Bentaratimur.id

Seri 2 : Tersesat di Jalan yang Benar,  Rahasia Kahianga dan Birunya Hongaha

Bentara Timur – Istirahat di Tomia ternyata bukan berarti berhenti. Setelah ritme cepat koordinasi di Desa Patipelong, kami menyelipkan waktu untuk menuntaskan wish list perjalanan. Bagiku, sebagai calon jurnalis, perjalanan ini adalah riset lapangan upaya untuk mengenal lebih dan mencatat dalam setiap jengkal tanah yang akan kami ceritakan lewat layar nanti.

Tujuan pertama kami adalah Puncak Kahianga. Kahianga sebenarnya berasal dari kata Kahyangan, namun pengucapanya berubah karena pengaruh dialeg lokal warga Wakatobi. Tempat ini benar-benar mewakili suasananya, tentram dan bersahaja.

Berdiri di salah satu titik tertinggi Pulau Tomia ini, aku merasa duniaku mendadak luas. Di bawah sana, padang savana menghampar hijau, beradu dengan garis pantai dan bentangan Laut Banda yang biru terbuka.

Setelah menyerap ketenangan di Kahianga, kami bergerak ke Benteng Mo’ori. Nama Mo’ori berarti Tuhan.

Orang-orang di Wakatobi mempercayai jika tempat ini bukan sekadar tumpukan batu tua, warga mempercayai cerita dahulu tentang seorang manusia sakti yang konon “mengusir laut” karena tidurnya terganggu oleh deburan ombak. Itulah mengapa, menurut cerita, daratan Tomia meluas seperti sekarang.

Desa Wisata Namu Jadi Tuan Rumah Global Cultural Immersion Program 2026

 

Ketgam : Aulia Ramadani (kiri) berdiri dari atas Bneteng Moori di Tomia, Kabupaten Wakatobi. Foto : Kasoami Pictures

Namun, dari sekian banyak rencana, momen yang paling berkesan justru lahir dari sebuah kesalahan.

H-1 kegiatan, saat tim lain sibuk dengan urusan teknis, aku dan Kak Hany memutuskan untuk melengkapi daftar perjalanan kami. Target kami jelas Pantai Huntete. Tanpa pemandu lokal, kami hanya mengandalkan Google Maps dan insting. Kami menyusuri lorong-lorong kecil, mengikuti jalan yang kami kira akan membawa kami ke pesisir pasir putih yang tersohor itu.

Seri 3 Tamat : Layar Putih di Puncak Kahianga: Saat Kekacauan Menemukan Maknanya

Hingga di sebuah persimpangan di Desa Kulati, kami mengambil jalur yang salah. Jalanan menurun tajam, terjal, dan tampak tak meyakinkan. Di dalam kepala, aku terus bertanya, “Akan sampai ke mana kita?” Namun, rasa penasaran jurnalis jauh lebih besar daripada rasa takut. Kami tetap melangkah.

Tiba-tiba, pandangan kami terbuka luas. Dari atas tebing, di hadapan kami terbentang hamparan pasir putih yang sangat luas, dikepung oleh tebing-tebing tinggi yang kokoh. Sunyi. Tidak ada orang, tidak ada suara mesin motor. Hanya ada deburan ombak yang tenang dan birunya laut.

Baru setelah kami tiba di bibir pantai, kami sadar ini bukan Pantai Huntete. Kami berada di Pantai Hongaha.

Pantai ini masih sangat alami karena aksesnya yang menantang. Berdiri di sana, aku menarik napas panjang di bawah terik matahari yang menyengat. Momen tersesat ini mengajariku sesuatu bahwa perjalanan yang tidak sesuai rencana justru sering kali menghadirkan cerita yang paling jujur. Hongaha adalah hadiah bagi kami yang berani mengikuti jalan yang hanya bermodalkan rasa ingin tahu.

Setelah puas di Hongaha, kami akhirnya melanjutkan langkah menuju tujuan awal, Pantai Huntete. Huntete adalah pantai  terbuka dan memanjang. Ratusan pohon kelapa berayun mengikuti angin laut, menyambut kami yang lelah setelah menyusuri jalan berliku di Desa Kulati.

Saking damainya suasana di Huntete, aku dan Kak Hany memutuskan untuk beristirahat di bawah pohon yang teduh. Pasirnya hangat, anginnya lembut, dan suara ombak terdengar seperti nina bobo. Kami berbaring begitu saja di atas pasir, membiarkan tubuh yang penat ini rileks sepenuhnya. Kami bahkan hampir tertidur pulas di tengah padatnya jadwal persiapan ToFiS.

Hingga tiba-tiba, sebuah kejutan dingin menyentak kami. Air laut yang perlahan pasang mulai menyentuh ujung kaki. Kami berdua tersentak bangun, lalu tertawa kecil melihat betapa kami terlalu larut menikmati Huntete.

Perjalanan hari itu kami tutup dengan membelikan es buah untuk teman-teman tim di rumah. Tubuh memang lelah, pakaian yang tadinya basah oleh air gua Te’e Wali kini kering oleh terik matahari. Namun, hatiku penuh. Aku telah melihat Tomia dari puncaknya, dari sejarah bentengnya, hingga dari “kesalahan” jalur yang membawaku ke surga tersembunyi.

Kegiatan pemutaran Film tak lama lagi. Hari yang akan menguji seluruh persiapan kami di Puncak Kahianga. Aku belum tahu bahwa di sana, drama yang lebih besar sudah menanti.

Penulis: Aulia Ramadani, mahasiswa Jurnalistik UHO 

Tentang Pulang Kampung, rubrik ini adalah ruang bagi para pengelana, perantau, dan mereka yang memilih kembali untuk melihat akar rumput dengan kacamata yang berbeda. 

Melalui catatan perjalanan yang personal dan reflektif, kanal ini menyuguhkan kisah-kisah tentang penemuan kembali identitas, hingga cara-cara sederhana memaknai tanah kelahiran. pulang kampung adalah sebuah perjalanan  menjemput kembali ingatan, lalu menceritakannya kembali.