Bentaratimur.id

Kuda Laut Indikator Kesehatan Laut Indonesia

Bentara Timur – Kuda laut (Hippocampus) bukan sekadar biota unik penghuni laut tropis. Spesies ini memiliki peran penting sebagai penanda kesehatan ekosistem pesisir. Keberadaannya di kawasan padang lamun, hutan mangrove, maupun terumbu karang menunjukkan kondisi lingkungan laut yang masih terjaga dan mendukung keberlanjutan sumber daya perikanan.

Hal tersebut disampaikan Kepala Pusat Riset Sistem Biota Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Decky Indrawan Junaedi, seperti yang dikutip di laman brin.go.id.

Menurut Decky, menurunnya populasi kuda laut dapat menjadi sinyal rusaknya ekosistem pesisir. Kondisi itu berpotensi memengaruhi ketersediaan stok ikan sekaligus mengancam keberlanjutan mata pencaharian masyarakat nelayan.

“Ketika kita menjaga kuda laut agar tidak punah, sebenarnya kita juga sedang menjaga habitatnya dan memastikan ikan-ikan di kawasan itu tetap dapat berkembang biak,” ujarnya, dikutip dari brin.go.id.

Ia menekankan, upaya pelestarian kuda laut tidak dapat dilakukan tanpa keterlibatan masyarakat pesisir. Sebab, keberadaan spesies tersebut sangat bergantung pada kondisi habitat yang sehat.

13 Spesies Kuda Laut Ditemukan di Indonesia, Sebagiannya Terancam Punah

“Kalau kuda laut masih bertahan hidup di suatu wilayah, artinya lingkungan di sana masih cukup baik untuk mendukung kehidupan,” kata Decky.

Sementara itu, perwakilan Direktorat Konservasi Spesies dan Genetik Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Risris Sudarisman, menjelaskan bahwa kuda laut termasuk spesies yang tercantum dalam Appendix II Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES). Dengan status tersebut, perdagangan internasional kuda laut harus dikendalikan agar populasinya di alam tetap terjaga.

Menurut Risris, konservasi tidak semata berbicara tentang pelarangan pemanfaatan, tetapi juga bagaimana sumber daya laut dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan sehingga manfaatnya tetap dirasakan generasi mendatang.

Decky menambahkan, isu kemaritiman, termasuk konservasi laut dan pengelolaan perikanan, menjadi salah satu fokus riset BRIN. Karena itu, lembaganya terus memperkuat kolaborasi dengan kementerian, pemerintah daerah, organisasi masyarakat sipil, hingga komunitas nelayan dalam mendukung penelitian dan pengelolaan sumber daya laut.

Lokakarya tersebut mempertemukan peneliti, pemerintah, organisasi nelayan, dan mitra internasional untuk membahas kondisi ekosistem pesisir, ancaman terhadap kuda laut, serta upaya menjaga keberlanjutan perikanan Indonesia.

Banjir Berulang Kepung Kendari, Warga Tuntut Solusi Permanen

Kegiatan itu diselenggarakan oleh Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI), BRIN, dan Project Seahorse University of British Columbia. Forum tersebut menjadi ruang dialog antara hasil riset ilmiah dan pengalaman masyarakat pesisir dalam menjaga ekosistem laut.

Wakil Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat KNTI, Sugeng Nugroho, mengatakan laut bagi nelayan tradisional bukan hanya sumber ekonomi, melainkan juga ruang hidup dan ruang budaya yang harus dijaga kelestariannya.

Menurutnya, pelestarian kuda laut perlu melibatkan masyarakat pesisir sebagai bagian penting dari penjaga ekosistem laut.

“Nelayan tradisional bukan hanya pencari ikan, tetapi juga penjaga laut,” ujarnya.

Sugeng juga menyoroti berbagai ancaman terhadap ekosistem pesisir, mulai dari eksploitasi sumber daya berlebihan hingga penggunaan alat tangkap destruktif yang merusak terumbu karang dan padang lamun.

Ia menegaskan, pendekatan konservasi perlu dilakukan secara menyeluruh dengan menempatkan nelayan sebagai bagian utama dalam perlindungan lingkungan laut.

Perwakilan Project Seahorse, Jana McPerson, mengatakan kerja sama internasional tersebut bertujuan mendorong upaya konservasi berbasis perlindungan spesies kuda laut, sekaligus meningkatkan kesadaran terhadap ancaman yang dihadapi ekosistem pesisir dan masyarakat yang bergantung padanya.

“Tujuan kami adalah membantu negara dan komunitas di berbagai belahan dunia untuk merancang langkah perlindungan kuda laut agar pemanfaatannya tetap berkelanjutan dalam jangka panjang,” ujar Jana.

Ia mengapresiasi keterlibatan peserta dari berbagai daerah dan berharap forum tersebut dapat melahirkan gagasan baru mengenai pengelolaan kuda laut yang lebih berkelanjutan di Indonesia. (red)