- Di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap krisis kesehatan mental dan melemahnya ikatan sosial di masyarakat modern, komunitas adat Kajang menawarkan praktik perawatan kolektif yang diwariskan bukan melalui pendidikan formal, melainkan melalui pengalaman hidup sehari-hari. Nilai empati, gotong royong, dan kepedulian sosial ditanamkan melalui teladan, menjadikan collective care sebagai bagian dari budaya yang terus hidup lintas generasi.
- Di saat masyarakat modern dihadapkan pada tekanan untuk terus mengejar status, kekayaan, dan pencapaian material, masyarakat adat Kajang justru mempertahankan falsafah Tallasa Kamase-masea atau hidup secukupnya. Prinsip ini mengajarkan rasa cukup, kesabaran, dan penerimaan terhadap keterbatasan sebagai bagian dari kebahagiaan hidup. Di tengah arus modernisasi dan budaya konsumtif, nilai tersebut menjadi mekanisme perlindungan psikologis yang membantu warga menjaga ketenangan, memperkuat hubungan sosial, dan membangun ketahanan mental berbasis komunitas.
Budaya Saling Menopang yang Diwariskan Tanpa Ceramah
Budaya saling menopang itu diwariskan dari generasi ke generasi, bukan melalui ceramah atau pelajaran formal. Melainkan lewat praktik laku sehari-hari.
Anak-anak melihat orang tua mereka membantu tetangga. Menyaksikan keluarga dan tetangga hadir saat ada musibah. Mereka tumbuh dalam lingkungan yang mengajarkan bahwa seseorang adalah urusan bersama.
Bukan hanya diajarkan lewat kata-kata. Anak-anak melihat langsung bagaimana satu sama lain dari komunitas saling membantu.
Tenri, misalnya. Ia tidak pernah merasa diajari secara khusus tentang empati, gotong royong atau membantu sesama. Tidak ada kelas atau ceramah khusus dari orang tuanya. Nilai itu hadir melalui keseharian. Ia tumbuh dengan melihat orang dewasa saling membantu dan kemudian menirunya.


Ibu dan anak di Desa Bonto Baji Kecamatan Kajang Kabupaten Bulukumba. Keduanya tengah menikmati istirahat di sela-sela aktivitas menenun. (Foto: Rosniawanti)
Transfer pengetahuan berlangsung melalui praktik. Anak-anak mengikuti orang tua ke dapur. Mereka menyiapkan makanan, menyambut tamu, atau ikut membersihkan rumah keluarga yang punya hajatan. Lama kelamaan nilai itu tertanam tanpa harus dijelaskan panjang lebar.
“ Ndak adaji tutorial kayak begini ko nak. Kita belajar karena melihat langsung dan bertanya kepada orang-orang yang lebih paham. Waktu kecil mama ku sering bawa ke acara-acara adat dan keluarga, begitu juga orang tua lain bawa anaknya, di sana kami melihat apa yang dilakukan orang-orang,” itu menurutku salah satu cara pembelajaran, mereka ndak mendikte tapi memang itu sikap yang memang jadi keseharian mereka.”
Sistem dukungan itu bekerja bahkan dalam situasi paling sulit. Tenri bercerita, pengalamanya yang lalu.
Seorang tetangganya yang tinggal tepat di depan rumah harus menjalani perawatan ginjal selama sebulan di rumah sakit di Kota Makassar. Sang istri bolak balik Bulukumba – Makassar untuk merawat suaminya di rumah sakit. Rumah mereka praktis kosong. Anak-anak mereka kemudian diasuh bersama para tetangga.
”Kami membantu menjaga anak-anaknya, menyapu rumah, membawakan makanan. Tidak ada rapat khusus, tidak ada pembagian tugas, kita ambil peran masing-masing apa yang bisa kami lakukan.”
Salmawati: Generasi Ketiga yang Tetap Kembali
Hadirnya Perawatan Kolektif dalam praktik sehari-hari juga menjadi alasan Salmawati, yang lahir dan besar di wilayah Kajang Luar, masih sering berkunjung ke Kajang Dalam.
Perempuan berusia 45 tahun itu tinggal bersama keluarganya di Dusun Tandor, Desa Bonto Baji, Kecamatan Kajang Kabupaten Bulukumba, yang jaraknya satu jam berkendara dari kawasan Adat Ammatoa.
“Kami ini sudah generasi ketiga yang tinggal di luar kawasan Kajang Dalam,” katanya.
Nenek Salmawati keluar dari kawasan adat setelah menikah sekitar tahun 1940-an. Namun perpindahan tempat tinggal itu tidak pernah memutus hubungannya dengan kampung leluhur.
Sampai sekarang, keluarganya masih rutin menghadiri berbagai ritual dan kegiatan adat di kawasan Ammatoa. Mulai dari pesta adat, upacara keluarga, hingga rangkaian ritual kematian yang bisa berlangsung berhari-hari.
“Kalau ada keluarga meninggal, kami datang sejak hari pertama. Tiga harinya, lima harinya, tujuh harinya, sampai seratus harinya. Tetap datang,” ujar perempuan yang juga merupakan penyintas konflik agraria antara masyarakat adat Kajang dan perusahaan perkebunan PT Lonsum pada 2003 silam.
Salmawati mengungkapkan bahwa kehadiran dalam berbagai ritual bukan sekadar kewajiban adat. Di balik tradisi itu terdapat sesuatu yang lebih mendasar, yakni rasa saling menjaga.

