Bentara Timur. Kendari. Bangkai seekor paus sperma (Physeter macrocephalus) yang terdampar di pesisir Desa Totobo Kecamatan Pomala, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara, dievakuasi dengan metode penenggelaman di laut (sea burial).
Paus tersebut diperkirakan memiliki panjang sekitar 15 meter dengan bobot mendekati 40 ton. Ukuranya yang besar dan lokasi bangkai yang berada di kawasan berlumpur membuat proses evakuasi menjadi rumit.
Menurut Prihanto dari Balai Konservasi Sumeber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Tenggara, tim penanganan menyiapkan dua skema untuk mengevakuasi bangkai paus dari pesisir menuju laut lepas.
”Posisi bangkai paus terbawa ombak, hingga ke Pantai Desa Towua, Kecamatan Wundulako. Bangkai paus sperma itu dibawa menggunakan perahu nelayan ke luar Pulau Padamarang untuk ditenggelamkan, jauh dari lalu lalang kapal dan pemukiman warga” kata Prihanto via seluler Minggu 8 Maret 2026.
Evakuasi dipimpin Sekretaris Dinas Perikanan Kabupaten Kolaka, Hasbi serta melibatkan instansi terkait.
Ditemukan Dalam Kondisi Mati

Keterangan : Bangkai seekor paus sperma (Physeter macrocephalus) yang terdampar di pesisir Desa Totobo Kecamatan Pomalaa, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara. Foto : BPSL Wilayah Sulawesi Tenggara
Mamalia raksasa ini pertama kali ditemukan oleh warga pada Selasa 3 Maret 2026 di pesisir pantai Desa Totobo Kecamatan Pomalaa Kabupaten Kolaka Provinsi Sulawesi Tenggara.
Ketika ditemukan bangkai paus sudah dalam kondisi mati dan menguarkan bau menyengat. Perairan laut Kolaka diketahui berhadapan dengan Teluk Bone yang saat ini diketahui kondisinya masuk dalam musim angin dan ombak kencang atau istilah nelayan menyebutnya musim barat.
Penanggung Jawab Balai Pengelola Sumberdaya Pesisir Laut (BSPL) Wilayah Sulawesi Tenggara Jufri, mengatakan dari hasil temuan di lapangan menemukan tidak didapati adanya tanda-tanda luka saat paus terdampar .
Hingga kini penyebab kematian paus belum dapat dipastikan. Pihaknya tidak melakukan nekropsi atau autopsi hewan untuk memeriksa organ internal.
“Kami belum mengetahui apakah ada luka atau penyebab lain. Dari laporan awal di lapangan tidak ada informasi pasti mengenai kondisi tubuh paus.
“ Saat ditemukan sudah mati dan mengeluarkan bau tidak sedap, jadi perkiraan kami pausnya sudah mati sebelum terdampar. Jadi karena kondisi ombak sehingga paus terbawa arus sampai ke pesisir pantai,” jelas Jufri
Mengapa Bangkai Paus Ditenggelamkan ?
Dalam kasus mamalia terdampar, ada beberapa metode penanganan bangkai seperti dikubur, dibakar atau ditenggelamkan. Untuk kasus paus di Kolaka ini menurut Jufri pihaknya memutuskan untuk menenggelamkan atau sea burial bangkai hewan itu. Dalam metode ini, bangkai paus biasanya ditarik ke laut dalam dan diberi pemberat agar tidak hanyut kembali ke pesisir.
“Pilihan yang paling realistis adalah ditarik ke laut dan ditenggelamkan jauh dari pesisir agar terurai alami. Tujuannya untuk mengurangi bau yang mengganggu warga serta mencegah pencemaran perairan di dekat pantai,” kata Jufri lebih jauh.
Menurut Jufri, timnya menghadapi kendala dalam proses evakuasi karena keterbatasan fasilitas, bobot paus yang sangat besar menyulitkan mereka untuk menarik bangkai paus ke tengah laut.
Lokasi bangkai paus yang berada sekitar 400 – 500 meter dari jalan utama dan berada di area berlumpur yang sulit dijangkau alat berat. Konidisi itu membuat opsi penguburan di darat tidak mungkin dilakukan. Penguburan membutuhkan alat berat yang tidak dapat menjangkau lokasi berlumpur.
Pembakaran juga tidak memungkinkan karena keterbatasan bahan bakar dan kondisi pasang surut.
Belum Ada Data Koridor Paus di Sultra
Upaya mencegah terulangnya kasus paus terdampar di perairan Sulawesi Tenggara masih menghadapi berbagai tantangan. Salah satunya karena hingga kini belum tersedia data pasti mengenai koridor atau jalur migrasi paus yang melintasi wilayah ini
Hal ini membuat pemerintah daerah dan pemangku kepentingan kesulitan memberikan informasi kepada sektor pelayaran maupun industri. Keterbatasan data ini juga menjadi salah satu kendala dalam menyusun kebijakan pengelolaan jalur pelayaran yang aman bagi satwa laut dilindungi.
