Bentara Timur – Desa Wisata Namu menunjukkan daya tariknya sebagai destinasi unggulan di Sulawesi Tenggara. Pada April 2026 mendatang, desa ini akan menjadi lokasi pelaksanaan Global Cultural Immersion Program 2026 Outing Class Internasional, sebuah program wisata edukasi berskala global yang menghadirkan perwakilan akademisi dari delapan negara.
Kegiatan ini hasil kerja sama antara pengelola Desa Wisata Namu dan Universitas Muhammadiyah (UM) Kendari melalui Direktorat Kerja Sama dan Internasionalisasi. Program tersebut dibuat dengan menggabungkan pengalaman akademik, pertukaran budaya, serta eksplorasi destinasi wisata berbasis masyarakat (community based tourism).
Ahmad Nizar, perwakilan pengelola Desa Wisata Namu, menyampaikan apresiasinya atas konsistensi dukungan UM Kendari dalam pengembangan desa wisata tersebut.
“Kami mewakili pengelola, pemerintah, dan masyarakat Desa Wisata Namu tentu berterima kasih kepada Universitas Muhammadiyah Kendari yang sejak beberapa tahun terakhir konsisten mendukung pengembangan desa ini, termasuk melalui kegiatan berskala internasional seperti Global Cultural Immersion Program,” ujarnya.
Menurut Nizar, Desa Wisata Namu telah mempersiapkan sejumlah agenda penyambutan peserta, mulai dari kegiatan eksplorasi desa hingga aktivitas bahari yang menjadi daya tarik utama kawasan tersebut.
Berdasarkan data awal panitia, peserta yang akan hadir berasal dari delapan negara dengan jumlah sekitar 20 orang akademisi, ditambah pendamping dan panitia sehingga total peserta diperkirakan mencapai 30–40 orang.
Program ini mengusung konsep edu wisata, yakni tren pariwisata yang memadukan pembelajaran dan pengalaman langsung di lapangan. Beberapa agenda utama meliputi academic and cultural exchange session, campus exploration, networking with international students serta authentic local culinary experience
Selain kegiatan akademik, peserta juga akan diajak mengeksplorasi potensi alam Desa Wisata Namu melalui kegiatan snorkeling, diving, serta berbagai aktivitas watersport. Keindahan pesisir, ekosistem laut yang relatif terjaga, serta keramahan masyarakat lokal menjadi nilai tambah dalam program ini.
Pengembangan desa wisata sendiri sejalan dengan kebijakan nasional penguatan pariwisata berbasis masyarakat yang menempatkan warga sebagai pelaku utama ekonomi wisata. Model seperti ini dinilai mampu mendorong pertumbuhan ekonomi lokal secara berkelanjutan sekaligus menjaga kearifan budaya setempat.
Seluruh peserta program akan dikenakan kontribusi kegiatan yang mencakup paket akademik dan wisata selama pelaksanaan program.
Dengan terselenggaranya kegiatan internasional ini, Desa Wisata Namu diharapkan semakin dikenal sebagai destinasi wisata edukatif yang tidak hanya menawarkan panorama alam, tetapi juga ruang dialog lintas budaya dan pengalaman belajar yang autentik.
Editor : Rosniawanti


