Bentara Timur – PT Vale Indonesia Tbk mempercepat pengembangan proyek pertambangan dan hilirisasi nikel di wilayah Sulawesi. Sepanjang 2025, perusahaan mencatat kemajuan signifikan pada proyek Indonesia Growth Project (IGP) Morowali, Pomalaa, hingga Sorowako Limonite (Sorlim) sebagai bagian dari penguatan rantai pasok industri baterai kendaraan listrik.
Presiden Direktur dan CEO PT Vale Indonesia Tbk Bernardus Irmanto mengatakan perusahaan tengah memasuki fase penting transformasi bisnis, dari sekadar produsen nikel mentah menuju pengembangan industri hilir berbasis keberlanjutan.
“Pengembangan proyek-proyek ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok kendaraan listrik global, sekaligus memastikan praktik pertambangan yang lebih bertanggung jawab,” ujar Bernardus dalam laporan tahunan Perseroan 2025.
Proyek Morowali Masuki Tahap Produksi
Pada proyek IGP Morowali, Vale mencatat fase transisi dari konstruksi menuju produksi sejak Mei 2025. Perseroan menyebut pengerjaan fase pertama proyek penambangan hampir rampung dengan sejumlah fasilitas utama yang telah siap beroperasi.
Beberapa infrastruktur yang telah selesai dibangun antara lain fasilitas pelabuhan, akses logistik, jembatan layang provinsi, terowongan operasional, kawasan perbengkelan, hingga kantor operasional.
Sepanjang 2025, proyek penambangan Morowali juga mulai melakukan operasi produksi dan mencatat penjualan sekitar 2,02 juta ton bijih nikel.
Sementara itu, pembangunan proyek High Pressure Acid Leach (HPAL) oleh PT Bahodopi Nickel Smelting Indonesia (BNSI) di Sambalagi terus berjalan dengan progres konstruksi mencapai 22 persen. Fasilitas yang tengah dibangun meliputi HPAL Plant, Sulfuric Acid Plant, hingga kawasan hunian pekerja.
Vale menargetkan proyek HPAL Morowali mulai beroperasi pada 2026.
Bernardus mengatakan perusahaan juga berupaya menjaga aspek lingkungan melalui pembangunan fasilitas reklamasi dan pengelolaan limbah tambang.
“Kami ingin memastikan pertumbuhan bisnis berjalan seiring dengan perlindungan lingkungan dan pemberdayaan masyarakat sekitar,” katanya.
Sebagai bagian dari komitmen lingkungan, Vale membangun fasilitas nurseri seluas 2,2 hektare dengan kapasitas produksi 400 ribu bibit pohon per tahun untuk mendukung reklamasi lahan pascatambang. Perseroan juga membangun kolam sedimentasi guna menjaga kualitas air di wilayah pesisir dan laut sekitar area operasi.

Proyek Pomalaa Didorong Jadi Pusat Hilirisasi
Di Pomalaa, Sulawesi Tenggara, progres pembangunan proyek penambangan IGP Pomalaa hingga akhir 2025 mencapai 60 persen. Infrastruktur utama seperti gerbang utama, jalan tambang, kamp operasi, fasilitas perbengkelan, hingga tangki bahan bakar terus dikerjakan.
Vale juga mulai melakukan penjualan awal sebesar 298 ribu ton bijih nikel dari wilayah tersebut.
Sementara itu, proyek HPAL Pomalaa telah mencapai progres 50 persen. Pembangunan mencakup fasilitas feed preparation plant (FPP), HPAL plant, pembangkit listrik berbasis LNG, hingga infrastruktur pelabuhan untuk mendukung distribusi hasil produksi.
Proyek HPAL Pomalaa ditargetkan mulai berproduksi pada 2026 dan diproyeksikan menjadi salah satu pusat hilirisasi nikel nasional.
Selain pengembangan industri, Vale juga menjalankan sejumlah program sosial dan lingkungan di sekitar wilayah operasi. Perseroan membangun fasilitas nurseri seluas 5 hektare dengan kapasitas 700 ribu bibit pohon per tahun serta menjalankan program restorasi mangrove di kawasan pesisir.
Perusahaan juga menggandeng pemerintah daerah dan Universitas Hasanuddin dalam program peningkatan kapasitas masyarakat dan pengembangan kewirausahaan perempuan.
Sorowako Limonite Ditargetkan Produksi 2027
Pada proyek IGP Sorowako Limonite (Sorlim), progres pembangunan hingga akhir 2025 tercatat mencapai 37 persen. Vale menyebut sejumlah fasilitas penting telah memasuki tahap komisioning, termasuk stockpile Laila 1, Hasan Koro 3, dan Nickel Hill (NCH1).
Perseroan juga menyelesaikan komisioning Laboratorium MRAL yang akan mempercepat analisis kualitas material tambang.
Sementara itu, proyek HPAL Sorlim yang dikembangkan PT Huali Nickel Indonesia (HLNI) mencatat progres konstruksi sebesar 17 persen. Pengerjaan meliputi fabrikasi autoclaves, pembangunan fasilitas penyimpanan material, hingga evaluasi jalur pipa slurry.
Proyek HPAL Sorlim ditargetkan mulai beroperasi pada 2027.
Dalam pengembangannya, Vale juga mulai menerapkan sejumlah inisiatif lingkungan, termasuk penggunaan slag limbah operasi sebagai material konstruksi, pengurangan limbah domestik melalui teknologi komposter, serta penanaman mangrove di pesisir Malili.
Bernardus menegaskan, pengembangan proyek-proyek tersebut tidak hanya difokuskan pada peningkatan produksi, tetapi juga diarahkan untuk memperkuat keberlanjutan bisnis jangka panjang perusahaan.
“Keberhasilan industri nikel ke depan bukan hanya ditentukan oleh besarnya cadangan, tetapi juga kemampuan menghadirkan operasi yang efisien, rendah karbon, dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujarnya. (red)

