Bentara Timur – PT Vale Indonesia Tbk memastikan kelanjutan operasional dan investasi setelah Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 resmi disetujui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Persetujuan itu keluar pada ppertengahan Januari 2026 lalu, menjadi titik balik setelah periode ketidakpastian perizinan yang sempat menahan laju produksi di awal tahun.
Berada di bawah holding tambang pelat merah MIND ID, Vale memperkuat posisinya dalam ekosistem nikel nasional sekaligus rantai pasok global, terutama di tengah kompetisi produsen nikel kelas dua (laterit) untuk kebutuhan baterai kendaraan listrik.
Presiden Direktur & CEO Vale Bernardus Irmanto menyebut perubahan skema kembali ke RKAB tahunan menjadi fondasi disiplin produksi dan tata kelola.
“Dengan dasar perizinan yang lengkap, seluruh kegiatan kami kini berjalan kembali secara normal, patuh, dan berkelanjutan,” ujarnya dalam keterangan tertulis.
Akselerasi Operasi di Tiga Blok Strategis
Dengan berlakunya RKAB 2026, Vale menggenjot operasi dan konstruksi di Sorowako (Sulawesi Selatan), Pomalaa (Sulawesi Tenggara), dan Bahodopi (Sulawesi Tengah). Fokus jangka pendek adalah mengejar ketertinggalan produksi akibat penghentian sementara sebelumnya, sembari menjaga standar keselamatan dan kepatuhan lingkungan.
Secara korporasi, Vale dalam laporan publik terakhir mencatat produksi nikel matte tahunan di kisaran 70.000 ton dan menargetkan peningkatan bertahap seiring ramp-up proyek baru. Persetujuan RKAB 2026 menjadi prasyarat krusial untuk menjaga kesinambungan pasokan ke smelter domestik dan mitra hilirisasi.
Penjualan Perdana IGP Pomalaa
Terbaru datang dari proyek Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa. Vale mencatat penjualan perdana bijih nikel dari proyek tersebut menandai transisi dari fase konstruksi menuju fase operasional yang mulai menghasilkan pendapatan.
IGP Pomalaa merupakan proyek tambang dan pengolahan nikel terintegrasi dengan nilai investasi sekitar Rp74,44 triliun (sekitar US$4,43 miliar). Proyek ini menjadi salah satu tulang punggung strategi hilirisasi nasional, terutama untuk memasok bahan baku fasilitas High Pressure Acid Leach (HPAL).
Direktur dan Chief Project Officer Vale, Muhammad Asril, menyebut aktivasi area oresell di Pit PB5 dan Pit PB1 sebagai kunci dimulainya monetisasi proyek. Kedua pit tersebut memiliki kapasitas penampungan hingga 4 juta wet metric ton (Mwmt) limonit, memberikan fleksibilitas inventori sekaligus menjaga stabilitas pasokan ke fasilitas pengolahan.
Memasuki Maret 2026, IGP Pomalaa menargetkan produksi 300.000 ton limonit per bulan. Strategi ramp-up dilakukan bertahap untuk menekan risiko operasional dan menjaga disiplin belanja modal (capital discipline), terutama di tengah volatilitas harga nikel global yang dalam dua tahun terakhir mengalami koreksi signifikan akibat kelebihan pasokan.
Hingga Januari 2026, progres konstruksi proyek tercatat 65,76 persen, sementara pembangunan Main Haul Road (MHR) menuju stockpile baru mencapai 40 persen. Infrastruktur ini krusial untuk menurunkan biaya logistik per ton dan mempercepat siklus distribusi dari tambang ke fasilitas pengolahan dan pelabuhan.
Sejalan agenda pemerintah mendorong hilirisasi, Vale melanjutkan investasi teknologi rendah emisi, termasuk proyek HPAL di Pomalaa. Teknologi ini memungkinkan pengolahan bijih limonit kadar rendah menjadi mixed hydroxide precipitate (MHP), bahan antara utama untuk prekursor baterai kendaraan listrik.
Secara global, permintaan nikel untuk baterai diproyeksikan meningkat seiring percepatan transisi energi. Indonesia sebagai pemilik salah satu cadangan nikel terbesar dunia berupaya menggeser posisi dari eksportir bahan mentah menjadi pemain utama dalam rantai nilai baterai dan kendaraan listrik.
Bagi Vale, penjualan perdana dari IGP Pomalaa bukan sekadar simbolis. Ini adalah fase awal pembentukan arus kas baru di luar operasi Sorowako yang telah berjalan lebih dari lima dekade. Dalam jangka menengah, keberhasilan ramp-up Pomalaa dan pengembangan Bahodopi akan menentukan profil produksi Vale pasca-2026.
Dengan RKAB yang telah disetujui dan proyek baru yang mulai menghasilkan, 2026 menjadi tahun krusial menguji ketahanan model bisnis terintegrasi di tengah fluktuasi harga, sekaligus membuktikan bahwa hilirisasi nikel dapat berjalan seiring dengan disiplin modal dan prinsip keberlanjutan.
Editor : R. Hafid


