Bentaratimur.id

Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Polri melaksanakan penelitian terkait evaluasi kualitas gudang penyimpanan senjata api (senpi) dan amunisi dalam rangka mendukung pelaksanaan tugas operasional kepolisian di Polda Sulawesi Tenggara (Sultra) dan lima polres jajaran, Senin (10/3/2024). Foto/Bidhumas Polda Sultra

Puslitbang Polri Lakukan Evaluasi Kualitas Gudang Penyimpanan Senpi dan Amunisi di Polda Sultra

Kendari, Bentara Timur – Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Polri tengah melaksanakan penelitian terkait evaluasi kualitas gudang penyimpanan senjata api (senpi) dan amunisi dalam rangka mendukung pelaksanaan tugas operasional kepolisian di Polda Sulawesi Tenggara (Sultra) dan lima polres jajaran.

Kegiatan ini berlangsung dari 10 hingga 13 Maret 2025 sebagai bagian dari kajian yang dilakukan di 11 Polda sampel di seluruh Indonesia.

Kedatangan tim Puslitbang Polri di Polda Sultra dipimpin ketua tim Kombes Pol Muhammad Budi A., bersama peneliti AKBP Ujang Darmawan H. S., dan anggota tim AKP Annisaa Yusuf, serta didampingi narasumber dari BRIN Ary Wahyono.

Paparan penelitian disampaikan oleh ketua tim di Aula Dachara Polda Sultra yang diikuti oleh Plt Karo Log Polda Sultra, Kombes Pol Lilik Istiyono, sejumlah pejabat utama beserta personel lainnya.

Kombes Muhammad Budi mengatakan, penilitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi riil gudang penyimpanan senjata api dan amunisi yang ada di satuan kewilayahan. Kemudian untuk mengidentifikasi dan menganalisis kondisi rill gudang penyimpanan senjata api dan amunisi Polri saat ini, serta untuk merumuskan upaya peningkatan kualitas gudang penyimpanan senjata api dan amunisi di lingkungan Polri terkait aspek keamanan, keselamatan, kesehatan, kemudahan, dan kenyamanan.

Sepuluh Tahun Mengabdi, Fikri Ibrahim Buktikan Ketulusan Berbuah Penghargaan

Budi menjelaskan, Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) yang bertanggungjawab atas keamanan dalam negeri dibekali senjata api beserta amunisi untuk mewujudkan keamanan yang kondusif.

Namun, berbagai kasus yang terjadi terkait penyimpanan senjata api dan amunisi menunjukkan urgensi untuk mengevaluasi kualitas gudang penyimpanan, khususnya dalam mendukung pelaksanaan tugas operasional kepolisian. Kasus pencurian senjata api oleh oknum polisi di gudang logistik Ditsamapta Polda Bangka Belitung, menyoroti lemahnya pengawasan dan manajemen inventaris di gudang penyimpanan.

Di sisi lain, insiden seperti ledakan gudang peluru TNI milik Kodam Jaya di Ciangsana, yang dilaporkan oleh CNBC Indonesia dan BBC Indonesia, menggambarkan risiko fisik yang dapat mengancam keselamatan personel dan masyarakat sekitar jika standar keamanan tidak terpenuhi.

Gudang penyimpanan tidak hanya memerlukan pengamanan fisik, seperti material bangunan tahan ledakan dan sistem akses terbatas, tetapi juga dukungan teknologi modern, seperti pengawasan berbasis CCTV, sensor keamanan, dan sistem pelacakan digital untuk memastikan akurasi inventaris. Selain itu, evaluasi ini juga akan menekankan pentingnya pelatihan personel terkait pengelolaan gudang dan prosedur audit berkala.

“Penelitian ini sangat relevan dengan fenomena yang terjadi, bertujuan untuk mengidentifikasi celah-celah dalam sistem penyimpanan senjata api dan amunisi serta memberikan rekomendasi untuk meningkatkan keamanan keselamatan, kesehatan, kemudahan dan kenyamanan,” ujar Budi.

IMM Sultra Desak Bupati Wakatobi Tertibkan ASN Rangkap Jabatan

Penelitian ini juga kata Budi, bertujuan untuk mencegah insiden penyalahgunaan, pencurian, atau kecelakaan yang dapat mencoreng nama baik institusi kepolisian terhadap kepercayaan masyarakat yang saat ini telah terbangun dengan baik.

“Kami harapkan dengan penelitian dapat memberikan panduan komprehensif bagi institusi kepolisian untuk memperkuat sistem logistik khususnya gudang penyimpanan senjata api dan amunisi, sehingga dapat mendukung pelaksanaan tugas operasional kepolisian yang profesional, transparan, dan aman,” pungkas Budi.

Editor : R. Hafid