Bentara Timur – Kendari genap berusia 195 tahun pada Sabtu, 9 Mei 2026. Di usia yang nyaris mencapai dua abad, ibu kota Sulawesi Tenggara itu telah melalui perjalanan panjang dari kawasan pesisir kecil di tepian teluk, tumbuh menjadi kota pelabuhan, pusat pemerintahan, hingga perlahan menjelma sebagai simpul baru ekonomi di kawasan timur Indonesia.
Tanggal 9 Mei diperingati sebagai hari jadi Kota Kendari karena pada tanggal tersebut, tahun 1831, pelaut Belanda Jacques Nicolas Vosmaer yang mendapat tugas dari gubernur Hindia Belanda untuk melakukan observasi di pesisir timur Sulawesi juga membuat peta pertama Teluk Kendari. Penanggalan itu kemudian ditetapkan sebagai tonggak sejarah berdirinya kota.
Perayaan Hari Ulang Tahun Kendari berlangsung meriah. Rangkaian kegiatan diawali dengan upacara di Balai Kota pada Sabtu pagi. Pemerintah kota juga menggelar pasar murah yang menyediakan kebutuhan pokok seperti beras, minyak goreng, dan gula pasir bagi warga.
Tak hanya itu, festival adat dan permainan tradisional dipusatkan di Pantai Nambo, sementara malam ramah tamah digelar di pelataran eks MTQ dengan menghadirkan sejumlah artis ibu kota.
Perayaan tahun ini terasa istimewa karena bertepatan dengan penyelenggaraan forum internasional United Cities and Local Governments Asia-Pacific (UCLG ASPAC) 2026 yang untuk pertama kalinya digelar di Kendari. Forum tersebut dihadiri delegasi dari 14 negara di kawasan Asia Pasifik dan puluhan delegasi dari berbagai kota/kabupaten di Indonesia.

Wali Kota Kendari Siska Karina Imran bersama Waail Menteri Dalam Negeri Akhmad Wijayagus bertemu awak media usai upacara HUT Kota Kendari ke 195 tahun di Balai Kota Kendari. Foto : Rosnia/ Bentara Timur
Wali Kota Kendari Siska Karina Imran mengatakan berbagai capaian pembangunan yang diraih selama ini menjadi fondasi penting yang harus dijaga dan dilanjutkan.
Menurut Siska, Kendari ingin bertumbuh menjadi kota modern tanpa meninggalkan akar budaya dan identitas lokalnya.
“Capaian-capaian yang telah diraih ini harus terus kita jaga agar pembangunan di Kota Kendari dapat berlanjut dan manfaatnya semakin dirasakan semua pihak, terutama warga,” kata Siska.
Ia menuturkan sejumlah indikator makro menunjukkan kinerja positif pemerintah kota, mulai dari pertumbuhan ekonomi yang mencapai 5,16 persen, pengendalian inflasi, hingga peningkatan kualitas hidup masyarakat.
Pemerintah Kota Kendari bersama Wakil Wali Kota Sudirman, lanjut dia, berkomitmen mendorong pembangunan secara inklusif di seluruh sektor, mulai dari infrastruktur, ekonomi, hingga pelayanan publik.
“Kami ingin mendorong semua sektor agar berkembang secara inklusif, sehingga pembangunan benar-benar memberikan manfaat yang merata bagi seluruh warga Kota Kendari,” ujarnya.
Siska juga menyampaikan apresiasi kepada pemerintah pusat, khususnya Wakil Menteri Dalam Negeri dan Direktorat Jenderal Otonomi Daerah yang hadir dalam peringatan HUT Kendari.
Menurut dia, kehadiran pemerintah pusat menjadi bentuk dukungan agar Kendari terus berbenah menjadi kota yang semakin maju dan kompetitif.
