Bentaratimur.id

Dari Patah Tulang Hingga Demam Anak: Ensiklopedia Hidup Pengobatan Tradisional Muna

Kendari. Bentara Timur – Di Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, pengetahuan tentang penyembuhan tidak tersimpan di rak-rak apotek atau di layar komputer rumah sakit. Ia tumbuh di pekarangan, dalam daun-daun yang tampak biasa, dalam minyak kelapa yang dipanaskan, dan dalam untaian mantra yang diwariskan secara lisan lintas generasi. Pengetahuan ini dijaga terutama oleh para bhisa—dukun tradisional—yang sebagian besar adalah perempuan.

Berikut adalah sejumlah praktik pengobatan tradisional Muna yang hingga kini masih bertahan, meski sebagian mulai terdesak modernisasi.

Katampu Buku: Menyambung Tulang dengan Daun dan Bambu

Katampu Buku secara harfiah berarti “menyambung tulang.” Praktik ini digunakan untuk mengobati patah tulang tertutup tanpa tindakan bedah. Bahan-bahannya sederhana: daun serei, daun agel, pelepah pinang, dan minyak kelapa. Daun-daun ditumbuk dan dicampur minyak kelapa hangat, lalu dibalurkan pada bagian yang cedera. Setelah ramuan dioleskan, bilah-bilah bambu digunakan sebagai bidai alami untuk mengimobilisasi tulang yang patah.

Riset Rahman dan kolega (2020) mencatat bahwa praktik ini adalah salah satu warisan pengobatan tulang tertua di Sulawesi Tenggara yang masih hidup. Secara mekanis, teknik pembidaian dengan bambu tidak berbeda jauh dari prinsip gips modern, sementara tanaman yang digunakan mengandung senyawa antiinflamasi alami. Namun, kekuatan utama Katampu Buku bukan semata pada farmakologi tanamannya, melainkan pada kombinasi antara imobilisasi, efek plasebo dari ritual, dan keyakinan komunitas.

Urgensi Uji DNA Moronene, Menguak Nenek Moyang Sulawesi Tenggara yang Terdesak Krisis Ekologis

Kawangku Buku: Pukul Tulang untuk Usir Lelah

Berbeda dengan Katampu yang menangani cedera akut, Kawangku Buku adalah terapi untuk nyeri kronis. Secara harfiah berarti “pukul tulang,” praktik ini menggunakan kayu lakora—kayu khusus yang diyakini memiliki kekuatan simbolis—untuk dipukulkan secara lembut pada bagian tubuh yang sakit. Pasien biasanya adalah orang tua atau pekerja berat yang mengeluhkan nyeri sendi dan kelelahan kronis.

Prosesnya tidak hanya fisik, tetapi juga spiritual. Mantra dibacakan ke dalam segelas air yang kemudian diminum oleh pasien. Kayu lakora melambangkan kekuatan yang ditransfer ke tubuh yang lemah. Salam dan kolega (2022) mencatat bahwa praktik ini mencerminkan pemahaman masyarakat Muna tentang hubungan antara energi tubuh, lingkungan, dan dunia spiritual.

Kasighurambe: Sentuhan Lembut untuk Bayi

Kasighurambe adalah praktik pengobatan untuk bayi dan balita yang mengalami kondisi yang dalam bahasa lokal disebut “salah urat.” Gejalanya beragam: anak rewel tanpa sebab jelas, susah tidur, atau badan lemah. Dengan menggunakan minyak kelapa hangat, tubuh anak diurut perlahan, sementara mantra pelindung dilantunkan.

Monta’u, Cara Berladang dengan Pengetahuan Leluhur Warga di Pulau Wawonii

Yang menarik, para praktisi Kasighurambe hampir selalu perempuan. Sukmawati dan tim (2018) menghubungkan ini dengan peran pengasuhan yang secara kultural melekat pada perempuan Muna, menjadikan mereka penjaga utama pengetahuan tentang kesehatan anak. Dalam banyak kasus, diagnosis dilakukan hanya melalui perabaan dan intuisi—sebuah kepekaan yang dikembangkan lewat pengalaman bertahun-tahun.

Kabhiti: Apotek Hidup di Pekarangan

Kabhiti adalah istilah umum untuk pengobatan menggunakan ramuan tanaman obat. Jika Katampu atau Kasighurambe spesifik pada kondisi tertentu, Kabhiti mencakup spektrum penyakit yang luas: sakit gigi (dengan batang kemiri), gangguan pencernaan (dengan daun jambu biji atau kunyit), hingga pemulihan tenaga (dengan temu ireng dan lempuyang).

