Bentaratimur.id

Laba PT Vale Melonjak 313% pada Semester I 2026, Pendapatan Tembus US$543 Juta

Bentara Timur –  PT Vale Indonesia Tbk (INCO) mencatatkan penguatan kinerja keuangan sepanjang semester I 2026. Laba periode berjalan perseroan melonjak lebih dari empat kali lipat menjadi US$104,37 juta, dibandingkan US$25,24 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Dengan capaian tersebut, laba PT Vale tumbuh sekitar 313,4% secara tahunan (year-on-year/yoy).

Kinerja positif tersebut terutama ditopang pertumbuhan pendapatan, perbaikan margin laba kotor, serta lonjakan laba usaha di tengah ekspansi bisnis dan pengembangan sejumlah proyek pertumbuhan perseroan.

Berdasarkan laporan keuangan interim yang menjadi basis data dalam laporan ini, pendapatan PT Vale selama enam bulan pertama 2026 mencapai US$543,07 juta, naik 27,3% dibandingkan semester I 2025 sebesar US$426,74 juta.

Di saat pendapatan meningkat, beban pokok pendapatan justru turun 1,5% menjadi US$390,78 juta, dari US$396,58 juta pada periode yang sama tahun lalu.

Kinerja Operasional dan Keuangan PT Vale Menguat di Triwulan II 2026, Ditopang Peningkatan Produksi dan Hilirisasi

Kombinasi pertumbuhan pendapatan dan pengendalian beban pokok tersebut membuat laba bruto PT Vale melonjak menjadi US$152,29 juta, atau tumbuh sekitar 404,9% dari US$30,16 juta pada semester I 2025.

Laba Usaha Melonjak

Perbaikan kinerja juga terlihat pada tingkat laba usaha. Beban usaha memang meningkat 8% menjadi US$16,78 juta, dari US$15,54 juta pada semester I 2025. Namun, pertumbuhan beban tersebut masih jauh di bawah kenaikan pendapatan perseroan.

PT Vale juga mencatatkan pendapatan lainnya sebesar US$12,77 juta, meningkat sangat signifikan dibandingkan US$202 ribu pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Alhasil, laba usaha perseroan mencapai US$134,14 juta, melonjak sekitar 2.056,6% dibandingkan US$6,22 juta pada semester I 2025.

Bertumbuh dengan Tanggung Jawab, PT Vale Perkuat Hilirisasi dan Keberlanjutan di Morowali

Kinerja tersebut menunjukkan bahwa peningkatan laba PT Vale pada semester I 2026 bukan hanya berasal dari pertumbuhan penjualan, tetapi juga ditopang oleh perbaikan profitabilitas pada level operasional.

Namun, dari sisi pendapatan dan beban keuangan, kinerjanya bergerak berlawanan. Pendapatan keuangan turun 59,1% menjadi US$6,21 juta dari US$15,20 juta. Sementara biaya keuangan meningkat 62,6% menjadi US$6,64 juta dari US$4,08 juta.

Meski demikian, laba sebelum pajak tetap meningkat tajam menjadi US$133,86 juta, atau tumbuh 267,1% dibandingkan US$36,46 juta pada semester I 2025.

Kenaikan laba tersebut turut meningkatkan beban pajak penghasilan. Pada semester I 2026, beban pajak penghasilan tercatat US$29,48 juta, naik 162,8% dari US$11,22 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Setelah memperhitungkan komponen pajak dan penghasilan komprehensif lainnya, PT Vale mencatat total penghasilan komprehensif sebesar US$100,43 juta, naik sekitar 277,9% dibandingkan US$26,57 juta pada semester I 2025.

Kas Tertekan Ekspansi

Di tengah peningkatan laba, posisi kas perseroan mengalami penurunan.

Per 30 Juni 2026, kas dan setara kas PT Vale tercatat sekitar US$111 juta, turun dari US$220 juta pada 31 Maret 2026. Penurunan tersebut perlu dibaca dalam konteks aktivitas investasi perseroan yang terus berjalan.

Dengan demikian, peningkatan laba tidak serta-merta membuat saldo kas meningkat karena perusahaan juga mengeluarkan dana untuk membiayai aktivitas investasi dan pengembangan bisnis.

Kondisi tersebut menjadi penting untuk diperhatikan karena 2026 merupakan salah satu periode ekspansi PT Vale. Perseroan menjalankan operasi di tiga blok pertambangan—Sorowako, Bahodopi, dan Pomalaa—secara bersamaan. Pada kuartal I 2026, PT Vale mencatat produksi nikel matte sebesar 13.620 metrik ton, turun dari 17.027 ton pada kuartal I 2025. Penurunan tersebut disebut perusahaan sebagai bagian dari pemeliharaan terencana, termasuk pembangunan kembali Furnace 3.

Pada periode yang sama, PT Vale juga mulai mencatat penjualan bijih nikel dari blok Bahodopi dan Pomalaa. Perusahaan menargetkan produksi nikel matte sepanjang 2026 sebesar 67.645 ton.

Hilirisasi dan HPAL Jadi Penopang Pertumbuhan

Ekspansi tersebut menjadi bagian dari strategi jangka panjang PT Vale untuk memperbesar kapasitas bisnis dan memperkuat posisi dalam rantai pasok industri nikel Indonesia.

Salah satu proyek utama yang tengah dikembangkan adalah fasilitas High Pressure Acid Leach (HPAL) di Sambalagi, Morowali, Sulawesi Tengah. Proyek tersebut merupakan bagian dari Indonesia Growth Project (IGP) Morowali.

Memasuki pertengahan 2026, perkembangan proyek tersebut memasuki tahapan penting dengan kedatangan autoclave, salah satu peralatan utama dalam fasilitas HPAL.

Sebelumnya, PT Vale juga menyatakan tahun 2026 sebagai fase penting dalam ekspansi bisnisnya karena tiga blok pertambangan—Sorowako, Bahodopi, dan Pomalaa—mulai beroperasi secara bersamaan.

Di sisi lain, perseroan telah mencatat penjualan bijih nikel lebih dari 2 juta ton pada semester I 2026. Presiden Direktur dan CEO PT Vale Indonesia Bernardus Irmanto menyebut capaian tersebut sebagai tonggak penting bagi pengembangan bisnis pertambangan dan pengolahan nikel terintegrasi.

Perkembangan tersebut memperlihatkan bahwa pertumbuhan PT Vale tidak lagi hanya bertumpu pada produksi nikel matte dari Sorowako. Diversifikasi melalui penjualan bijih nikel serta pengembangan proyek hilirisasi menjadi bagian dari strategi perseroan memperluas sumber pendapatan sekaligus membangun fondasi pertumbuhan jangka panjang.

Dengan demikian, lonjakan laba semester I 2026 menjadi salah satu indikator bahwa strategi ekspansi dan diversifikasi PT Vale mulai memberikan kontribusi terhadap kinerja keuangan perseroan, meski pada saat bersamaan kebutuhan belanja investasi membuat posisi kas tetap perlu dicermati. (*)