Bentaratimur.id

Kisah Lusia dan Masa Depan Anyaman Kolosua yang Terancam

SIANG yang terik menyelimuti  Desa Mekarsari. Angin sepoi-sepoi menerobos masuk, membawa hawa panas ke dalam rumah berdinding bata yang belum dilapisi semen.

Di ruang tamu sederhana, Lusia Nona Rinta, perempuan 38 tahun duduk beralaskan tikar plastik.

Dia tenggelam diantara tumpukan anyaman yang mengelilinginya. Lusia memusatkan perhatianya. Jari jemarinya lincah merangkai helai demi helai daun kolosua kering. Menyilang, menarik, merapatkan lalu mengunci. Berulang-ulang terus menerus sampai membentuk pola seimbang, sampai akhirnya menjadi anyaman rapi yang kuat.

Sesekali ia berhenti sejenak, memperbaiki simpul yang kurang rapi, lalu kembali menganyam dengan tenang. Di wajahnya, tak ada tergesa hanya kesabaran yang panjang

Meski pola anyaman sederhana, untuk menyelesaikan selembar  tikar berukuran sepanjang hampir 2 meter,  perlu kesabaran, rata-rata 3 sampai 4 hari pengerjaan saat  senggang kata Lusia.

Pulau Kabaena Dikepung Longsor, Warga Kehilangan Akses Air dan Jalan Tani

Lusia terampil menganyam  tikar sejak berumur 14 tahun. Tak ada yang benar-benar mengajarinya. Saat ia kecil ia terbiasa melihat  ibunya dan para perempuan menganyam. Hanya dengan mengamati lalu memcobanya sendiri. Lusia  akhirnya berhasil.

“ Sejak kecil  sa sudah sering  lihat mama menganyam, sa nda diajar, hanya coba-coba lama-lama  sa praktekan ternyata sa bisa,” katanya. Matanya menghangat mungkin mengingat pengalaman saat ketika semuanya terasa baru.

a

Di Mekarsari, hampir semua perempuan pandai menganyam. Menganyam jadi aktivitas yang dilakukan  usai berkebun atau ketika senggang. Lainya hasil menganyam juga untuk membantu perekonomian keluarga.

Hal yang sama  berlaku pada Lusia. Meski ia dan suami memiliki kebun dengan tanaman kelapa, cengkeh dan pala,  namun menurutnya hasil panen tak sepenuhnya bisa diandalkan, terlebih beberapa tahun belakang ini, hasil panen kerap tak memuaskan.

Dua Proyek Smelter Vale di Sulawesi Ditargetkan Beroperasi Akhir 2026

Beberapa tahun ini cuaca yang tak menentu terutama kemarau panas membuat panen jambu dan cengkeh sedikit.

”Kelapa apalagi. Harga kopra turun sekali berkisar Rp7.000 hingga Rp8.000 per kilogram. Kita jual saja  kelapa utuh ke penadah. Itu pun  penjualan tidak tutup biaya panjatnya.”

” Tidak bisa kerja sendiri, kita suruh orang panjat kelapa, bayar dorang per pohon itu,” katanya, dengan suara lirih.

Rerata per bulan Lusia bisa menganyam 10 hingga 15 lembar tikar. Tikar yang telah dianyam itu lalu dijualnya ke penampung di desa, yang akan membawa tikar-tikar itu  untuk dijual ke Kendari atau ke kota lain dengan harga Rp45.000 per lembar. Totalnya, Lusia bisa mendapat sekitar Rp450.000 hingga Rp500.000 perbulan dari hasil penjualan tikar.

Nilai yang kecil, namun  tetap ia syukuri, karena sedikit banyak hasil penjualan tikarnya bisa membantu biaya kebutuhan rumah tangganya, mulai dari kebutuhan dapur hingga biaya sekolah dua putrinya.

Peralatan sederhana yang  digunakan untuk proses pengerjaan bahan baku anyaman tikar yang terbuat dari tumbuhan Lepironia Articulata  atau Kolosua . Foto : Rosniawanti

Tentu saja harapan terbersit, agar harga anyaman tikar kolosua bisa lebih baik, mengingat proses panjang. Semua dilakukan secara manual dengan menggunakan alat sederhana, mulai dari pengerjaan bahan baku hingga penganyaman.

