Kendari. Bentara Timur – Di salah satu sudut Pasar Rabam, Jalan Ahmad Yani, Kota Kendari, Imam (49) duduk di atas kursi kayu kecil. Tangannya telaten mengoleskan lem pada sol sepatu gunung yang mulai renggang. Tanganya seperti seorang mekanik yang sedang menyetel mesin balap.
Di sekelilingnya, ratusan pasang sepatu outdoor atau hiking aneka merek luar negeri tergantung, berjejer rapi, menanti babak kedua di kaki pemilik baru.
Pria asal Jawa ini adalah satu dari sekian banyak pedagang di Kota Kendari yang bergantung pada bisnis barang rombengan alias RB, istilah beken yang diberikan warga Kendari untuk barang bekas impor beragam rupa, mulai dari baju, celana, sepatu, tas, topi bahkan sabuk/ikat pinggang.
Bagi warga Kendari, berburu RB bukan sekadar belanja, melainkan seni menemukan kemewahan dan keunikan.

Pemandangan di Pasar Rombengan Baru (RB), Jalan Ahmad Yani, Kota Kendari. Deretan lapak yang dulunya menjadi pusat perputaran ekonomi kini kosong dan tak berpenghuni. Fenomena ini menandai kemerosotan drastis jumlah pelaku usaha di sana, dari ratusan pedagang yang pernah memadati pasar, kini hanya tersisa sekitar 20 orang yang masih berupaya bertahan di tengah kelesuan pasar. Foto : Rosniawanti
Imam memulai usahanya saat pandemi Covid-19 menghantam pada 2021, masa ketika banyak orang kehilangan pegangan dan beralih mencari peruntungan baru.
Saat itu semua serba sulit dan aktivitas terbatas tapi hobi naik gunung dan olahraga outdoor justru meningkat karena orang jenuh di rumah. Di situlah Imam melihat peluang bisnis sepatu hiking
Pelanggan Imam datang dari ragam kalangan. Dari lapak sederhana berukuran 3X3 meter itu, pembelinya datang dari anak muda pecinta alam, hingga pejabat daerah.
“Ada anggota dewan sampai kepala daerah. Mereka tidak ke pasar, biasanya hanya telepon tanya kalau ada barang baru dan bagus, saya tinggal foto dan saya antarkan ke rumah mereka,” terang Imam saat ditemui di pekan ketiga Januari 2026.
Di balik debu pasar dan aroma khas barang impor, tersimpan perputaran uang yang menggiurkan.
Namun, dibalik bisnis dan keuntungan menggiurkan barang RB ini, Imam menyimpan cerita tidak menyenangkan. Ia bukan dirampok oleh preman di lorong gelap, melainkan sosok tak kasat mata yang mengintai dari balik layar ponsel.
Kasus itu terjadi 5 tahuun lalu. Bermula dari layar ponsel miliknya yang menampilkan siaran langsung (live) Facebook. Saat itu, sebuah akun menawarkan puluhan pasang sepatu dengan harga yang sangat tidak masuk akal Rp100.000 per pasang. Saat menanyakan apakah masih mengingat nama akun Facebook itu, Imam menyebut sudah tak ingat lagi.
Melalui layar itulah, para pedagang dari seluruh pelosok Indonesia beradu cepat mengamankan stok terbaik. Suatu sore, Imam memantau sebuah akun penjual sepatu outdoor yang tengah siaran langsung. Akun tersebut meyakinkan, pengikutnya ribuan, dan interaksinya hidup.
Imam, yang saat itu berambisi menambah stok, terpikat. Ia lantas menuliskan nomor teleponnya di kolom komentar. Sebuah kesalahan kecil yang menjadi pintu masuk bagi predator informasi. Sesaat setelah siaran berakhir, sebuah pesan WhatsApp masuk. Sang pengirim mengaku sebagai admin dari toko tersebut.
“Hanya beberapa menit setelah live selesai, ada WhatsApp masuk. Dia mengaku admin dari toko itu. Saya tidak curiga karena dia memperlihatkan rekaman live Facebook tadi, jadi saya transferlah dananya, nilainya sampe jutaan” kenang Imam dengan suara rendah.
Tanpa disadari, Imam sedang berkomunikasi dengan “admin palsu” yang memanen nomor telepon dari kolom komentar akun asli. Sang penipu yang mengaku admin bukanlah amatir. Ia menggunakan teknik disinformasi identitas atau impersonasi. Pada akhirnya dana untuk 23 pasang sepatu ditransfer ke rekening admin palsu, namun barang yang dinanti tak pernah sampai ke Kendari. Imam baru menyadari dirinya kena “begal” digital.
”Banyak kejadian begitu istilah kami pedagang itu begal digital, jadi bukan hanya di dunia nyata ada begal,” katanya.
Akibat ‘begal digital’ tersebut, Imam kehilangan modal hingga lapaknya di Pasar Rabam sempat ia tutup beberapa saat, tanpa stok barang untuk beberapa waktu.
