Melihat Karir Pelé di Luar Lapangan: Melawan Diktator dan Rasialisme di Brasil

Pele dan Nelson Mandela. Foto: Reuters

Pelé menempati posisi sentral, meskipun bermasalah, dalam konstruksi dan penegasan identitas nasional Brasil. Peran Pelé dalam membantu membangun identitas Brasil modern berakar pada kontribusinya dalam membantu Brasil memenangkan Piala Dunia di Swedia pada tahun 1958 dan peran global yang segera diambil alih oleh tim klubnya, Santos.

Di era Pelé, Santos menjelajah dunia sebagai diplomat dalam bidang olahraga. Klub ini melintasi perbedaan ideologis antara komunisme dan kapitalisme dan merayakan emansipasi politik negara-negara yang keluar dari kolonialisme.

Tidak diragukan lagi bahwa pencapaian utama tim-tim yang dipimpin oleh Pelé adalah mendorong permainan sepak bola di negara-negara yang jarang memainkan olahraga tersebut, dan sebaliknya, telah mengubah cara bermain sepak bola di negara-negara sepak bola tradisional. Dengan demikian, Pelé melampaui peran “idola nasional.” Ia menjadi seseorang yang jauh lebih penting: simbol diaspora orang-orang kulit hitam, titik referensi pan-Afrika, dan ikon kosmopolitan.

Bob Marley – yang juga dianggap sebagai pahlawan bagi negara-negara belahan dunia selatan mengenakan kaus Pelé dengan nomor punggung 10 selama kunjungan singkat penyanyi ini ke Brasil pada tahun 1980. Ini bukanlah sebuah kebetulan. Bagi Marley dan lainnya, Pelé mewujudkan estetika sepak bola sebagai seni dan ekspresi kebebasan.

Di luar Brasil, kehadiran Pele sebagai ikon kulit hitam yang berhasil memiliki arti paling besar bagi negara-negara Afrika yang sedang berjuang melawan kolonisasi.

Pesepakbola hebat asal Mozambik, Eusébio – yang mewakili penjajahnya Portugal di panggung internasional – pertama kali menemukan identitas sepak bolanya saat bermain untuk “Os Brasileiros” (Orang-Orang Brasil), yaitu sebuah tim yang dibentuk di pinggiran kota yang sekarang telah menjadi ibu kota Maputo, sebagai penghormatan bagi pemenang Piala Dunia tahun 1958.

Tidak terhitung banyaknya pemain Afrika dari ibu kota Mozambik yang diberi julukan “Pelé,” “Garrincha,” atau “Didi” – tiga pahlawan kulit hitam dari tim nasional Brasil yang menjadi inspirasi bagi jutaan orang di seluruh benua Afrika.

Inspirasi global, kekuatan domestik

Karier profesional Pelé, yang berlangsung antara tahun 1956 hingga 1974, bertepatan dengan periode di mana otoritas Brasil mengklaim apa yang disebut “demokrasi rasial” – keyakinan bahwa tidak ada diskriminasi terhadap masyarakat Brasil yang tidak berkulit putih.

Ideologi ini hanya meredam perjuangan nyata masyarakat Afro-Brasil dan menghalangi perdebatan tentang ketidaksetaraan rasial. Hal ini menempatkan rasisme sebagai sesuatu yang tampaknya tidak mungkin dalam masyarakat, seperti yang dinyatakan oleh cendekiawan Antonio Sergio Alfredo Guimarães dalam bukunya “Classes, Raças e Democracia”.

Perjalanan Pelé terjadi dengan latar belakang kondisi tersebut, dan pengalamannya mengungkapkan bagaimana rasisme gaya Brasil bekerja.

Tidak lama setelah memenangkan Piala Dunia untuk ketiga kalinya bagi Brasil pada tahun 1970, Pelé memutuskan untuk pensiun dari tim nasional untuk berdedikasi pada usaha bisnis dan karir klubnya. Di tengah masa pensiunnya dari tim nasional, kebulatan suara mengenai citranya di Brasil runtuh dengan cepat.

Pelé menghadapi tekanan untuk terus bermain untuk tim nasional oleh rezim diktator yang ingin mendapatkan keuntungan politik dari setiap kemenangan sepak bola di panggung internasional. Pada saat yang sama, ia diperingatkan oleh kaum elit kulit putih yang berusaha membatasi perannya sebagai seorang atlet – dan dengan demikian menegaskan kembali tempat yang diberikan kepada orang kulit hitam di masyarakat Brasil.

Pendekatan Pelé untuk menghadapi kediktatoran Brasil telah mendapatkan kritik, dengan implikasi bahwa ia dapat menentangnya secara lebih langsung. Namun, dari tahun 1971, ketika menyatakan pensiun dari tim nasional, hingga tahun 1974, ketika mengakhiri karirnya di Santos, Pelé menghadapi paksaan, ancaman, dan pemerasan dalam upaya membuatnya tunduk pada kepentingan kediktatoran militer dan rasisme struktural.

Intimidasi tersebut termasuk pembatalan dua pertandingan perpisahan yang akan diadakan pada pertengahan tahun 1971 di São Paulo dan Rio de Janeiro, Brasil sebagai bentuk penghormatan terhadap prestasinya.

Pelé tidak menyerah saat menghadapi kritik keras dari pihak tertentu yang dibuat atas nama nasionalisme yang diperparah. Ini menjadikannya sosok tampak haus akan uang dan juga pengkhianat.

Warisan politik terbesar

Sebagai akibatnya, tentangan yang diterima Pelé saat memutuskan untuk pensiun menutup salah satu bab paling menarik dari kemauan dan ketidakinginan seorang pemain kulit hitam untuk tunduk di hadapan struktur kekuasaan masyarakat Brasil.

Sikap Pelé tidak hanya ditunjukkan oleh rasa muaknya terhadap penyiksaan yang dilakukan oleh kediktatoran Brasil, tetapi juga keinginan pribadi untuk dapat dihargai atas ketenaran dan sepak bolanya. Meski demikian, tekad Pelé untuk melawan kediktatoran militer dan rasisme struktural adalah warisan politik terbesar dalam hidupnya.

Pelé membuktikan bahwa olahraga dan hiburan bukanlah “tempat alami” bagi orang-orang Afro-Brasil seperti yang dipahami dalam wacana rasis. Ia melanjutkan untuk memperoleh pendidikan universitas, menjadi pengusaha, dan bahkan menjabat sebagai menteri olahraga pada tahun 1990-an.

Perjalan Pelé mengungkapkan bahwa sepak bola dapat dijadikan ruang bagi perjuangan anti-rasis. Dengan secara tegas menolak untuk dilihat hanya sebagai pemain sepak bola dan dalam mengejar karir di luar lapangan, Pelé mendesak hak bagi orang-orang Afro-Brasil untuk tidak dikecualikan dari aktivitas yang secara historis dimonopoli oleh kelompok kulit putih yang lebih diistimewakan.

Signifikansi historis Pelé selaras dengan konteks yang dialami Brasil saat ini. Setelah empat tahun pemerintahan sayap kanan yang ekstrem, kembalinya pemerintahan yang tidak mengurangi demokrasi dan berkomitmen pada perjuangan anti-rasis, mewakili titik awal kembalinya perjalanan Brasil yang diilustrasikan dalam karir perjalanan Pelé.

 

Tulisan pertamakali terbit di The Conversation , oleh José Paulo Florenzano