Bentara Timur. Kendari – Suku Moronene, yang menjangkau daratan Kabupaten Bombana hingga Pulau Kabaena, telah lama diklaim sebagai etnis tertua di daratan Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra). Narasi ini didukung kuat oleh tradisi lisan dan naskah “PU’UNO RONGA TEKALE ANO TO MORONENE”namun hingga kini, klaim tersebut masih menunggu pembuktian ilmiah yang komprehensif.
Penelitian arkeologis memang menemukan jejak hunian purba di Sulawesi Tenggara. Balai Arkeologi Makassar (kini BPK) mencatat temuan fosil di berbagai gua, termasuk Gua di Routa di Konawe Utara. Temuan ini memicu dugaan bahwa leluhur Moronene bermigrasi ke wilayah ini sekitar 4.000 tahun lalu sebagai bagian dari gelombang migrasi Proto Melayu (Melayu Tua).
Namun, klaim ini terganjal kurangnya bukti yang menghubungkan fosil purba dengan masyarakat Moronene modern.
Dosen Antropologi Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari, Sarlan Adi Jaya mengatakan bahwa selama ini pembuktian Moronene sebagai suku tertua masih mengandalkan pendekatan antropologis.
“Pembuktian-pembuktian yang kita lakukan baru semata melalui mitologi, legenda, atau dongeng, tapi belum ada pembuktian saintifik atau ilmiah,” ungkap Sarlan.
Kekuatan utama klaim ini terletak pada toponimi. Banyak nama daerah di daratan Sulawesi Tenggara menggunakan kosa kata bahasa Moronene. Hal ini mengindikasikan bahwa Moronene adalah etnis yang lebih dulu menduduki dan menamai wilayah, sebelum diserap oleh etnis yang datang kemudian.
Selanjutnya menurut Sarlan dari naskah seperti “PU’UNO RONGA TEKALE ANO TO MORONENE” mendokumentasikan pembentukan kelompok adat Hukaea Laeya sebagai komunitas awal yang telah mendiami Bombana jauh sebelum masa kolonial.

Pontunua Peahua, salah satu prosesi pernikahan di suku moronene di Kabaena. Foto: Sahrul Gelo
Mendobrak Dugaan dengan Ilmu Pasti
Sarlan Adi Jaya menjelaskan bahwa untuk membuktikan kaitan kekerabatan ini, diperlukan penelitian yang jauh lebih kompleks daripada sekadar uji umur fosil.
“Penelitian arkeologis hanya menelusuri umur fosil dengan metode Karbon 14 (C14). Tetapi kita perlu penelitian DNA. Penelitian DNA akan membandingkan materi genetik yang diambil dari fosil purba di gua-gua tengkorak (seperti Routa) dengan DNA dari generasi Moronene yang ada saat ini,”ujar Sarlan kepada Bentara Timur.
“Ini benar-benar penelitian saintifik, jadi agak mahal dan jarang yang melakukannya,” tambahnya, menyoroti kendala biaya dan kompleksitas yang membuat klaim tersebut tetap berada di ranah dugaan.
Terlepas dari perdebatan ilmiah, Moronene adalah suku dengan eksistensi paling unik di Sultra, menyebar dari bentang savana Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai (TN RAW) hingga ekosistem batu gamping Pulau Kabaena.
Persebaran ini membuktikan adaptasi mereka sebagai Proto Melayu yang hidup semi nomaden. Sampai saat ini masih bisa ditemui masyarakatnya yang berladang, meramu, dan berburu baik di Pulau Kabaena dan di Hukaeya Laeya. Mereka hidup beradaptasi dengan ekosistem laut dan darat.
Ancaman Slow Violence
Ironisnya, status sebagai suku tertua tidak menjamin perlindungan. Orang-orang Moronene di Hukaea Laeya pernah tergusur oleh penetapan Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai pada 1990-an.
Saat ini, ancaman berupa dari “slow violence” atau kekerasan ekologis yang perlahan melalui ekspansi masif puluhan perusahaan tambang nikel, mineral krusial untuk industri kendaraan listrik yang beroperasi Pulau Kabaena yang merusak sumber air dan hutan.

Salah satu dari sekian banyak lokasi yang terdampak tambang nikel di Kabaena. Foto: Sahrul Gelo
Data Satya Bumi mengungkapkan bahwa hampir 85% dari total luas Pulau Kabaena yakni sekitar 873 kilometer persegi telah dikuasai konsesi tambang.
Alih-alih bencana alam mendadak, masyarakat Moronene dan orang-orang Bajo dihadapkan pada kehancuran sistematis terhadap ekosistem.
Hutan-hutan dan gunung yang menjadi hulu sumber air telah digunduli, menyebabkan hilangnya lebih dari 3.374 hektar hutan dalam dua dekade terakhir atau rentang waktu antara tahun 2001 hingga tahun 2022.
Penggundulan mempercepat erosi, sementara operasi tambang merusak mata air yang selama ratusan tahun diandalkan oleh komunitas Moronene dan masyarakat lainya yang bermukim di Pulau Kabaena untuk pertanian dan air bersih. Petani gula aren, misalnya, melaporkan penurunan drastis pada hasil produksi nira.
Meskipun sebagian komunitas terutama orang-orang Moronene di Hukaea Laeya telah berhasil memperoleh pengakuan wilayah adat, namun perjuangan untuk menjaga wilayah menjadi dan mempertahankan wilayah orang-orang Moronene di Pulau Kabaena dari gempuran industri tambang menjadi tantangan. Menjaga Moronene berarti menjaga jejak peradaban paling awal di Sulawesi Tenggara.

