Bentaratimur.id

Penyintas Tsunami di Balik Pulihnya Jalur Vital Jembatan Krueng Tamiang

Bentaratimur– Kementerian Pekerjaan Umum melalui Direktorat Jenderal Bina Marga berhasil membuka kembali akses Jembatan Krueng Tamiang pada Sabtu, 27 Desember 2025. Langkah ini menjadi titik balik penting bagi mobilitas warga yang sebelumnya terhambat akibat bencana banjir bandang dan tanah longsor.

Dedy Saputra selaku Pengawas Lapangan PPK 1.5 BPJN Aceh memimpin langsung proses pembersihan lumpur di lapangan dengan penuh dedikasi. Ia memprioritaskan pemulihan akses jalan utama agar pasokan logistik dan kebutuhan pokok masyarakat segera sampai ke tujuan.

“Supaya pengiriman sembako bisa masuk dengan lancar, santri-santri (pesantren) bisa kembali belajar seperti biasa,” kata Dedy.

Dedy merasakan ikatan emosional yang kuat dengan para korban banjir karena ia merupakan penyintas bencana tsunami Aceh 2004 silam.

Kenangan pahit kehilangan anggota keluarga tercinta selalu membayangi setiap langkahnya saat bekerja di tengah reruntuhan material banjir.

2025: Tahun Kelam Bagi Pers dan Ilmu Pengetahuan Akibat Pemerintah

“Saya pernah jadi korban tsunami, sampai sekarang masih terbayang-bayang. Bapak ibu, dua orang adik dibawa tsunami, sampai sekarang belum ditemukan,” ucapnya dengan suara bergetar.

Dedy Saputra Pengawas Lapangan PPK 1.5 BPJN Aceh yang juga merupakan penyintas Tsunami Aceh 2004. Foto: Ist

Pengalaman traumatis tersebut justru menempa mentalnya untuk tetap tegak berdiri membantu sesama warga yang sedang tertimpa musibah. Ia memilih untuk terjun langsung ke medan tersulit meskipun harus meninggalkan keluarganya dalam waktu yang cukup lama.

“Itulah yang menggerakkan saya untuk membantu. Harus tempur di lapangan walaupun keluarga ditinggalkan sementara,” ucapnya.

Selama bertugas di Aceh Tamiang, Dedy dan timnya harus menghadapi kondisi kerja yang sangat memprihatinkan dan menguras tenaga.

Mereka sering kali terpaksa beristirahat di lokasi yang tidak layak demi memastikan alat berat tetap beroperasi maksimal.

Saat Negara Lambat Merespon, Begini Cara Agar Masyarakat Bisa Cek Sendiri Potensi Bencana Pakai Satelit.

“Sebagai abdi negara tidak ada kata-kata capek. Tidurnya kadang enak, kadang tidak enak. Kadang-kadang kita tidur di bawah lumpur,” ujarnya.

Upaya keras tim Bina Marga membuahkan hasil manis dengan normalnya kembali fungsi Jembatan Krueng Tamiang bagi kendaraan umum.

Pejabat Pembuat Komitmen 1.5 Provinsi Aceh, Ardian Adhitama, mengonfirmasi bahwa kendala kemacetan mulai terurai secara bertahap.

“Mulai hari ini akses sudah dibuka. Kemarin-kemarin Jembatan Krueng Tamiang dipakai untuk pengungsian, dan itu menjadi salah satu sumber kemacetan karena aksesnya terbatas,” kata Ardian.

Dedy Saputra selaku Pengawas Lapangan  memimpin langsung proses pembersihan lumpur di lapangan. Foto: Ist

Kondisi ini disambut baik oleh warga lokal seperti Rini Puji yang mulai bisa membuka kembali usaha kecilnya setelah banjir surut.

Ia merasa sangat terbantu oleh kesigapan petugas gabungan yang melakukan pembersihan material sampah di lingkungan pemukiman warga.

“Udah alhamdulillah. Makanya bisa kami buka jualan ini. Alhamdulillah udah mendingan sedikit-sedikit,” ungkap Rini.

Dedy Saputra harus menahan rindu yang mendalam kepada anak dan istrinya selama menjalankan tugas kemanusiaan di wilayah terdampak.

Komunikasi melalui panggilan video menjadi satu-satunya pelipur lara di tengah keterbatasan sinyal dan pasokan listrik di lokasi.

“Kalau listrik sudah nyala dan jaringan sudah ada, baru bisa komunikasi, video call. Anak suka manggil papa, terasa terenyuh sendiri,” ungkap Dedy.

Ia meyakinkan keluarganya bahwa tugas negara adalah kehormatan tertinggi yang harus dijalankan dengan penuh rasa tanggung jawab.

Sang istri telah memahami risiko profesinya yang sewaktu-waktu harus berangkat ke daerah bencana di seluruh pelosok negeri.

“Dari awal sudah saya bilang, kalau menikah dengan abdi negara harus siap. Bisa di Merauke, bisa di Sabang,” katanya.

Dedy meminta masyarakat Aceh Tamiang untuk tetap optimis menghadapi masa depan pascabencana yang merusak banyak infrastruktur vital.

Ia memastikan bahwa pemerintah terus bekerja keras melakukan percepatan pemulihan jalan nasional tanpa mengenal waktu istirahat.

“Pesan saya untuk warga dan keluarga yang terdampak, jangan bersedih hati,” ucap Dedy memberikan semangat.

Pihak Bina Marga berkomitmen menyelesaikan seluruh tahap rehabilitasi infrastruktur agar aktivitas sosial ekonomi warga kembali normal seperti sediakala.

Sinergi antara pemerintah dan masyarakat menjadi kunci utama dalam melewati masa-masa sulit setelah terjangan banjir besar.

“Pemerintah tidak akan berdiam diri. Kami semua berkonsolidasi dan berusaha memulihkan seperti sediakala. Tidak bisa instan, tapi bertahap demi tahap akan kita selesaikan,” katanya.

**