Bentaratimur.id

Dari Lomba Kebersihan, Warga RT 18 Bonggoeya, Menata Lingkungan dan Menumbuhkan Gotong Royong

Kendari. Bentara Timur. Matahari baru sepenggal di atas kepala. Dari sepanjang gang RT 18, RW 005, Kelurahan Bonggoeya, suara sapu bergesekan dengan jalan bercampur dengan gelak tawa warga.

Pagi itu, gang yang biasanya dilalui warga untuk keluar-masuk rumah mendadak lebih ramai.

Perempuan dan lelaki, tua dan muda, keluar mengenakan kaos olahraga. Ada yang menyapu jalan, mengecat pot dengan warna-warni, memindahkan tanaman, membersihkan halaman hingga merapikan bagian-bagian gang yang selama ini  luput dari perhatian.

Tak ada komando yang terdengar. Warga seperti sudah tahu apa yang harus dikerjakan.

Yang membawa sapu terus menyapu. Yang membawa kuas sibuk mengecat. Beberapa lainnya mengurus tanaman di depan rumah. Anak-anak ikut keluar, bermain dan sesekali memperhatikan kesibukan orang-orang dewasa di sekitarnya.

Indonesia Terancam Kehilangan Pengetahuan yang Selama Ratusan Tahun Menjaga Alam

Sabtu pagi itu, RT 18 yang terdiri 8 lingkungan sedang bersiap menyambut penilai lomba kebersihan dan penataan lingkungan dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Tetapi perlombaan hanyalah alasan awal.

Setelah warga mulai bergerak, yang terlihat bukan sekadar upaya mempercantik gang agar mendapat nilai bagus. Ada halaman yang dibersihkan, lahan kosong yang mulai dimanfaatkan, dan tanaman-tanaman yang ditata agar bisa menjadi bagian dari lingkungan sekaligus berguna bagi keluarga.

Dari lahan kosong menjadi kebun kecil

Di beberapa sudut lingkungan, lahan yang sebelumnya kini terlihat dipenuhi tanaman.

Ditinggal Gundul Tanpa Reklamasi, Pulau Laburoko Menunggu Pertanggungjawaban

Warga memanfaatkannya secara swadaya untuk membuat taman tanaman obat keluarga atau TOGA dan tanaman pangan. Di depan rumah, pot-pot berisi tanaman berjajar. Sebagian tanaman sekadar membuat halaman terlihat lebih hijau, sebagian lainnya bisa dipetik ketika dibutuhkan, seperti tomat, cabe, kumis kucing, daun pecah beling, sereh dan lainya.

Warga memanfaatkan ban bekas menjadi hiasan. Foto : Rekha : Bentara Timur

Bagi warga, cara seperti ini terasa sederhana.

Tidak perlu menunggu lahan luas. Tidak harus membuat kebun besar. Sebagian ruang yang ada di sekitar rumah bisa dimanfaatkan.

Begitu pula dengan barang-barang bekas. Sesuatu yang sebelumnya hanya dianggap sampah mulai dicari kegunaannya kembali. Di tangan warga, benda-benda itu bisa menjadi bagian dari penataan lingkungan. Sebutlah botol galon air mineral dibuat menjadi pot bunga dengan desain menarik. Lalu ada gelas plastik minuman bekas yang dibuat menjadi pernak pernik Agustusan.

Semangat seperti inilah yang kemudian membuat lomba kebersihan tidak berhenti pada urusan menyapu dan mengecat.

Ketua panitia lomba, Nur Indah Lestari, mengatakan penilaian tidak hanya melihat kebersihan lingkungan. Kondisi drainase, penataan halaman, hingga pengelolaan sampah rumah tangga juga menjadi bagian yang dinilai. Tim penilai antara lain dari Dinas Lingkungan Hidup Kota dan Komunitas Sahabat Bumi.

Warga, kata dia, menunjukkan antusiasme dengan bergotong royong menata lingkungan masing-masing.

“Tim juri juga melibatkan unsur Puskesmas. Kehadiran tenaga kesehatan membuat penilaian tidak semata-mata berbicara tentang lingkungan yang terlihat bersih dan rapi, tetapi juga bagaimana lingkungan tersebut dapat mendukung kesehatan warga” ujar Indah yang ditemui di sela-sela kegiatan lomba kebersihan yang dilaksanakan pada Sabtu 29 Agustus 2026.

