Bentara Timur – Malam yang dinanti akhirnya tiba. Puncak Kahianga, yang sebelumnya tampak sunyi kini berubah menjadi medan laga. Inilah hari pertama Tomia Film Screening (ToFiS). Pagi itu di pekan pertama Februari 2026 itu kami awali dengan sarapan ringan, kami mengisi tenaga sebelum menghadapi hari yang panjang. Namun, di balik senyum tipis kami, ada degup yang tak tenang.
Saat matahari mulai tergelincir ke ufuk barat, ritme persiapan di lokasi mulai memanas. Aku dan Kak Hany menyusul ke puncak setelah sempat menyelesaikan “misi rahasia” kami menjelajah pantai. Kami mengira semua sudah aman di tangan tim teknis. Namun, setibanya di sana, aku disambut oleh pemandangan yang membuat jantungku berdegup kencang: masalah teknis mulai bermunculan satu per satu, seperti ombak yang tak kunjung reda.
Pukul 19.00 WITA. Warga mulai berdatangan. Anak-anak berlarian kecil di tangga tribun, orang tua duduk berkelompok sambil saling menyapa dalam bahasa daerah yang akrab. Cahaya remang mulai mengisi Puncak Kahianga. Namun di belakang layar, segalanya terasa berantakan.
Genset yang seharusnya menjadi nyawa acara mendadak bermasalah. Obor-obor bambu yang sudah dipotong bersama warga beberapa hari lalu belum terpasang sempurna. Dan yang paling membuatku panik, Ical, koordinator kegiatan yang memegang mikrofon dan daftar susunan acara, belum juga muncul di lokasi. Ia tidak bisa dihubungi.
Pertanyaan demi pertanyaan dari warga mulai terdengar. “Kapan dimulai?” “Film apa yang diputar?” Pertanyaan itu datang seperti rintik hujan yang mulai membasahi mental kami. Om Tomi dan Kak Abidin, yang sudah berada di lokasi sejak sore, akhirnya memutuskan pulang sebentar untuk mandi dan beristirahat sejenak, meninggalkan amanah berat, “Kalau sampai pukul 20.00 Ical belum datang, langsung putar saja filmnya.”
Waktu terus merayap. Om Shano akhirnya berinisiatif menampilkan musik pengantar dan beberapa visual di layar besar agar suasana tidak hening. Suara yang menggema dari sound system seolah-olah menjadi jawaban sementara bagi warga yang mulai gelisah. Namun, hingga pukul 20.00, sosok yang dinanti tetap tak tampak. Akhirnya, sesuai keputusan, layar putih itu menyala tanpa pembukaan MC. Tanpa sambutan, tanpa doa. Langsung ke film pertama. Sebuah awal yang sangat jauh dari rencana jurnalistik yang ideal.
Aku terpaku di sudut tribun. Bingung, kesal, dan panik bercampur jadi satu. Sebagai mahasiswi jurnalistik yang diamanahkan menjadi MC, ini adalah mimpi buruk. Aku merasa gagal sebelum sempat memulai.
Cermin Kehidupan di Atas Layar

Namun, di tengah kekacauan itu, keajaiban muncul dari arah penonton. Ical baru muncul di pertengahan film kedua. Rasa kecewa tentu ada, tapi tugas harus tetap berjalan. Pukul 20.45 WITA, aku segera menyambar mikrofon dari tangannya. Dengan bismillah dan senyuman yang kupaksakan meski gugup, aku berdiri di depan warga. Aku membuka acara, menjeda film berikutnya untuk merapikan alur yang berantakan. Aku selipkan games, melempar pertanyaan tentang isi film, dan memberikan hadiah kecil. Tawa mulai terdengar, dan suasana yang tadinya tegang perlahan melunak.
Malam itu, empat film diputar. Semua film karya sineas asal Sulawesi Tenggara, tepatnya ada 4 Film pertama film Cahaya Untuk Nur, ke dua Songkok Ajaib. Ke tiga Penenun Cilik dan terakhir Anak Anyaman. Anak Anyaman sekaligus menjadi film penutup yang paling emosional. Film ini mengambil latar di Pulau Tomia dan disutradarai oleh Om Tomi Almijun.
Melihat wajah-wajah akrab, lanskap yang kukenal, dan cerita tentang membuat kulu-kulu (perangkap ikan) dari bambu terpampang di layar besar, hatiku bergetar hebat.
Ada rasa bangga yang tak terlukiskan. Ternyata, cerita kecil dari kampung halaman kami layak ditonton, didengar, dan diapresiasi .
Malam yang awalnya terasa berantakan, perlahan menemukan maknanya sendiri. Layar putih itu telah menjadi jembatan antara cerita dan penonton, antara masa lalu dan masa depan. Aku, yang sejak awal hampir larut dalam rasa kecewa, akhirnya mengerti: tidak semua yang dimulai dengan buruk harus berakhir sia-sia.
Kadang, dari kekacauan teknis dan “salah jalan” di lapangan, kita justru menemukan alasan terkuat untuk tetap bertahan. Malam itu berakhir dengan keheningan yang indah di Puncak Kahianga. Saat layar dilipat dan tiang dibongkar, aku tahu satu hal: aku bukan lagi Lia yang sama saat pertama kali menginjakkan kaki di Tomia.
Aku pulang dengan membawa pelajaran jurnalistik paling berharga, bahwa di balik layar yang putih, ada ribuan warna cerita manusia yang harus terus kita rawat. Tomia bukan lagi sekadar tempat liburan, ia telah menjadi sekolah bagi jiwaku.
Tentang Pulang Kampung, rubrik ini adalah ruang bagi para pengelana, perantau, dan mereka yang memilih kembali untuk melihat akar rumput dengan kacamata yang berbeda.
Melalui catatan perjalanan yang personal dan reflektif, kanal ini menyuguhkan kisah-kisah tentang penemuan kembali identitas, hingga cara-cara sederhana memaknai tanah kelahiran. pulang kampung adalah sebuah perjalanan menjemput kembali ingatan, lalu menceritakannya kembali.

