjelaskan, ekoteologi mempertemukan nilai spiritual dengan perkembangan ilmu pengetahuan dalam melihat hubungan manusia dan alam. Karena itu, konsep tersebut dapat menjadi pijakan moral bagi pemerintah, pemangku kebijakan, maupun pelaku industri dalam mengelola sumber daya alam.
Hugua menilai kemakmuran suatu daerah maupun negara tidak semestinya dibangun melalui eksploitasi sumber daya alam semata. Menurut dia, kekayaan alam harus dikelola dengan tetap menjaga keseimbangan ekosistem dan kualitas kehidupan masyarakat.
“Jika suatu negara ingin makmur, tugas kita adalah menjaga sumber daya alam dan batin masyarakat. Ekoteologi menjadi landasan bagi tata kelola kekuasaan dan hukum agar kemakmuran masyarakat tercapai tanpa merusak keseimbangan lingkungan,” katanya.
Alam Bukan Sekadar Objek Eksploitasi
Pandangan serupa disampaikan Menteri Agama Nasaruddin Umar yang hadir secara virtual sebagai pembicara utama dalam forum tersebut.
Nasaruddin mengatakan ekoteologi menempatkan Tuhan, manusia, dan alam sebagai tiga unsur yang memiliki hubungan tidak terpisahkan.
“Ekoteologi adalah integrasi yang harmonis antara tiga komponen, yaitu Tuhan, manusia, dan alam semesta. Ketiganya tidak dapat dipisahkan satu sama lain,” ujar Nasaruddin.
Menurut dia, cara pandang masyarakat terhadap alam perlu diubah. Alam tidak semestinya ditempatkan hanya sebagai objek untuk dieksploitasi demi memenuhi kebutuhan manusia, melainkan sebagai bagian dari kehidupan yang keberlangsungannya harus dijaga.
Perubahan cara pandang tersebut dinilai penting karena keputusan manusia dalam memanfaatkan sumber daya alam tidak hanya berdampak pada kondisi lingkungan saat ini, tetapi juga menentukan kualitas kehidupan generasi mendatang.
“Kita perlu mengubah pola pikir secara mendasar. Mari kita gunakan pendekatan agama untuk menumbuhkan kesadaran lingkungan, agar kita tidak mengorbankan masa depan generasi penerus dan ekosistem bumi,” katanya.
Forum Ekonomi Regional Sulawesi Seri VII kemudian menjadi ruang untuk mempertemukan perspektif ekonomi, lingkungan, keagamaan, dan kebijakan dalam melihat pengelolaan sumber daya alam.
Di Sulawesi Tenggara, isu tersebut memiliki relevansi kuat mengingat perekonomian daerah banyak bertumpu pada pemanfaatan sumber daya alam. Tantangannya bukan hanya bagaimana menciptakan nilai ekonomi dari kekayaan alam, tetapi juga memastikan aktivitas pembangunan tidak meninggalkan kerusakan ekologis dan persoalan sosial yang harus ditanggung masyarakat.

