Bokori. Bentaratimur – Kemarau yang melanda Sulawesi Tenggara (Sultra) mengakibatkan kekeringan di sejumlah wilayah. Salah satunya wilayah pesisir Kecamatan Soropia, Kabupaten Konawe. Warga setempat pun mulai kesulitan mendapatkan air bersih.
Untuk air bersih, warga di wilayah pesisir Soropia seperti Desa Mekar, Desa Bajoe, Desa Bokori, Desa Leppe, dan Desa Bajo Indah memang mengandalkan air gunung, air sumur, dan sumur bor.
Air gunung ini dialirkan ke rumah warga menggunakan pipa atau selang. Satu selang bisa digunakan secara bergantian oleh 5 sampai 7 rumah tangga.
Ketika kemarau, beberapa sumber air ini mengering sehingga warga juga mulai kesulitan mendapatkan air bersih untuk keperluan memasak, mandi, dan mencuci. Sedangkan air minum, rata-rata warga setempat sudah menggunakan air galon.
Untuk mendapatkan air bersih di musim kemarau seperti ini, warga harus mengeluarkan tenaga ekstra, misal subuh-subuh sudah harus mengantre di sumur hanya untuk mendapatkan dua sampai lima jeriken air bersih berukuran 5 liter. Ada juga yang memilih mengangkat air saat hari terik.
Suhaeni misalnya, warga Desa Mekar ini bercerita sudah sekitar dua bulan dirinya mulai kesulitan mendapatkan air bersih karena sumber air yang diandalkannya selama ini sudah kering.
Ia terpaksa menumpang pada sumur tetangganya yang belum kering. Namun, karena banyak juga warga lainnya yang membutuhkan air sehingga mereka bergantian. Kadang sampai malam ia hanya mendapat dua baskom besar saja.
Angin Musim Selatan dan Aktivitas Menyuluh Perempuan Bajo
“Sekarang dari bangun tidur sampai mau tidur lagi yang diurus air,” ujar Suhaeni saat ditemui Senin (2/10/2023).
Ia pun berharap ada bantuan air bersih di desanya seperti desa tetangganya, Desa Bajoe.
Menurut Suhaeni, warga yang memiliki sumur bos masih bisa bernapas lega karena sumber airnya masih tersedia.
Selain sumur bor milik pribadi, di Desa Mekar juga sudah ada bantuan dua sumur bor yang saat ini sudah bisa digunakan. Hanya saja pemerintah desa setempat masih mengurus sistem perpipaan untuk dialirkan ke rumah warga.
“Kalau dibilang susah tidak juga, cuma memang sekarang biar tengah hari kita harus angkat air, tapi sumber airnya sudah ada, sumur bor. Hanya untuk disambung ke rumah kita harus beli pipa sendiri, nah beli pipanya ini yang belum ada uang,” ujar Ade Irma, warga Desa Mekar lainnya.
Di desa ini sebenarnya ada sumber air di pegunungan yang tak pernah kering meski musim kemarau. Air tersebut dialirkan menggunakan pipa ke spot tertentu. Di spot itulah warga berkumpul mengambil air, baik menggunakan perahu maupun motor.
Sumber air ini sudah digunakan warga berpuluh-puluh tahun silam. Namun, karena proyek pengerjaan jalan Kendari-Toronipa, spot tersebut ditimbun dan kini menjadi jalan.
Akhirnya sumber air tersebut dimanfaatkan oleh warga di dua desa lainnya, yaitu Desa Leppe dan Desa Bajo Indah.
Penulis : Jum Nurdin