Beberapa penelitian sebelumnya memang menyebut bahwa Laut Banda dan Laut Flores merupakan salah satu koridor migrasi mamalia laut di Indonesia. Namun lokasi spesifik jalur perlintasan yang melewati wilayah Sulawesi Tenggara masih belum terpetakan secara rinci.
BPSL mendata dalam 10 tahun terakhir sudah terjadi 6 kali penemuan paus terdampar dengan lokasi di Kabupaten Bombana, Kabupaten Wakatobi, Kabupaten Buton Utara, Kabupaten Konawe dan Kabupaten Kolaka Utara serta terakhir penemuan di Kabupaten Kolaka ini
“Paus itu migrasinya sangat jauh, bisa lintas negara. Karena itu lintasan mereka belum tentu sama setiap waktu. Di Sulawesi Tenggara sendiri kita belum mengetahui secara pasti di mana koridor perlintasan paus, ini menyulitkan ketika ingin menginformasikan kepada jalur-jalur pelayaran,” jelasnya.
Jufri mengurai, untuk beberapa wilayah perairan Indonesia, seperti Laut Sawu di Nusa Tenggara Timur (NTT), pemerintah telah menetapkan koridor perlintasan paus. Pada jalur tersebut, kapal yang melintas harus mengikuti standar operasional prosedur (SOP) tertentu untuk mengurangi risiko tabrakan dengan mamalia laut.
“Di Laut Sawu sudah ada koridor pausnya, sehingga kapal yang melintas di jalur itu harus mengikuti SOP tertentu. Hal seperti ini sebenarnya bisa juga diterapkan di wilayah lain,” katanya.
Terkait alasan mengapa paus terdampar, menurut Jufri bisa dapat disebabkan berbagai faktor, termasuk faktor alami seperti aktivitas pemangsaan di laut.
“Kalau kasus seperti ini banyak dugaan. Bisa saja karena faktor alam, misalnya paus sedang melakukan aktivitas pemangsaan atau mengikuti mangsa. Itu kondisi alami yang memang sulit kita kendalikan,” ujar Jufri .
Senada, Dosen Perikanan dan Kelautan Universitas Halu Oleo, La Ode Muhammad Aslan, mengatakan kasus paus yang terdampar di pesisir laut Kabupaten Kolaka tidak hanya terjadi di wilayah tropis, tetapi dilaporkan secara global dengan pola spasial tertentu.
Di Indonesia, laporan kejadian mamalia laut terdampar menunjukkan perlunya kajian ilmiah yang lebih sistematis untuk memahami faktor penyebab dan implikasi ekologisnya.
Menurutnya fenomena ini tidak bisa dilihat sebagai peristiwa tunggal. Paus merupakan mamalia laut besar dari ordo Cetacea yang berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut, terutama dalam siklus nutrien dan struktur rantai makanan.
Namun hewan ini juga rentan terhadap berbagai tekanan lingkungan, baik yang berasal dari faktor alami maupun aktivitas manusia.
Menurut studi kata Aslan, penyebab yang paling sering terjadi adalah gangguan navigasi atau disorientasi. Paus menggunakan sistem ekolokasi serta sensitivitas terhadap medan magnet bumi untuk menentukan arah di laut. Di wilayah pesisir dengan topografi dasar laut yang landai atau kompleks, gelombang suara dapat terdistorsi sehingga mengganggu sistem navigasi mereka.
”Selain itu, kondisi kesehatan paus juga berperan penting. Individu yang sakit, cedera, atau dalam kondisi lemah sering kali kehilangan kemampuan berenang secara optimal sehingga lebih mudah terbawa arus ke wilayah perairan dangkal” kata Aslan.
Faktor lain yang juga berpengaruh adalah karakteristik oseanografi dan topografi pesisir. Wilayah teluk semi-tertutup dengan dinamika arus dan pasang surut yang kompleks diketahui memiliki risiko lebih tinggi terhadap kejadian paus terdampar.
Teluk Bone, tempat ditemukannya paus terdampar di Kolaka, memiliki karakteristik tersebut. Bentuk teluk yang semi-tertutup dengan arus laut yang dinamis dapat memerangkap mamalia laut besar yang masuk terlalu jauh ke wilayah pesisir.
Selain faktor alami, penelitian juga menunjukkan bahwa kebisingan bawah laut dapat memicu perubahan perilaku paus. Aktivitas sonar, survei seismik, maupun lalu lintas kapal yang padat dapat mengganggu sistem akustik yang digunakan paus untuk navigasi dan komunikasi.
Beberapa kasus di dunia bahkan menunjukkan bahwa paparan kebisingan intens dapat memicu stres fisiologis pada paus dan meningkatkan risiko terdampar.
Faktor Alam Lebih Dominan

Keterangan : Persiapan evakusibBangkai paus sperma ke tengah laut dekat dengan Pulau Padamarang untuk ditenggelamkan. bangkai paus sperma tersebut kemudian dipindahkan menggunakan perahu nelayan menuju perairan luar Pulau Padamarang. Foto : BKSDA Sulawesi Tenggara
Dalam kasus yang terjadi di Kolaka, Aslan menilai kemungkinan faktor alami masih lebih dominan dibandingkan aktivitas manusia. Hal ini terutama jika tidak ditemukan tanda-tanda luka akibat tabrakan kapal atau jeratan alat tangkap.