Salmawati, perempuan adat Kajang yang bekerja sebagai guru di sekolah dasar. Salmawati merupakan generasi ke tiga masyarakat adat yang memilih menetap di luar kawsan adat Ammatoa Kajang. Meski begitu tradisi dan nilai-nilai leluhurnya masih terus dilaksanakan meski dia tidak menetap dalamkawasan (Foto: Rosniawanti)
Di Tengah perubahan zaman, pendidikan modern, teknologi dan arus migrasi yang semakin besar, Zulfikarni melihat praktik-praktik saling menjaga itu masih terus hidup. Mungkin bentuknya berubah.
Sebagian anak muda merantau ke kota. Sebagian perempuan menempuh pendidikan tinggi. Sebagian keluarga mulai menggunakan telepon genggam dan internet. Namun yang pasti nilai dasar yang dipegang tetap sama. Hal ini tidak terlepas dari peran sentral Ammatoa.
” Yang penting jangan lupa asal-usulmu,” kata Zulfikarni mengutip pesan yang berulang kali ia dengar dari Ammatoa.
Pesan itu bukan sekadar ajakan untuk mengingat leluhur. Lebih dari itu ia merupakan pengingat bahwa manusia tidak pernah hidup sendiri. Ada keluarga, tetangga, komunitas dan generasi-generasi sebelumnya yang menjadi bagian dari orang-orang Kajang.
Filosofi Tallasa Kamase-Masea : Hidup Secukupnya
Nilai yang menopang praktik saling menjaga, saling berbagi dan bekerjasama tersebut berakar pada falsafah hidup masyarakat adat Kajang. Mereka menganut prinsip Tallasa Kamase-masea yang bermakna hidup sederhana.
Bagi masyarakat adat Kajang kebahagiaan tidak selalu diukur dari banyaknya harta atau kemewahan. Yang terpenting adalah rasa cukup dan kemampuan mensyukuri apa yang ada.
“Kita diajarkan untuk selalu bersyukur. Tidak terlalu berambisi. Tidak memaksakan diri,” kata Salmawati.
Filosofi itu terlihat dalam keseharian masyarakat. Meski menyaksikan gaya hidup modern yang serba cepat dan konsumtif, mereka berusaha menjaga kesederhanaan sebagai cara hidup. Prinsip hidup sederhana masyarakat adat Kajang ini terlihat dari deretan rumah-rumah kayu panggung tanpa cat yang berderet di antara jalan tanah berbatu yang membelah permukiman.
Di sekeliling, pepohonan rimbun menaungi. Tak ada deretan cafe estetik, papan reklame warna warni, rumah makan modern, suara dentuman musik, tiang-tiang listrik yang menjulang, apalagi deru mesin kendaraan, kampung nyaris tak tersentuh hiruk pikuk kota.
Suara tonggeret yang nyaring dan desir angin dari hutan menjadi bunyi paling dominan ketika memasuki wilayah adat suku Kajang Dalam atau istilahnya Rilalang Embayya.

Bola Pa’borongan, rumah adat masyarakat Kajang.