Jejak Penyintas Gempa

Desa Mekarsari adalah desa transmigrasi di Pulau Wawonii, yang mayoritas penduduknya penyintas bencana gempa Flores, Nusa Tenggara Timur pada  Desember 1992. Gempa besar berkekuatan M 7,5 yang disertai tsunami memporak-porandakan Flores.  Kerusakan terparah terjadi di Maumere dan Pulau Babi. Sekitar  3.100 orang meninggal atau hilang saat bencana.

Pemerintah kala itu menyatakan Gempa Flores 1992 sebagai bencana nasional karena gempa dan tsunami telah menimbulkan penderitaan, korban jiwa dan kerugian material yang sangat besar. Bencana kala itu mengantarkan Flores ke level kemiskinan tahun 1970 an.

Lusia dan orang tuanya menjadi korban gempa Maumere.  Kehidupan di Flores juga Maumere pasca gempa sangat sulit. Mereka kehilangan rumah, mata pencaharian juga keluarga.

Setahun pasca gempa, tepatnya tahun 1993, Lusia yang berusia 7 tahun bersama orang tuanya meninggalkan Maumere, bersama puluhan kepala keluarga mereka meninggalkan kampung halaman tercinta. Pindah mengikuti program transmigrasi ke Wawonii yang diprakarsai pemerintah. Pulau Wawonii saat itu masih bergabung  dengan Kabupaten Konawe.

Saat tiba, para transmigran diberi rumah dan tanah. Warga juga mendapat bantuan makanan dan diberi sarana alat tangkap ikan seperti perahu, pukat dan mesin tempel.

Sayang tak semua transmigran bertahan, sebagian memilih kembali ke Flores atau merantau ke daerah lain.  Barangkali karena akses dan infrastruktur yang sangat minim kala itu di Pulau Wawonii.

Bayangkanlah Wawonii di periode 1990 an, jalan  beraspal di pulau ini tak sampai 1 kilometer.  Penerangan hanya menyala saat malam hari. Tak ada kendaraan umum. Akses keluar masuk ke kampung-kampung dengan membelah lautan menggunakan perahu atau sampan, jika pun ada melalui rintisan jalan-jalan tanah berdebu dan  berlobang yang membelah hutan atau kebun-kebun warga.

Aroma keterbatasan juga begitu kental, tercermin dari kehidupan warga. Rumah-rumah penduduk terbangun seadanya, hanya ada sedikit rumah berbahan batu semen, lebih banyak rumah berbahan ramuan kayu. Kehidupan di Wawonii saat itu adalah cerminan perjuangan.

Namun keluarga Lusia dan puluhan kepala keluarga transmigran lainya  bertahan. Dengan kondisi ekonomi yang terbatas. Pelan-pelan mereka membangun hidup di Wawonii. Mereka belajar berdamai dengan keadaan. Menjadikan Wawonii sebagai rumah dan harapan baru. Dari  nol dengan tanah dengan  laut dan apa pun yang tersedia.

Di Wawonii  Lusia menamatkan pendidikan SLTA, selepas itu lalu menikah dengan Gabriel Dosi, pemuda yang juga anak transmigran Flores. Dari pernikahan itu perempuan dengan lesung pipi yang dalam di kedua pipinya itu, diberkahi 3 anak perempuan.

Ancaman Serius ?

PulauFoto Pulau Wawonii diambil dari udara. Sektor kelautan  perikanan serta perkebunan seperti kelapa, cengkih, jambu mete dan pala menjadi tumpuan kehidupan warga. Foto : Elsa Ayu Friska

Secara administratif  Desa Mekarsari berada di Kecamatan Wawonii Tengah, Kabupaten Konawe Kepulauan, atau lebih dikenal dengan sebutan Pulau Wawonii. Tahun 2013 daerah ini resmi menjadi kabupaten baru, setelah sebelumnya menjadi bagian dari Kabupaten Konawe. Dengan jumlah penduduk saat ini sebanyak 41. 520 jiwa tersebar di 7 kecamatan.