“Atas nama Pemerintah Kota Kendari dan seluruh masyarakat, kami menyampaikan terima kasih atas perhatian yang diberikan kepada Kota Kendari. Kehadiran ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus membangun Kendari menjadi kota yang semakin maju,” kata Siska.
Sementara itu, Wakil Menteri Dalam Negeri Akhmad Wijagus menilai penyelenggaraan forum internasional tersebut menjadi bukti kapasitas Kendari sebagai kota modern yang mampu menjadi tuan rumah agenda berskala global.
Menurutnya, keberhasilan itu menunjukkan pembangunan Kendari berada di jalur yang tepat dengan memadukan infrastruktur modern dan kekuatan budaya lokal.
“Kendari saat ini bukan hanya ibu kota Sulawesi Tenggara, tetapi juga menjadi pusat perhatian tata kelola pemerintahan daerah se-Asia Pasifik,” kata Akhmad saat memberikan sambutan usai upacara HUT Kendari di hadapan ratusan ASN dan tamu undangan.
Ia menyebut forum internasional tersebut sebagai validasi bahwa Kendari telah melampaui batas-batas kedaerahan.
“Ini adalah validasi global bahwa Kendari telah melampaui batas-batas kedaerahan dan mampu menyediakan ekosistem MICE (Meetings, Incentives, Conferences, and Exhibitions) yang kompetitif,” ujarnya.
Akhmad menggambarkan Kendari sebagai wajah masa depan Indonesia: kota yang modern, ambisius secara ekonomi, namun tetap menjaga akar budaya dan inklusif secara sosial.
Data Kementerian Dalam Negeri menunjukkan sejumlah indikator pembangunan Kota Kendari berada dalam tren positif. Pertumbuhan ekonomi kota disebut berada di atas rata-rata nasional, inflasi terkendali di angka 2,96 persen, sementara Indeks Pembangunan Manusia (IPM) mencapai 86,36 persen dan menempatkan Kendari di peringkat keenam tertinggi secara nasional.
Pendapatan per kapita masyarakat juga telah mencapai Rp85,16 juta per tahun.
“Angka-angka ini menunjukkan bahwa investasi pemerintah di sektor pendidikan, kesehatan, dan ekonomi benar-benar dirasakan masyarakat,” kata Akhmad.
Kendari dan Gerbang Ekonomi Biru
Lebih jauh, Akhmad menilai Kendari kini berkembang menjadi episentrum baru di kawasan timur Indonesia. Letaknya yang strategis di kawasan Laut Banda menjadikan kota ini sebagai pintu logistik, perdagangan, dan jasa di wilayah tenggara Sulawesi.
Keberadaan Teluk Kendari juga membuka peluang besar bagi pengembangan ekonomi biru, mulai dari pariwisata bahari, jasa pelabuhan, hingga distribusi komoditas unggulan dari wilayah hinterland Sulawesi Tenggara.
Dengan dukungan infrastruktur yang terus berkembang dan kualitas sumber daya manusia yang dinilai semakin baik, Kendari disebut memiliki prasyarat untuk tumbuh menjadi pusat ekonomi kreatif dan industri MICE di Indonesia Timur.
Transformasi itu diharapkan mampu menciptakan lapangan kerja baru sekaligus mempercepat pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
Dalam paparannya, Akhmad juga menyampaikan lima agenda utama yang perlu menjadi prioritas pemerintah daerah. Pertama, memperkuat tata kelola pemerintahan yang transparan, akuntabel, dan berbasis digital.
Kedua, mempercepat pembangunan infrastruktur yang berkualitas dan merata. Ketiga, mengembangkan kota berkelanjutan dengan menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, kelestarian lingkungan, dan kualitas hidup warga.
Keempat, menjadikan daerah sebagai laboratorium inovasi, termasuk dalam penguatan gizi masyarakat dan pendidikan vokasi. Kelima, memperkuat ketahanan sosial dan budaya dengan menjaga nilai-nilai kearifan lokal di tengah arus globalisasi.

