Bentaratimur.id

Kasoami, Film, dan Panggilan Pulang ke Tomia

Bentara Timur – Namaku Aulia Ramadani, mahasiswi Program Studi Jurnalistik angkatan 2025 di Universitas Halu Oleo. Sebagai “Maba” (mahasiswa baru), duniaku saat ini sedang penuh dengan teori tentang bagaimana sebuah berita disusun dan bagaimana sebuah cerita seharusnya disampaikan. Namun, liburan semester kali ini mengajarkanku bahwa pelajaran paling berharga seringkali tidak ditemukan di ruang kelas, melainkan di sepanjang jalan berkerikil dan deburan ombak di tanah kelahiranku.

Aku adalah anak Wakatobi. Ayah dan ibuku merantau ke Taliabu, namun separuh jiwaku tertanam di Wangi-Wangi atau yang akrab kami sebut Wanci. Tumbuh besar di bawah asuhan keluarga mama membuatku terbiasa dengan perpindahan sekolah dan lingkungan.

Bagiku, berkelana bukan sekadar berpindah tempat, melainkan cara untuk mencari makna yang tertinggal di setiap persinggahan.

Rencana liburanku awalnya sederhana saja,  pulang ke Wanci, menikmati senja  sore, dan membiarkan waktu berjalan malas.

Aulia Ramadani (kiri) bersama sahabat berpose di kawasan Benteng Moori, Tomia

Namun, sebuah informasi dari Risal, yang akrab disapa Ical, kawan kecilku di Wakatobi, mengubah rencana liburanku. Ical bercerita tentang ToFiS (Tomia Film Screening). Sebuah kegiatan pemutaran film yang akan digelar di Pulau Tomia, atau yang oleh orang lokal disebut sebagai Wakatobi Dua. Acara ini bukan sekadar pemutaran film biasa, tapi kolaborasi kolektif film seperti Perfis, Kasoami Pictures, Tikum Production, Bentara Timur, hingga Karang Taruna.

Desa Wisata Namu Jadi Tuan Rumah Global Cultural Immersion Program 2026

Mendengar kata “Kasoami Pictures”, aku langsung teringat pada sosok paling dominan di tim ini. Tomi Almijun. Om Tomy sapaan akrabnya.

Dia pendiri rumah produksi tersebut. Nama itu diambil dari kasoami, makanan pengganti nasi dari ubi yang menjadi identitas kami orang pulau di Sulawesi terutama di pulau Buton. Om Tomi pernah berkata bahwa membuat kasoami itu serupa dengan membuat film. Butuh proses, kesabaran, dan tangan yang benar-benar paham rasa.

Filosofi ini sangat menyentuhku. Om Tomi adalah putra Tomia, dan melalui film, ia membawa pulang “rasa” kampung halamannya.

Tim kami kecil namun terasa seperti keluarga.  Om Tomi, Om Shano, Kak Abidin, seniorku di Jurnalistik angkatan ’22, Kak Hany, Ical, dan aku. Perjalanan dimulai saat tim dari Kendari tiba di Wanci pada 20 Januari 2026. Karena tidak ada kapal yang menyeberang ke Tomia hari itu, mereka menginap di rumah Ical. Untuk mengisi waktu, aku mengajak mereka ke Permandian Kontamale.

Kontamale bukan sekadar destinasi wisata bagi kami. Ia adalah urat nadi kehidupan masyarakat Wanci. Di sana, warga mandi dan mencuci pakaian setiap hari. Uniknya, meski diterjang sabun dan deterjen setiap waktu, air Kontamale tidak pernah keruh. Ia selalu kembali jernih, seolah-olah alam memiliki caranya sendiri untuk menyucikan diri.

Seri 3 Tamat : Layar Putih di Puncak Kahianga: Saat Kekacauan Menemukan Maknanya

 

Permandian Kontamale di Wangi-wangi Wakatobi. Wakatobi ditetapkan pemerintah menjadi salah satu dari sepuluh destinasi pariwisata prioritas di Indonesia. Foto : Kasoami Pictures untuk Bentara Timur

 

Tomia merupakan satu dari empat gugusan pulau utama di Kabupaten Wakatobi, bersama Wangi-Wangi, Kaledupa, dan Binongko.  Foto : Kasoami Pictures untuk Bentara Timur

Keesokan harinya, 21 Januari, kami menyeberang ke Tomia. Perjalanan laut selama dua jam dengan angin yang cukup membuat kapal oleng mengantarkan kami pada daratan yang menakjubkan. Tomia menyambut kami dengan jalanan desa yang bersih dan rumah-rumah yang tersusun rapi. Kami menetap di Desa Patipelong. Di sana, ritme santai liburanku benar-benar tamat, berganti dengan gerak cepat koordinasi, perizinan desa, dan pertemuan dengan Karang Taruna.

Di Patipelong, aku bertemu Anggun, teman sekelasku di kampus. Ia berada di sana dalam suasana duka karena baru saja kehilangan kakeknya. Melihat Anggun, aku belajar tentang sisi lain dari sebuah kepulangan,  bahwa terkadang kita pulang untuk merayakan kehadiran, namun di lain waktu, kita pulang untuk merelakan kehilangan.

Malam itu, di sela rapat teknis yang padat, ada hening-hening kecil yang terasa lebih berat dari kata-kata. Sebuah pembukaan perjalanan yang penuh emosi, menandai langkah awal kami menuju Puncak Kahianga.

Penulis: Aulia Ramadani, mahasiswa Jurnalistik UHO 

Tentang Pulang Kampung, rubrik ini adalah ruang bagi para pengelana, perantau, dan mereka yang memilih kembali untuk melihat akar rumput dengan kacamata yang berbeda. 

Melalui catatan perjalanan yang personal dan reflektif, kanal ini menyuguhkan kisah-kisah tentang penemuan kembali identitas, hingga cara-cara sederhana memaknai tanah kelahiran. pulang kampung adalah sebuah perjalanan  menjemput kembali ingatan, lalu menceritakannya kembali.