Namun, keputusasaan bukan pilihan bagi Imam. Dengan sisa semangat yang tersisa, ia memberanikan diri meminjam modal demi mendatangkan stok baru.

Sepatu hiking atau outdoor di lapak Imam (49) berjejer menunggu pemilik baru. Imam penyintas “begal” digital sudah berjualan selama 5 tahun. Foto : Rosniawanti
Bukan hanya Imam. Di lapak lainya di Pasar RB Rabam, Mama Fadil (40), pedagang tas dan sepatu impor yang sudah sembilan tahun berjualan, mengamini kerentanan ini.
Ia sendiri pernah menjadi korban penipuan saat memesan barang dari Batam yang memang dikenal sebagai surga barang impor, di mana jumlah barang yang datang tidak sesuai pesanan dan sang penjual tiba-tiba memutus kontak ketika dihubungi.
“Iya banyak saya dengar penipuan seperti itu, saya juga pernah punya kasus yang sama. Hari ini memang kami hati-hati dalam melakukan transaksi jual beli karena ya itu banyak penipuan dan pelakunya tidak berada di sini tapi entah di mana, kita hanya transaksi menggunakan HP,” tutur Mama Fadil.
Rahmawati, Activator Anti Scam Network Mafindo Kendari, mengungkapkan bahwa fenomena ini berakar pada rendahnya literasi digital dan kewaspadaan masyarakat yang kalah dengan sifat impulsif. “Kenapa bisa terjadi? Karena masyarakat tidak menyadari atau kita tidak aware terhadap jenis-jenis scam itu sendiri.
Kasus yang menimpa Imam, menurut Rahma adalah impersonasi dimana pelaku kejahatan siber kini sangat mahir memanfaatkan impersonasi sebuah tindakan menciptakan identitas palsu yang menyerupai otoritas atau pihak yang dipercaya.
Kelemahan fatal sering kali muncul saat komunikasi berpindah dari platform publik seperti Facebook ke platform pribadi seperti WhatsApp. Di ruang privat itulah, pelaku bebas melancarkan manipulasi tanpa terpantau oleh sistem keamanan platform asli atau moderasi komunitas.
Warga mudah mempercayai informasi tanpa mengecek rekam jejak penjualnya,” ujar Rahmawati kepada Bentara Timur.
Menurutnya, penipuan ini sering kali berhasil karena pelaku menggunakan teknik impersonasi atau penyamaran identitas. Warga terlalu mempercayai informasi tanpa mengecek rekam jejak penjualnya. Ketika ada penawaran menarik, logika verifikasi tidak berjalan.
“Seharusnya sebelum bertransaksi, kita harus melihat bagaimana track recordnya, Jangan impulsif,” tegasnya.
Tantangan Borderless bagi Kepolisian
Data dari Polda Sulawesi Tenggara mengonfirmasi bahwa “begal” digital dengan modus impersonasi ini kian agresif. Pada tahun 2024 tercatat 259 kasus penipuan belanja daring, dan angka itu melonjak menjadi 343 kasus pada 2025.
impersonasi adalah tindakan mencatut atau meniru identitas orang lain, tokoh publik, organisasi, atau otoritas tertentu dengan tujuan menipu, memanipulasi, atau mendapatkan keuntungan secara ilegal.
Kompol Deky dari Subdit V Tindak Pidana Siber (Tipidsiber) Polda Sulawesi Tenggara (Sultra) menjelaskan bahwa para pelaku kini bergerak secara lintas batas wilayah alias borderless.
“Koordinasi dengan penyedia platform digital, lembaga perbankan, serta instansi terkait lainnya membutuhkan waktu yang relatif tidak singkat, sehingga memperlambat proses pengungkapan,” jelasnya.
Polisi menghadapi tantangan besar karena pelaku menggunakan identitas anonim dan “rekening penampung” rekening milik orang lain yang diperjualbelikan untuk mengalirkan uang curian yang menyulitkan penelusuran identitas asli pelaku.
“Apakah mengidentifikasi adanya jaringan lokal di Sultra yang memperjualbelikan rekening? Sampai saat ini kita belum mendapatkan. Tapi belum mendapatkan itu belum tentu tidak ada,” tambah Deky.
Hal lain yang juga menjadi ganjalan yang disoroti oleh pihak kepolisian adalah masalah birokrasi dan yurisdiksi.
“Sebagian besar platform media sosial memiliki server di luar negeri. Ini memerlukan koordinasi lintas lembaga dan mekanisme bantuan hukum internasional yang tidak instan,” tambah Deky.
Belum lagi keterbatasan akses data perbankan yang harus melalui prosedur hukum ketat, membuat uang hasil kejahatan sering kali sudah ditarik tunai sebelum polisi sempat memblokir rekeningnya.
Dari Segitiga Hingga Love Scam
Selain modus impersonasi admin yang menimpa Imam, Kompol Deky juga memperingatkan tentang maraknya Penipuan Segitiga. Dalam skema ini, penipu mencuri iklan dari penjual asli, misalnya sebuah mobil, lalu memasangnya kembali dengan harga yang jauh lebih murah.