Pulau yang berada tepat di depan Laut Banda ini hanya memiliki luas wilayah kurang lebih 705.71 kilometer persegi. Dengan luasan itu Wawonii  masuk dalam kategori pulau kecil dengan tingkat kerentanan tinggi. Kerentanan yang dimaksud terdiri dari kerentanan ekologi dan sosial yang dapat disebabkan oleh alam maupun akibat aktivitas manusia.

Meski terkategori pulau kecil  namun keanekaragaman hayati Pulau Wawonii cukup tinggi. Salah satunya tumbuhan yang hidup di sana.

Dalam publikasi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)/ Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada 2015 menerbitkan buku Daftar Jenis Tumbuhan di Pulau Wawonii yang mengidentifikasi ada 1.000 jenis tumbuhan yang ada di Pulau Wawonii.

Mulyati Rahayu, ahli etnobotani dari BRIN mengatakan dari jumlah itu, ada lebih dari 200 jenis tumbuhan berguna  yang dimanfaatkan  warga untuk kebutuhan pangan, kosmetik, obat, papan, permainan anak, ritual juga kerajinan.

Salah satunya Lepironia Articulata atau warga Wawonii menyebutnya Kolosua menjadi bahan baku pembuatan anyaman tikar.  Kolosua adalah sejenis semak  anggota famili teki-tekian (Cyperaceae). Rumput ini tumbuh liar di paya-paya atau rawa-rawa terbuka. Lepironia Articulata ini  mudah tumbuh alami khususnya di daerah tropis. Di wilayah Sumatera, rumput ini dikenal dengan nama purun. Juga digunakan sebagai bahan baku anyaman.  Kolosua tumbuh tegak lurus tidak berdaun.

“ Kolosua di Wawonii dipakai sebagai bahan baku untuk membuat anyaman, warga tidak perlu membayar untuk mengambilnya karena tumbuh alami di sana,” kata Muliati Rahayu dalam diskusi bersama LBH Jakarta.

Pulau Wawonii yang masuk dalam kategori pulau kecil yang rentan akan aktivitas ekstraktif seperti pertambangan. Foto : Elsa Ayu Friska

Namun begitu perkembangan pembangunan yang signifikan di Pulau Wawonii membawa perubahan. Pulau kecil ini dilingkupi ancaman serius dengan beroperasinya perusahaan pertambangan nikel  PT. Gema Kreasi GKP, merupakan perusahaan yang berelasi dengan Harita Group.  Perusahaan ini memiliki dua Izin Usaha Pertambangan (IUP)  yang ada di Wawonii Tenggara serta Wawonii Barat dan Tengah.

Padahal sebagaimana tertuang dalam Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007, tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil, Pulau Wawonii tidak diperuntukan adanya kegiatan industri ekstraktif.

Hal lainya peningkatan  status Pulau Wawonii sebagai daerah otonomi baru juga sedikit banyak menimbulkan persoalan dalam penguasaan lahan.  Sebutlah kawasan Desa Tumbu-tumbu Jaya yang menjadi lokasi tumbuhnya Kolosua, pernah diwacanakan  hamparan  padang Kolosua yang luasnya puluhan hektar itu akan menjadi lokasi pembangunan bandar udara dan pelabuhan perikanan

Jika itu terjadi, bukan tak mungkin anyaman kolosua hanya akan menjadi cerita. Mengapa? Lahan Kolosua yang menjadi bahan baku anyaman akan hilang. Warga tak lagi bisa menganyam Kolosua karena bahan bakunya sudah tidak ada.

Hilangnya Kolosua sekaligus menyebabkan hilangnya sumber pendapatan ekonomi. Lalu  menganyam dan kolosua hanya akan menjadi cerita dongeng pengantar tidur anak-anak di masa depan.

Penting untuk mengembangkan kebijakan yang dapat melindungi keberadaan kolosua dan mengoptimalkan pemanfaatan untuk meningkatkan kesejahteraan warga Wawonii tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan dan budaya lokal. Kolosua lebih dari sekadar bahan baku anyaman, adalah bagian dari identitas dan sumber daya yang perlu dilestarikan agar tetap bisa memberikan manfaat bagi generasi yang akan datang.