Perempuan adat Kajang menjunjung kebutuhan pokok menggunakan wadah anyaman. Hidup sederhana dan selaras dengan alam menjadi nilai yang dianut msyarakat adat Kajang.(Foto: Rosniawanti)
Sekilas lanskap itu mungkin membuat orang mengira wilayah ini tertinggal. Namun bagi masyarakat adat Kajang, itulah cara hidup yang mereka jaga. Di tanah ini, hal itu bukan dianggap kekurangan atau kemiskinan. Kemajuan tidak selalu diukur dari banyaknya fasilitas modern yang dimiliki.
Risna, perempuan muda Kajang berusia 23 tahun, lahir dan besar di tengah masyarakat adat Ammatoa Kajang. Ia menemukan ketenangan dari ritme hidup sederhana dengan alam dan hubungan sosial yang terjalin kuat disini.
”Bukan karena tidak seperti di kota, tidak ada listrik atau jaringan telepon, itu kiamat. Yah di sini memang tidak ada dan tidak boleh dan tidak usah dipaksa harus ada,” ujarnya sambil tersenyum saat jurnalis Bentara Timur bertemu Risna di rumahnya di Kajang Dalam medio pertengahan April 2026.
Risna mengingat pesan yang selalu ia dengar dari orang tuanya sejak kecil.
“Kalau tidak bisa beli, tidak usah dipaksa. Tunggu saja kalau ada rezeki.”
Ajaran itu tampak sederhana, tetapi itu pegangan hidupnya, itu juga membuatnya tidak selalu merasa sesuatu harus dikejar. Di tengah budaya konsumtif yang mendorong orang terus mengejar kepemilikan, komunitas adat Kajang diajarkan untuk menerima keterbatasan tanpa merasa gagal.
“Saya juga ingin seperti yang lain. Misalnya kalau di sini itu pakai perhiasan emas, ingin. Tapi kalau nda adapi ada uangta, ya menunggu saja. Tidak harus punya sekarang.”
Seperti banyak pemuda Kajang lainnya, Risna juga sesekali bekerja di luar kampung. Selepas menamatkan bangku SMA, tahun 2021 ia mencoba merantau. Ia ke Makassar menjadi buruh. Ini dilakukan ketika musim tanam selesai.
Pekerjaannya beragam, mulai dari mengecat hingga memplester rumah dengan upah sekitar Rp150 ribu per hari. Namun ia mengaku tidak pernah betah terlalu lama berada di kota. Paling lama ia bekerja sekitar dua bulan sebelum kembali ke kampung.
“Kalau sudah selesai kerja, biasanya pulang lagi. Saya lebih nyaman di sini.”
Kampung, menurut Risna, memberinya rasa aman dan nyaman yang sulit ditemukan di kota. Biaya hidup jauh lebih rendah karena sebagian besar kebutuhan tersedia dari kebun, dari hutan, dan sawah keluarga.
“Kalau di kota semua serba uang. Di sini beras ada, sayur ada, air tidak dibeli. Kalau tidak ada sesuatu, ya biasa saja.”

Ketika banyak anak muda berbondong-bondong untuk merantau ke kota. Risna, perempuan adat yang memilih beraktivitas dan menghabiskan banyak waktu di kampung di kawasan adat Ammatoa Kajang karena menemukan kenyamanan dan ketenangan. (Foto: Rosniawanti)
Dalam falsafah Tallasa Kamase-masea, kesabaran dan rasa cukup dianggap sebagai bentuk kekayaan. Alih-alih berlomba-lomba memiliki sesuatu, mereka diajarkan hidup sesuai kemampuan.
Kesederhanaan bukan keadaan yang terpaksa diterima, melainkan nilai hidup yang dipilih dan diwariskan dari generasi ke generasi. Falsafah hidup ini ternyata membantu masyarakat menjaga kesehatan mental mereka di tengah arus modernisasi yang serba cepat, materialistis, dan individualis.
Prinsip hidup yang tidak memaksakan diri ini secara tidak langsung juga menjadi mekanisme perlindungan psikologis. Di tengah tekanan sosial untuk terus mengejar status, kekayaan dan pencapaian, masyarakat adat Kajang justru diajarkan untuk menerima keterbatasan dengan lapang. Sikap tersebut membantu mengurangi kecemasan, tekanan sosial, sekaligus menjaga keseimbangan hubungan antar warga.
Dalam penelitian Dawson & Kuehrt tentang “Sense of Sufficience and Mental Health : A Cross-Cultural Study” yang diterbitkan di Journal of Happiness Studies tahun 2019, menunjukan bahwa nilai “cukup” (sense of sufficiency) mengurangi kecemasan sosial dan depresi karena individu tidak terikat pada perbandingan material sosial.
Memperkuat argumen diatas, Kasser et al. dalam penelitian “Materialism and Mental Health: A Cross-National Study” yang diterbitkan di Journal of Personality and Social Psychology” menemukan bahwa individu dengan nilai materialistik tinggi mengalami tingkat depresi dan kecemasan lebih tinggi dibandingkan individu yang mengutamakan nilai non-materialistik seperti hubungan sosial dan makna hidup.
Di keluarganya, Risna merupakan anak bungsu, ini sekaligus memberinya tanggung jawab yang juga umum dijumpai di banyak keluarga Kajang; menjaga orang tua. Ia sebenarnya pernah bercita-cita bekerja di industri tambang di Morowali, namun keinginan itu belum mendapat restu keluarga.
“Orang tua tidak mengizinkan. Katanya anak perempuan bungsu harus tinggal dekat dan menjaga orang tua.”
Bagi sebagian orang, aturan seperti itu mungkin terasa membatasi. Namun dalam komunitas adat Kajang, hal itu merupakan relasi antar generasi dan juga bagian dari sistem dukungan sosial yang menjaga keberlangsungan keluarga.
Orang tua merawat anak ketika kecil dan ketika mereka menua, anak-anak kembali menjadi penyangga kehidupan orang tuanya. Hubungan timbal balik inilah yang memperkuat rasa memiliki dan keterikatan sosial.
Di tengah meningkatnya angka gangguan kesehatan mental pada generasi muda Indonesia, kehidupan masyarakat adat Kajang menawarkan pelajaran penting. Kesehatan mental tidak selalu dibangun melalui layanan profesional atau teknologi modern. Ia boleh jadi tumbuh dari relasi sosial yang hangat, rasa saling memiliki, gotong royong dan kemampuan menerima hidup apa adanya.
Kalimat itu terdengar sederhana, namun di tengah kehidupan urban yang semakin sibuk dan individualistis, ketenangan yang lahir dari kebersamaan mungkin justru menjadi kemewahan yang paling sulit ditemukan.

