Kendari, Bentara Timur – Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Himpunan Advokat Muda Indonesia (HAMI) Sulawesi Tenggara (Sultra) menerima belasan aduan dari masyarakat korban konsumen pertalite yang diduga oplasan.
Ketua LBH HAMI Sultra, Andre Darmawan mengatakan, sejak pihaknya membuka posko pengaduan soal dugaan pengoplosan bahan bakar minyak (BBM) jenis pertalite pada Rabu pagi (5/3/2024), sudah ada 12 aduan yang diterima.
“Sudah ada 12 aduan yang masuk via form pengaduan,” kata Andre.
Baca juga : Motor Alami Kerusakan Usai Isi Pertalite, Ratusan Ojol Datangi Polresta Kendari untuk Adukan SPBU
Andre mengungkapkan, akan terus membuka aduan ini bagi masyarakat. Katanya, layanan pengaduan dan pendamping ini gratis tanpa dipungut biaya seperser pun.
Pada langkah selanjutnya, kata Andre, LBH HAMI akan melaporkan kasus ini ke kepolisian untuk proses hukum pidananya.
Untuk pidananya akan dilaporkan ke polisi dan disiapkan untuk tuntutan ganti kerugian,” ujar Andre.
Sebelumnya, ratusan pengemudi ojek online (ojol) mendatangi Polresta Kendari untuk melaporkan dugaan pengoplosan bahan bakar minyak (BBM) jenis pertalite, Selasa (4/3/2025) malam.
Laporan ini muncul setelah banyak dari mereka mengalami kerusakan pada kendaraan usai mengisi bahan bakar di sejumlah SPBU di kota tersebut.
Salah seorang pengemudi ojol, Sabarudin mengatakan, ia dan rekan-rekannya menghadapi masalah serupa, dengan motor yang tiba-tiba bermasalah usai mengisi bahan bakar.
“Masalahnya semua SPBU di Kendari itu bermasalah, ada indikasi pertalite dioplos,” katanya.
Sabarudin menyebut, lebih dari 100 motor mengalami kerusakan yang diduga kuat akibat kualitas BBM yang tidak sesuai standar.
Ia juga menduga bahwa permasalahan ini bukan hanya di SPBU, melainkan berasal dari depot pengisian bahan bakar.
“Kami berharap pihak kepolisian segera memeriksa SPBU-SPBU di Kendari, tapi saya duga masalahnya datang langsung dari depot. Hampir semua SPBU yang baru saja mengisi ulang mengalami kendala yang sama,” ujarnya.
Para pengemudi ojol meminta kepolisian untuk segera mengusut kasus ini dan menguji sampel bahan bakar guna memastikan ada atau tidaknya unsur oplosan.
Mereka juga meminta Pertamina bertanggung jawab atas kerusakan kendaraan yang mereka alami.
Selain merugikan pengemudi ojol secara finansial, kejadian ini juga menjadi beban tambahan bagi mereka yang tengah mencari nafkah di bulan Ramadhan.
“Kami hanya ingin masalah ini cepat diselesaikan, apalagi ini bulan puasa. Kami berharap ada solusi secepatnya dan Pertamina bertanggung jawab atas kendaraan yang rusak,” pungkasnya.
Penulis : R. Hafid