Mamalia laut dapat terdampar karena sejumlah kondisi alami, seperti perubahan arus laut, cuaca ekstrem, atau perubahan distribusi makanan yang membuat paus mengikuti mangsanya hingga ke perairan dangkal.
Paus juga dapat mengalami disorientasi akibat topografi pesisir yang kompleks, terutama di teluk yang memiliki dasar laut landai.
” Namun faktor manusia tidak sepenuhnya dapat dikesampingkan. Aktivitas seperti kebisingan kapal, pencemaran laut, hingga interaksi dengan alat tangkap perikanan dapat memperburuk kondisi paus yang sudah berada dalam situasi stres atau tersesat” jelas Aslan .
Perubahan kondisi oseanografi juga menjadi faktor yang sering dikaitkan dengan fenomena paus terdampar. Arus laut dapat membawa paus secara pasif masuk ke wilayah teluk, terutama ketika mereka sedang mengikuti mangsa.
Di wilayah seperti Teluk Bone, dinamika arus, pasang surut, serta bentuk teluk dapat menyebabkan paus sulit menemukan jalur keluar menuju laut dalam.
Fenomena ini dikenal sebagai perangkap hidrodinamika, di mana mamalia laut yang masuk terlalu jauh ke teluk akhirnya terjebak di perairan dangkal.
Aktivitas Industri dan Kebisingan Laut

Wilayah Kolaka saat ini berkembang sebagai kawasan industri nikel. Aktivitas kapal tongkang, kapal kargo, serta operasi pelabuhan berpotensi meningkatkan tingkat kebisingan di bawah laut.
Secara ilmiah, paus sangat bergantung pada suara untuk orientasi, komunikasi, dan mencari makan. Air laut bahkan menghantarkan suara empat hingga lima kali lebih cepat dibandingkan udara.
Ketika kebisingan meningkat, suara alami paus dapat tertutup oleh suara mesin kapal. Kondisi ini dikenal sebagai masking communication, yang dapat mengurangi kemampuan paus untuk berkomunikasi dan menentukan arah.
Dalam jangka panjang, kebisingan kronis juga dapat menyebabkan perubahan jalur migrasi, peningkatan stres fisiologis, hingga penurunan kemampuan bertahan hidup.
Aktivitas pertambangan dan lalu lintas kapal di wilayah pesisir Kolaka juga berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap ekosistem laut.
Dampak tersebut dapat muncul melalui tiga jalur utama, yakni peningkatan kebisingan bawah laut, peningkatan lalu lintas kapal, serta perubahan kualitas lingkungan perairan.
Namun para peneliti menegaskan bahwa dalam banyak kasus, faktor ini bersifat kontributif atau memperbesar risiko, bukan selalu menjadi penyebab langsung kematian paus.
Pentingnya Nekropsi untuk Tentukan Penyebab Kematian
Namun begitu untuk memastikan memastikan penyebab pasti kematian paus, para ilmuwan menekankan pentingnya nekropsi, yaitu autopsi pada hewan.
Dalam penelitian mamalia laut, nekropsi dianggap sebagai metode ilmiah paling akurat untuk menentukan penyebab kematian paus yang terdampar.
”Melalui nekropsi, peneliti dapat mengidentifikasi berbagai kemungkinan penyebab kematian, seperti trauma akibat tabrakan kapal, emboli gas akibat gangguan akustik, infeksi penyakit, paparan racun, hingga malnutrisi” terang Aslan.
Banyak penyebab kematian paus tidak dapat terlihat dari luar tubuh. Bangkai paus yang tampak utuh bisa saja mengalami perdarahan internal, kerusakan organ, atau keracunan yang hanya dapat diketahui melalui pemeriksaan jaringan.
Tanpa nekropsi, penyebab kematian paus biasanya hanya dapat disimpulkan sebagai dugaan.
Menurut Aslan berdasarkan penelitian keberadaan paus dapat berfungsi sebagai bioindikator kondisi ekosistem laut.
Sebagai predator puncak dalam rantai makanan, paus mengakumulasi berbagai zat dari mangsanya sepanjang hidup. Jika dalam tubuh paus ditemukan plastik atau logam berat, hal itu dapat menunjukkan bahwa polutan tersebut telah menyebar luas di dalam ekosistem laut.
”Teluk Bone sendiri memiliki potensi menjadi wilayah akumulasi sampah laut karena karakteristiknya sebagai teluk semi-tertutup dengan sirkulasi air yang lebih lambat dibanding laut terbuka” ujarnya.
Jika ditemukan plastik atau polutan industri dalam tubuh paus, temuan tersebut tidak hanya berkaitan dengan kesehatan satwa liar, tetapi juga menjadi peringatan bagi kondisi lingkungan laut dan keamanan pangan bagi masyarakat pesisir.
Fenomena paus terdampar di Sulawesi Tenggara masih membutuhkan penelitian lebih lanjut. Penguatan riset mengenai oseanografi regional, jalur migrasi mamalia laut, serta ekologi akustik dinilai penting untuk memahami pola kemunculan kasus tersebut.