Windadri dan kolega (2019) mengidentifikasi puluhan spesies tanaman obat yang digunakan masyarakat Muna, sebagian besar tumbuh liar di pekarangan. Pengetahuan tentang tanaman ini—kapan memanen, bagaimana meracik, berapa takarannya—tersimpan dalam ingatan para perempuan, diwariskan dari ibu ke anak perempuan melalui proses magang tak formal yang berlangsung bertahun-tahun.

Ritual Uap dan Kompres: Kaago-ago dan Kampo-kampo

Dua praktik lain yang masih bertahan adalah Kaago-ago (disebut juga Wonde) dan Kampo-kampo.

Kaago-ago adalah ritual penguapan untuk pemulihan pasca-melahirkan atau untuk mengusir masuk angin berat. Ramuan daun pandan wangi, serai, jahe, dan kemangi direbus dalam periuk besar. Pasien duduk berselimut di atas periuk, menghirup uap rempah yang mengepul. Proses ini tidak hanya membersihkan saluran pernapasan, tetapi juga memberikan efek relaksasi dan pemulihan.

Sementara Kampo-kampo adalah kompres dari daun-daun segar yang ditumbuk dan ditempelkan di dahi, perut, atau lipatan tubuh anak yang demam. Daun dadap serep, daun jarak, dan cocor bebek adalah tanaman yang paling sering digunakan. Pengetahuan tentang jenis daun untuk gejala tertentu dikuasai oleh para ibu, menjadikan praktik ini sebagai pertolongan pertama yang tersedia di setiap rumah.

Kabolosi dan Kasurungga: Luka dan Sakit Perut

Untuk luka luar dan infeksi kulit, masyarakat Muna mengenal Kabolosi. Daun sirih atau daun bandotan dikunyah atau ditumbuk, lalu ditempelkan langsung pada luka sebagai antiseptik alami. Sementara Kasurungga adalah ramuan untuk sakit perut, biasanya berupa perasan kunyit, temulawak, atau daun jambu biji. Kedua praktik ini adalah contoh pengetahuan domestik yang begitu menyatu dengan keseharian sehingga jarang dianggap sebagai “pengobatan” khusus.

Bhatata: Nyawa dari Semua Pengobatan

Satu elemen yang menjadi benang merah dari semua praktik di atas adalah bhatata—mantra atau doa yang diucapkan selama proses penyembuhan. Bhatata berbahasa Muna kuno, berisi permohonan kepada Tuhan dan leluhur, serta mencerminkan akulturasi antara Islam dan kepercayaan lokal pra-Islam. Nampe (2011) mencatat bahwa setiap bhisa memiliki versi bhatata yang unik, dan pengetahuan ini bersifat sakral—hanya diturunkan kepada penerus yang dianggap layak.

Tanpa bhatata, ramuan tanaman hanyalah kumpulan daun dan akar. Mantra inilah yang dalam kepercayaan setempat mengaktifkan kekuatan penyembuhan, menghubungkan yang sakit dengan alam gaib dan yang ilahi.

Antara Solusi dan Kepunahan

Seluruh praktik ini tidak hidup dalam ruang hampa. Mereka adalah solusi pragmatis bagi masyarakat yang akses ke layanan kesehatan modernnya terbatas, baik secara geografis maupun ekonomi. Namun, modernisasi dan pola pikir generasi muda mengancam keberlangsungannya. Rata-rata usia bhisa aktif di Muna berada di atas 55 tahun, dan sedikit sekali yang memiliki penerus.

Setiap kali seorang bhisa perempuan meninggal tanpa mewariskan pengetahuannya, sebuah ensiklopedia hidup tentang hubungan antara manusia, tanaman, dan spiritualitas ikut lenyap selamanya. Dokumentasi menjadi mendesak, bukan hanya untuk menyelamatkan nama-nama tanaman, tetapi juga untuk merekam filosofi, mantra, dan suara para penjaga pengetahuan ini.

Artikel ini disusun berdasarkan penelitian Rahman et al. (2020), Nampe (2011), Salam et al. (2022), La Ode et al. (2019), Windadri et al. (2019), dan Sukmawati et al. (2018).