Peralatan masak sederhana berupa tungku tanah liat di dapur masyarakat adat Kajang dan lampu pelita yang digunakan sebagai penerangan pada malam hari. (Foto: Rosniawanti)

Lelaki dari masyarakat adat Kajang menggunakan peralatan sederhana untuk meramu hasil hutan yang dibolehkan dimanfaatkan oleh Ammatoa, pemimpin adat tertinggi masyarakat adat suku Kajang. (Foto: Rosniawanti)

Menganyam dan menenun merupakan keterampilan yang dikuasai perempuan adat Kajang. Ini sekaligus sebagai identitas juga bentuk kemandirian ekonomi yang diwariskan turun temurun. (Foto: Rosniawanti)
Relevansi Global
Di tengah meningkatnya kekhawatiran global mengenai krisis kesehatan mental, pengalaman masyarakat adat Kajang menunjukkan bahwa komunitas yang kuat dapat menjadi benteng perlindungan yang efektif.
Ruang-ruang sosial tercipta melalui prinsip hidup sederhana, saling jaga, berbagi, dan kerjasama yang termanifestasi dalam ritual komunal, memungkinkan warga berbagi cerita dan beban hidup. Itu menjadi modal sosial yang penting yang menjaga kesejahteraan psikologis masyarakat.
Julianne Holt-Lunstad, Timothy B. Smith dan Layton, J.B dalam penelitian “Social Relationships and Mortality Risk: A Meta-Analytic Review” yang diterbitkan di PLOS Medicine, menemukan bahwa individu dengan hubungan sosial yang kuat memiliki risiko mortalitas 50% lebih rendah dibandingkan individu yang terisolasi. Ini menunjukkan bahwa dukungan sosial bukan hanya faktor protektif untuk kesehatan mental, tetapi juga untuk kesehatan fisik.
Dalam banyak penelitian kesehatan mental komunitas, dukungan sosial seperti ini dikenal sebagai salah satu faktor penting yang membangun ketahanan psikososial. Kehadiran orang lain yang bersedia membantu, mendengar, dan menemani terbukti mampu mengurangi tekanan psikologis sekaligus memperkuat kemampuan individu menghadapi krisis.
Di Kajang, praktik itu telah berlangsung turun-temurun jauh sebelum istilah “kesehatan mental” dikenal luas. Praktik itu terjadi di berbagai tempat. Di sumur tempat perempuan mengambil air sambil bercengkrama. Di kebun tempat warga saling bertukar hasil panen. Di beranda rumah tempat orang saling menyapa tanpa curiga.
Bagi mereka, menjaga sesama bukan sekadar kewajiban sosial. Ia adalah cara merawat kehidupan bersama. Cara memastikan bahwa tak seorang pun berjalan sendirian menghadapi beban hidupnya.
Dan mungkin, disitulah letak salah satu rahasia ketahanan masyarakat adat Kajang yang terus bertahan lintas generasi. Mereka tidak hanya mewariskan tanah, hutan, dan tradisi. Mereka juga mewariskan kemampuan untuk saling menjaga, sebuah bentuk perawatan kolektif yang menjadi pondasi kesehatan psikososial komunitas hingga hari ini. Di tengah dunia yang semakin sibuk dan individualistis, ketenangan yang lahir dari kebersamaan mungkin justru menjadi kemewahan yang paling sulit ditemukan.
Barangkali karena itulah, meski pernah mengalami konflik ruang hidup yang panjang, kehilangan lahan, dan menghadapi berbagai tekanan, suku Kajang tetap mampu bertahan. Mereka menemukan kekuatan bukan hanya dari diri sendiri, tetapi juga dari komunitas yang terus merawat satu sama lain. Kekuatan suku Kajang yang tidak berhasil direbut siapapun hingga hari ini yakni kemampuan untuk saling menjaga.
Acknowledgement : Liputan ini terselenggara atas dukungan dari Internews -Earth Journalism Network (EJN).