Penipu kemudian berperan sebagai perantara yang menipu pembeli agar mentransfer uang kepadanya, sementara ia meyakinkan penjual asli bahwa pembeli tersebut adalah saudaranya.
“Ini sangat rapi kejahatanya, mereke terorganisir dan ada sindikatnya. Penipu memanipulasi kedua belah pihak tanpa mereka pernah saling mengonfirmasi harga asli. Kami bahkan baru-baru ini membongkar kejahatan yang kerugianya sampe 1,2 miliar rupiah” kata Deky.
Di sisi lain, Rahmawati, menambahkan bahwa masyarakat juga harus waspada terhadap love scam dan phishing yang kini kian masif mengincar pengguna media sosial di Sulawesi Tenggara.

Seorang pedagang topi RB di pasar Rabam Kendari tengah menunggu pelanggan sembari bermain telepon genggam. Barang RB menjadi slaah satu komoditi perdagangan yang menghidupkan perekonomian warga Kota Kendari. Barang-barang RB ini diperkirakan masuk di Kendari sejak tahun 1980an di bawa oleh pelaut atau warga lokal yang merantau dari Batam, Tanjung Pinang atau Samarinda. Foto : Rosniawanti
Langkah Mitigasi
Menghadapi sindikat yang terorganisir, Rahmawati Arif menyarankan agar pemerintah hadir dengan strategi pencegahan yang lebih agresif melalui konten edukasi yang proaktif, bukan hanya reaktif setelah jatuh korban.
Pemerintah melalui Kominfo atau Pemda harus aktif menyebar konten edukasi mengenai jenis-jenis scam terbaru secara masif di media sosial maupun di titik-titik keramaian.
Di saat yang sama, komunitas-komunitas lokal baiknya aktif memberikan edukasi masuk ke lorong-lorong pasar dan ruang privat masyarakat untuk meluruskan mis/disinformasi yang sering kali membungkus kejahatan siber, sehingga literasi digital bukan lagi sekadar jargon, melainkan perlindungan nyata bagi warga.
“Penanganan selama ini cenderung reaktif, baru bergerak saat sudah jatuh korban. Pemerintah melalui Kominfo atau Pemda harus aktif menyebar konten edukasi atau flayer yang memberi tahu warga jenis-jenis scam terbaru,” pintanya.
Hal lain tambah Rahmawati yang juga berprofesi sebagai dosen di Universitas Halu Oleo Kendari itu, mendorong adanya sinkronisasi yang lebih baik antara pihak kepolisian dan institusi perbankan terkait data pelaku scam.
“Bank memang wajib menjaga data pribadi, tapi ketika terjadi scam, harus ada jalur cepat agar data pelaku bisa dibuka demi kepentingan penyidikan jika kasus sudah di tangan kepolisian,” jelas Rahmawati.
Mafindo sendiri telah menyediakan berbagai kanal bantuan seperti situs Cekfakta.com, Turnbackhoax.id, hingga Chatbat WhatsApp bernama Kalimasada untuk membantu warga memverifikasi informasi hoaks yang mereka terima. Namun, kata Rahma semua alat tersebut tidak akan berguna tanpa kesadaran dari individu itu sendiri.
Kini, Imam tetap bertahan di Pasar Rabam. Baginya, bisnis RB adalah soal kepercayaan. Ia berharap ceritanya menjadi pembelajaran bagi warga Kendari lainnya bahwa di balik layar telepon genggam, kejujuran dan tipu daya hanya dibatasi oleh satu klik yang tidak teliti.
Tips Agar Terhindar dari Jebakan Kejahatan Digital
Berdasarkan pengalaman para penyintas dan saran ahli, berikut panduan praktis agar Anda tidak menjadi korban berikutnya:
- Lindungi data pribadi. Jangan pernah menyematkan nomor telepon atau data pribadi di kolom komentar publik (Facebook/Instagram). Gunakan fitur Direct Message (DM) untuk berkomunikasi.
- Verifikasi identitas multi lapis. Jika seseorang mengaku sebagai admin, cek apakah nomor tersebut tertera di bio profil akun resmi penjual.
- Waspada harga tak masuk akal. Harga yang jauh di bawah rata-rata pasar (terlalu murah) sering kali merupakan umpan untuk menjerat korban secara impulsif.
- Gunakan fitur video call. Sebelum mentransfer uang dalam jumlah besar, mintalah penjual menunjukkan barang secara langsung melalui video call. Penipu biasanya akan menolak dengan berbagai alasan teknis.
- Periksa rekening tujuan. Pastikan nama pemilik rekening sesuai dengan nama toko yang terverifikasi. Anda bisa mengecek reputasi nomor rekening melalui situs seperti cekrekening.id
- Manfaatkan alat verifikasi. Gunakan layanan asisten WhatsApp Kalimasada dari Mafindo atau kunjungi Cekfakta.com untuk memverifikasi informasi yang mencurigakan.

