Bentaratimur.id

Vale Soroti Masa Depan Nikel Indonesia di Tengah Transisi Energi Global

Bentara Timur – Transisi energi kini tak lagi sekadar membahas kendaraan listrik atau upaya menekan emisi karbon. Di balik agenda energi hijau dunia, persaingan menguasai mineral kritis seperti nikel semakin menguat, dan Indonesia berada di pusat perhatian global.

Isu tersebut mengemuka dalam diskusi bersama Presiden Direktur dan CEO PT Vale Indonesia Tbk, Bernardus Irmanto, pada gelaran Jogja Financial Festival 2026. Dalam forum itu, Bernardus menyoroti tantangan industri pertambangan di tengah meningkatnya tuntutan dunia terhadap praktik energi bersih dan keberlanjutan lingkungan.

Menurut Bernardus, nikel kini memegang posisi strategis dalam rantai pasok baterai dan kendaraan listrik dunia. Namun, di saat kebutuhan terhadap nikel meningkat, industri tambang juga menghadapi sorotan tajam terkait dampak lingkungan.

“Tujuan transisi energi itu mulia, yakni memperbaiki kualitas hidup dan membantu mengatasi perubahan iklim. Tapi pertanyaannya, bagaimana kita memproduksi nikel secara bertanggung jawab,” ujarnya, dikutip Minggu (24/5/2026).

Ia mengatakan, selama ini industri pertambangan kerap dipandang sebagai sektor yang identik dengan kerusakan lingkungan. Padahal, mineral tambang tetap menjadi fondasi penting dalam kehidupan modern, mulai dari pembangunan infrastruktur, kebutuhan pertanian, hingga teknologi energi baru.

Perkuat Kesiapsiagaan Bencana di Kolaka, PT Vale Salurkan Peralatan SAR dan Medis

Menurutnya, tantangan Indonesia saat ini bukan hanya meningkatkan produksi nikel, tetapi bagaimana mengubah cadangan mineral besar menjadi nilai tambah yang berkelanjutan bagi negara.

Lonjakan produksi nikel nasional dalam beberapa tahun terakhir, kata Bernardus, juga memicu tekanan harga di pasar global. Karena itu, industri dinilai harus mulai bergeser dari sekadar mengejar volume menuju penguatan kualitas dan standar keberlanjutan.

“Nikel Indonesia harus diterima dunia bukan hanya karena jumlahnya besar, tetapi juga karena diproduksi dengan cara yang bertanggung jawab,” katanya.

Bernardus menegaskan, tidak semua produk nikel memiliki standar keberlanjutan yang sama. Perbedaan utama terletak pada proses produksi serta jejak lingkungan yang ditinggalkan selama kegiatan pertambangan berlangsung.

Dalam forum tersebut, ia menyebut PT Vale Indonesia tengah berupaya memosisikan diri sebagai produsen sustainable nickel atau nikel berkelanjutan. Salah satu langkah yang dilakukan perusahaan adalah memperluas program rehabilitasi hutan di area tambang.

PT Vale Salurkan Bantuan dan Kerahkan Alat Berat untuk Warga Terdampak Banjir di Pomalaa

Menurutnya, luas area penghijauan yang dilakukan perusahaan bahkan mencapai tiga kali lipat dibandingkan lahan yang dibuka untuk aktivitas pertambangan.

Selain rehabilitasi lahan, Vale juga mengembangkan operasional rendah karbon melalui pemanfaatan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) untuk mendukung proses pengolahan nikel.

Bernardus mengingatkan, citra negatif terhadap praktik pertambangan di Indonesia dapat menjadi ancaman serius bagi masa depan industri nikel nasional. Ia menilai dunia bisa mulai mencari alternatif lain jika Indonesia terus diasosiasikan dengan praktik “dirty nickel” atau nikel yang diproduksi tanpa memperhatikan keberlanjutan lingkungan.

“Kalau narasi negatif tentang nikel Indonesia semakin kuat, lama-lama orang bisa menjauh dari nikel dan mencari alternatif lain,” ujarnya.

Diskusi tersebut juga menyinggung peran generasi muda dalam mengawal arah transisi energi nasional. Bernardus menilai anak muda memiliki posisi penting untuk memastikan pertumbuhan ekonomi tetap berjalan seiring dengan perlindungan lingkungan.

Ia menekankan, masa depan industri tambang harus dibangun dengan prinsip mitigasi dampak dan keberlanjutan jangka panjang agar manfaat ekonomi tidak meninggalkan beban ekologis bagi generasi mendatang.

“Jangan sampai keuntungan hari ini justru dibayar mahal oleh generasi berikutnya,” katanya.

Menurut Bernardus, transisi menuju energi hijau tidak cukup hanya dengan mengganti sumber energi fosil. Lebih dari itu, perubahan juga harus diiringi praktik industri yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar wilayah tambang. (red)