Potensi Ekonomi dan Inovasi Desain 

Hamparan Cyperaceae atau Kolosua tumbuh alami. Di Pulau Wawonii tumbuhan Kolosua hanya bisa ditemukan di wilayah Desa Tumbu-tumbu Jaya. Pengrajin datang memanen Kolosua untuk dijadikan sebagai bahan baku anyaman baik untuk tikar atau barang lainya.  

Potensi Kolosua di Wawonii melimpah.  Kawasan Desa Tumbu-tumbu dikenal sebagai surganya Kolosua, di sana puluhan hektar hamparan Kolosua membentang. Tanaman yang tumbuh alami di rawa ini tak hanya memiliki keindahan dan keunikan ekologi tetapi juga telah lama termanfaatkan oleh warga untuk pembuatan tikar dan kerajinan lain seperti topi, tas, juga bakul.

Pada masa lalu, orang-orang Wawonii menggunakan tikar Kolosua sebagai alas untuk tempat tidur dan duduk.

” Kalo orang tua dulu suka tidur beralaskan tikar Kolosua, hangat baru tikar ini tahna lama bisa belasan tahun juga asal tidak kena air,” jelas Dani warga Wawonii dari Desa Batumea.

Kualitas anyaman serat Kolosua berbeda dengan anyaman yang terbuat dari daun pandan hutan berduri. Tekstur anyaman kolosua lembut, tidak mudah patah dan tidak mudah menyerap dingin jika dipakai sebagai alas lantai.

Proses membuat  anyaman Kolosua yang memiliki kualitas baik diawali dengan  pemanenan. Kualitas daun anyaman kolosua  yang baik dipanen saat masih muda dan berwarna hijau tua.  Ini menandakan serat Kolosua kuat dan tidak gampang putus nantinya. Lalu pilihlah pilihlah Kolosua dengan batang yang panjang dan besar.

Setelah dipanen, tahapan selanjutnya yang tak kalah penting yakni proses pengeringan. Pengeringan batang Kolosua sebaiknya dilakukan di bawah terik matahari langsung. Batang Kolosua yang yang dijemur harus benar-benar kering. Setelah kering batang Kolosua dibersihkan dan dibelah menjadi helaian-helaian. Lalu helain Kolosua digulung membentuk bulatan besar.

Proses ini bertujuan untuk  meluruskan helaian kolosua . Setelahnya Kolosua didiamkan selama satu pekan, usai itu selanjutnya kolosua  siap untuk dianyam. Seluruh proses pengerjaan bahan baku ini dilakukan secara manual dengan alat sederhana.

Di Mekarsari dan kampung-kampung lain di Wawonii, menganyam masih menjadi usaha sampingan untuk mendapatkan tambahan pemasukan setelah warga selesai dari berkebun atau melaut. Warga  belum tergerak mengolah anyaman Kolosua menjadi aneka produk yang lebih populer seperti tas, dompet, topi, sendal atau sejenisnya. Kebanyakan pengrajin hanya pandai membuat tikar dan beberapa perlengkapan rumah tangga sederhana.

Produknya hanya dipasarkan di seputaran Pulau Wawonii, warga menggunakan untuk sebagai alas tidur atau duduk. Selain itu  tikar Kolosua difungsikan sebagai alas untuk menjemur cengkeh, pala juga gabah.

Produksi pun dilakukan ketika senggang dan umumnya dikerjakan malam hari. Memang  ada alasan khusus menganyam di malam hari.  Ternyata itu memudahkan pengrajin ketika merangkai kolosua.

Suhu ruang yang lebih rendah membuat daun melunak dan lebih elastis, berbeda saat menganyam pada siang hari, daun akan cenderung kaku menyebabkan  pengrajin sulit merangkai anyaman, paling buruknya helaian kolosua bisa menyebabkan tangan pengrajin terluka ketika menganyam karena daun kolosua yang tipis akan mengeras dan tajam.

Selain itu belum ada sistem produksi kontinyu untuk menjaga rantai pasok yang lebih mapan. Saat musim tanam, musim tanaman berbuah/berbunga kegiatan menganyam akan berkurang karena perhatian akan banyak ditujukan di kebun. Dengan sistem produksi yang ada komoditas anyaman kolosua belum bisa menjanjikan nilai ekonomi yang tinggi untuk memenuhi kebutuhan  rumah tangga.