Bentaratimur.id

Jurusan Humaniora UHO Masih Kekurangan Peminat, Sastra Prancis dan Tradisi Lisan Paling Sepi

Kendari. Bentara Timur –  Sejumlah program studi (prodi) di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Halu Oleo (UHO) masih kekurangan peminat pada Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) Tahun Akademik 2026/2027. Kondisi tersebut membuat UHO membuka gelombang kedua jalur mandiri untuk memenuhi kuota mahasiswa baru yang telah diusulkan kepada pemerintah.

Dekan Fakultas Ilmu Budaya UHO, Ahmad Marhadi mengatakan minimnya peminat pada beberapa prodi bukan berarti jurusan tersebut tidak lagi dibutuhkan. Menurutnya, seluruh program studi yang dibuka telah melalui pertimbangan pemerintah dan memiliki peran dalam menyiapkan sumber daya manusia.

“Semua jurusan yang dibuka pemerintah tentu memiliki manfaat bagi masyarakat dan pembangunan bangsa. Persoalan ada jurusan yang peminatnya sedikit, itu merupakan pilihan masyarakat. Kami tidak bisa memaksa, tetapi terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat di Sulawesi Tenggara maupun luar daerah,” katanya saat dijumpai pada pertengahan Juli 2026.

Ia menjelaskan, FIB UHO memiliki delapan program studi yang terdiri atas Sastra Inggris, Sastra Indonesia, Sastra Prancis, Antropologi, Arkeologi, Ilmu Sejarah, Tradisi Lisan,

Dari seluruh prodi tersebut, Sastra Inggris menjadi program studi dengan jumlah peminat terbanyak. Bahkan, kuota penerimaan melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) dan Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) telah terpenuhi sehingga penerimaan pada jalur mandiri menjadi sangat terbatas.

Komisi Informasi Sultra Audiensi ke IAIN Kendari, Perkuat KI Goes to Campus dan Jajaki Kerja Sama Kelembagaan

“Sastra Inggris selalu penuh. Pada beberapa jalur seleksi bahkan kuotanya sudah terpenuhi sehingga di jalur mandiri kami sangat terbatas menerima mahasiswa,” ujarnya.

Sebaliknya, Sastra Prancis dan Tradisi Lisan menjadi dua program studi dengan jumlah peminat paling rendah. Meski demikian, Ahmad  optimistis kuota penerimaan akan terpenuhi setelah pelaksanaan gelombang kedua jalur mandiri.

Menurut dia, rata-rata keterisian kuota di sejumlah prodi FIB saat ini telah mencapai sekitar 70–80 persen. Kekurangan mahasiswa akan diisi melalui gelombang kedua sesuai mekanisme penerimaan yang diatur pemerintah.

“Kalau target kami misalnya 120 mahasiswa per program studi dan setelah tiga jalur seleksi baru terisi sekitar 70 sampai 80 persen, maka sisanya diupayakan melalui gelombang kedua. Sistem itu memang masih dibuka oleh pemerintah,” jelasnya.

Ahmad Marhadi menuturkan kuota penerimaan setiap program studi umumnya mencapai 120 mahasiswa, sementara Sastra Prancis hanya mengusulkan sekitar 60 mahasiswa karena mempertimbangkan tingkat peminat.

Tingkatkan Kapasitas Mahasiswa, AMSI Bersama FISIP UHO Teken Mou Dibidang Pendidikan dan Penelitian

Belum Ada Rencana Penutupan Prodi

Menanggapi wacana pemerintah yang mendorong evaluasi terhadap program studi dengan peminat rendah, Marhadi menegaskan UHO belum memiliki rencana menutup program studi di Fakultas Ilmu Budaya.

Menurutnya, keberlangsungan sebuah program studi tidak semata-mata ditentukan oleh jumlah mahasiswa, tetapi juga berdasarkan standar akademik, kualitas penyelenggaraan, dan hasil akreditasi.

“Kalau suatu saat pemerintah memiliki kebijakan untuk menggabungkan atau menutup program studi karena tidak lagi memenuhi standar akademik, tentu itu menjadi kewenangan pemerintah. Perguruan tinggi mengikuti regulasi yang ditetapkan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi,” katanya.

Ia menegaskan selama program studi masih memenuhi standar mutu dan akreditasi, seluruh prodi di FIB UHO tetap dipertahankan.

Sepinya peminat pada program studi humaniora tidak hanya terjadi di UHO. Pada pelaksanaan Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) 2026, sejumlah perguruan tinggi negeri (PTN) juga mencatat beberapa program studi dengan jumlah peminat yang relatif rendah.

Beberapa di antaranya adalah, Universitas Negeri Gorontalo (UNG): Sastra Indonesia, Pendidikan Seni Drama, Tari, dan Musik termasuk prodi dengan tingkat persaingan rendah. Lalu Universitas Tadulako (Untad): Sastra Indonesia, Sastra Inggris, dan Arkeologi masih menjadi prodi dengan jumlah pendaftar terbatas. Universitas Jambi (Unja), sejumlah prodi bahasa dan humaniora juga masuk kelompok dengan peminat terendah pada SNBT 2026.  Berikutnya Universitas Negeri Malang (UM) dan beberapa PTN lainnya turut mencatat program studi bahasa daerah, filologi, serta pendidikan seni sebagai prodi dengan jumlah pendaftar paling sedikit dibandingkan rumpun ilmu lain.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa minat calon mahasiswa kini cenderung bergeser ke bidang-bidang yang dianggap memiliki prospek kerja lebih luas, seperti kesehatan, teknologi informasi, bisnis, dan teknik.