Kendari. Bentara Timur- Hujan berkepanjangan yang mengguyur Kota Kendari sejak Kamis 7 Mei 2026 dan puncaknya pada Minggu 10 Mei 2026 menyebabkan banjir di sejumlah wilayah kota. Sampai Minggu tengah malam ini hujan masih mengguyur dengan intesnitas ringan. Data sementara sekitar 700 rumah warga terendam dan sekitar 3 ribu jiwa terdampak bencana ini.
Banjir bahkan menyebabkan seorang bocah laki-laki berusia lima tahun bernama Rangga ditemukan meninggal setelah terseret arus banjir di Kelurahan Punggaloba Kecamatan Kendari barat. Jenazah korban ditemukan di muara Kali Pungaloba siang sekitar pukul 12.00 Wita
Kepala Pelaksana BPBD Kota Kendari, Cornelius Padang, mengatakan dari 11 wilayah kecamatan banjir melanda tujuh kecamatan, yakni Baruga, Poasia, Kambu, Kendari Barat, Wua-Wua, Kadia, dan Abeli.
“Hingga saat ini tercatat 657 rumah terendam dengan jumlah warga terdampak mencapai 3 ribu jiwa. Prioritas kami adalah memastikan keselamatan warga dan menyalurkan bantuan logistik ke titik-titik pengungsian,” kata Cornelius, Minggu (10/5/2026).
Selain pemukiman, banjir juga merendam sekitar 50 hektar sawah di Kecamatan baruga.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (KPP) SAR Kendari, Amiruddin, mengatakan tim dibagi ke beberapa titik banjir sejak pagi hari mengevakuasi sediktinya 20 warga dari sejumlah lokasi terdampak.
“Tim pertama mengevakuasi 12 warga di Kawasan kali Wanggu, Kelurahan Lepo-lepo dan Amohalo. Lalu tim lain menyebar untuk mengevakusi enam warga dari kawasn BHM, Pasar Andonohu dan Lorong Bangau di kecamatan Kambu,” kata Amiruddin Minggu 10 Mei 2026

BMKG mengeluarkan peringatan hujan terjadi di sejumlah kabupaten/kota di Sultra selama beberapa hari ke depan.
Warga Minta Solusi Permanen
Di Kendari kala musim hujan, banjir hampir pasti selalu datang hingga memunculkan keresahan warga. Warga mengaku banjir menyebabkan aktivitas terhambat, akses jalan sulit di lalui, rumah dan harta benda rusak dan banyak kerugian materil hingga non materil bahkan juga merenggut nyawa.
Siti Rahma, warga di Kelurahan Kambu mengatakan air masuk ke rumahnya sejak dini hari. Ia terpaksa mengungsi bersama anak-anaknya.
“Kami sangat takut karena air naik cepat sekali. Perabotan banyak yang rusak, dan yang paling sedih ada anak kecil meninggal. Kami berharap pemerintah benar-benar serius menangani banjir ini, jangan hanya datang saat kejadian,” katanya.
“Setiap hujan deras kami selalu waswas. Kami butuh solusi permanen, seperti normalisasi sungai, perbaikan drainase, dan penertiban kawasan yang menyebabkan air meluap,” ujarnya.
Senada, Arman warga kelurahan Anduonohuu
Senada dengan itu, Arman, warga Kelurahan Anduonohu,
Kecamatan Poasia, menilai banjjir telah berlangsung bertahun-tahun tanpa penanganan menyeluruh dan serius. Menurutnya kondisi ini menjadi ironi di tengah perayaan HUT kota ke 195 tahun pada 9 Mei 2026.
”Baru sehari setelah kota ini merayakan hari jadi dengan meriah, warga justru dihadapkan pada bencana banjir,” kata Arman pada Tempo, Minggu Malam.
Ia menyampaikan banjir bukan persolan baru. Hampir setiap musim hujan sejumlah kawasan langganan terendam air. Karena itu ia Arman berharap pemerintah kota tidak hanya fokus pada penangana saat bencana, tapi mulai menyiapkan solusi jangka panjang agar musibah ini tidak terus berulang. Jangan datang hanya pada saat musibah.
“Banjir ini terjadi hampir setiap tahun. Sudah seharusnya pemerintah mencari langkah konkret untuk mencegahnya, bukan sekadar menangani setelah air meluap,” ujarnya dengan nada kesal.

Foto dari udara memperlihatkan banjir meluas di 7 kecamatan Kota Kendari menyebabkan sedikitnya 657 rumah terendam dan 3.000 jiwa terdampak, sementara seorang anak berusia lima tahun dilaporkan meninggal dunia setelah terseret arus. Foto : Ig.dayuarapa
Wali Kota dan Wakil Wali Kota Tinjau Lokasi Banjir
Wali Kota Kendari Siska Karina Imran bersama Wakil Wali Kota Sudirman turun meninjau sejumlah lokasi banjir mulai dari Kecamatan Kendari Barat, baruga dan Poasia Minggu (10/5/2026) untuk memastikan penanganan darurat bagi warga terdampak.
Pemrintah katanya berkoordiansi dengan Dinas Sosila dan Dinas Kesehatan untuk memastikan kebutuhan warga seperti makanan siap saji, layanan kesehatan dan abntuan logistik segera terpenuhi.
“Kami turun langsung untuk memastikan kondisi warga dan memastikan penanganan di lapangan berjalan cepat,” kata Siska.
Menurut Siska beberapa titik banjir di Kota Kendari memerlukan penanganan lintas sektor yang melibatkan kota, provinsi hingga pemerintah pusat.
Salah satu lokasi yang ditinjau adalah Jalan Bungasi Kelurahan Anduonohu Kecamatan Poasia. Di sana Siska memantau proses pengangkutan sampah yang menyumbat saluran air dan diduga menjadi salah satu penyebab banjir.
Pemerintah kota lanjutnya juga menggandeng Balai Wilayah Sungai (BWS) Sulawesi IV untuk memeriksa kondisi Kali Wanggu yanng kerap meluap setiap musim hujan
“Kami sudah berkoordinasi dengan Balai karena sungai ini menjadi kewenangan pemerintah pusat melalui Balai Wilayah Sungai,” ujar Siska.
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Kota Kendari, Cornelius Padang, mengimbau warga yang tinggal di bantaran sungai dan kawasan dataran rendah untuk tetap waspada karena potensi hujan lebat masih dapat terjadi.
“Kami meminta warga tetap tenang, tetapi siaga. Jika debit air kembali meningkat, segera evakuasi ke tempat yang lebih aman,” kata Cornelius.