Sebab, selokan yang tidak tersumbat, sampah yang terkelola dan halaman yang bersih pada akhirnya bukan hanya membuat gang enak dipandang. Warga pula yang merasakan manfaatnya setiap hari.

Ketua Panitia lomba kebersihan RT 18 RW 05, Kelurahan Bonggoeya Indah Nur Lestari (tengah) bersama tim penilai lomba dari Puskesmas dan Dinas Lingkungan Hidup Provinsi, briefing untuk indikator penilaian lomba yang dilaksanakan Sabtu 29 Agustus 2026. Foto : Rekha : Bentara Timur

Ketua Panitia lomba kebersihan RT 18 RW 05, Kelurahan Bonggoeya Indah Nur Lestari (tengah) bersama tim penilai lomba dari Puskesmas dan Dinas Lingkungan Hidup Provinsi, briefing untuk indikator penilaian lomba yang dilaksanakan Sabtu 29 Agustus 2026. Foto : Rekha : Bentara Timur

Armunanto ingin semangat itu bertahan

Ketua RT 18, Armunanto, melihat antusiasme warga sebagai sesuatu yang patut dijaga.

Ia mengapresiasi warga yang mau turun tangan membersihkan dan menata lingkungan. Namun, ada satu hal yang menurutnya lebih penting daripada memenangkan perlombaan: jangan sampai semangat itu hilang setelah Agustus berlalu.

“Kami mengapresiasi inisiatif dan partisipasi warga untuk menjaga lingkungan. Harapannya, kegiatan ini tidak berhenti hanya sampai event Agustusan,” ujarnya.

Ia juga melihat tanaman pangan yang mulai dikembangkan warga memiliki manfaat lain.

Selain membuat lingkungan lebih hijau, hasilnya bisa digunakan untuk memenuhi sebagian kebutuhan keluarga. Jika dilakukan secara konsisten dan dikembangkan, bukan tidak mungkin kegiatan sederhana itu kelak memberi tambahan penghasilan bagi warga.

Harapan itu membuat lahan kosong di lingkungan mereka punya cerita baru.

Dari tempat yang sebelumnya dibiarkan, kini tumbuh tanaman yang bisa dipandang, dirawat, dan suatu hari dipanen.

Lomba hanya pintu masuk

Menjelang kedatangan tim penilai, kesibukan warga belum juga surut.

Ada yang masih menyapu. Ada yang membenahi pot. Sebagian berdiri di depan rumah sambil berbincang. Anak-anak ikut meramaikan gang.

Ketika tim penilai akhirnya datang, warga menyambut dengan riang.

Mungkin mereka ingin menang. Namanya juga lomba.

Tetapi setelah melihat apa yang dikerjakan bersama-sama, rasanya ada sesuatu yang lebih besar daripada sekadar mengejar piala.

Sebab, untuk membersihkan satu gang, warga tidak bisa bekerja sendiri-sendiri.

Seseorang menyapu jalan. Yang lain membersihkan selokan. Ada yang mengurus tanaman. Ada yang mengecat pot. Semuanya dilakukan di ruang yang sama dan untuk kepentingan yang sama.

Gotong royong, yang sering terdengar sebagai kata besar dalam berbagai pidato, pagi itu justru hadir dalam bentuk yang sangat sederhana, orang-orang keluar dari rumah dan mengerjakan sesuatu bersama-sama.

Dan boleh jadi di situlah arti sebenarnya dari lomba ini.

Bukan tentang siapa yang memiliki gang paling bersih atau halaman paling indah, melainkan  bagaimana sebuah lingkungan bisa berubah ketika orang-orang yang tinggal di dalamnya mau ikut merawat.

Perlombaan mungkin selesai setelah penilaian.

Cat di pot akan mengering. Jalan akan kembali dilalui kendaraan. Tanaman akan tumbuh dan sebagian akan dipanen.

Tetapi warga berharap satu hal tidak ikut selesai, kebiasaan untuk saling membantu dan menjaga lingkungan yang sudah mereka mulai pagi itu.