Kendari. Bentara Timur – Tiga hari setelah banjir merendam sejumlah wilayah di Kota Kendari, semangat gotong royong warga terasa kuat. Di tengah rumah-rumah yang masih digenangi air dan lumpur, bantuan terus mengalir dari berbagai pihak, termasuk dari Lazis Muadz yang kembali menyalurkan makanan siap santap kepada warga terdampak pada Selasa (12/5/2026).
Sejak pagi, relawan mendatangi lima titik yang masih mengalami dampak cukup parah, yakni Lorong Pelangi, Lorong Pahala, Pasar Panjang, Kampung Makassar, dan kawasan Lepo-Lepo. Di lokasi-lokasi itu, nasi kotak dan kebutuhan konsumsi harian dibagikan kepada warga yang masih bertahan di rumah maupun tenda mengungsi.
Namun, yang terlihat di lapangan bukan hanya aktivitas para relawan. Warga juga membantu satu sama lain. Di sejumlah kawasan, warga berbagi makanan, membantu membersihkan rumah yang dipenuhi lumpur, hingga bergotong royong memperbaiki saluran air agar genangan cepat surut.
Sejak hari pertama banjir pada Ahad, 10 Mei 2026, Lazis Muadz mendirikan dapur umum untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat terdampak. Setiap hari, sekitar 400 porsi makanan disiapkan dan didistribusikan ke berbagai titik banjir dan pengungsian, menyesuaikan kebutuhan warga di lapangan.
Di kawasan Wanggu, yang menjadi salah satu titik terdampak terparah, bantuan datang dari berbagai pihak. Dinas Sosial, Brimob, dan sejumlah lembaga kemanusiaan mendirikan dapur umum untuk memasok kebutuhan warga. Sementara itu, Lazis Muadz memilih menyasar wilayah-wilayah lain yang belum banyak tersentuh bantuan agar distribusi lebih merata.
Selain menyalurkan makanan, relawan juga melakukan assessment dengan mendatangi langsung kawasan yang masih tergenang air. Mereka memetakan kebutuhan warga sekaligus memastikan tidak ada keluarga yang luput dari perhatian.
Di Lorong Kawat, misalnya, genangan air masih cukup tinggi karena posisi permukiman yang lebih rendah dari permukaan sungai. Warga setempat secara swadaya menyewa mesin alkon untuk memompa air dari rumah-rumah mereka ke sungai.
“Kalau menunggu air surut sendiri, bisa lebih lama. Jadi kami patungan untuk menyewa pompa agar rumah-rumah bisa segera dibersihkan,” ujar seorang warga.
Warga juga menilai sistem buka-tutup tanggul yang diterapkan selama banjir cukup membantu mengurangi volume air yang masuk ke permukiman.
Berdasarkan data sementara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), banjir di Kota Kendari merendam ratusan rumah dan berdampak pada ratusan kepala keluarga. Di Kelurahan Lepo-Lepo, Kecamatan Baruga, sedikitnya 178 kepala keluarga atau 317 jiwa terdampak, dengan tinggi muka air mencapai sekitar satu meter. (Red)

