Bentaratimur.id

Hari Laut Sedunia dan Masa Depan Agrominapolitan Kabaena

Setiap tanggal 8 Juni, dunia memperingati Hari Laut Sedunia sebagai momentum untuk merefleksikan hubungan manusia dengan laut serta tanggung jawab dalam menjaga keberlanjutannya. Bagi masyarakat Pulau Kabaena, peringatan ini seharusnya menjadi saat yang tepat untuk mengevaluasi kondisi laut dan pesisir setelah dua dekade aktivitas pertambangan berlangsung di pulau kecil tersebut.

Setelah hampir 20 tahun operasi pertambangan nikel di Pulau Kabaena, dampak lingkungan yang dahulu hanya berupa kekhawatiran kini telah menjadi kenyataan. Hampir seluruh wilayah pesisir Kabaena mengalami tekanan akibat sedimentasi lumpur yang berasal dari kawasan pertambangan. Dampaknya dapat ditemukan di berbagai kecamatan, mulai dari Kabaena Selatan, Kabaena Barat, Kabaena Tengah, hingga Kabaena Timur. Tingkat kerusakan memang berbeda-beda, ada yang sudah sangat parah dan ada yang masih dalam tahap awal, namun tren penurunan kualitas lingkungan pesisir terlihat semakin nyata.

Kondisi ini sebenarnya telah lama diperingatkan oleh pegiat lingkungan, akademisi, dan masyarakat sipil sejak awal pemberian izin pertambangan di Pulau Kabaena. Mereka mengingatkan bahwa pembukaan hutan dalam skala besar di daerah tangkapan air akan meningkatkan erosi tanah yang pada akhirnya bermuara ke sungai dan laut. Namun berbagai peringatan tersebut tidak memperoleh perhatian yang memadai. Kini masyarakat pesisir harus menghadapi dampaknya secara langsung melalui menurunnya kualitas perairan, rusaknya habitat biota laut, berkurangnya hasil tangkapan nelayan, hingga ancaman terhadap sumber penghidupan masyarakat.

Di tengah situasi tersebut, pemerintah daerah terpilih mengusung konsep Agrominapolitan sebagai visi pembangunan daerah sebagai tertuang dalam RPJMD 2025-2030. Gagasan ini pada dasarnya sangat baik karena menempatkan sektor pertanian, perkebunan, perikanan, dan kelautan sebagai pilar utama pembangunan ekonomi masyarakat. Namun pertanyaan mendasar yang perlu dijawab adalah: mungkinkah visi Agrominapolitan terwujud apabila kerusakan lingkungan pesisir dan daerah tangkapan air terus berlangsung?

Pulihkan Kabaena Lewat Ekonomi Hijau di Luar Tambang

Sahrul Gelo

Agrominapolitan membutuhkan sumber daya alam yang sehat sebagai fondasinya. Produktivitas perikanan tidak akan meningkat jika perairan pesisir terus tertutup sedimen. Sektor budidaya perikanan sulit berkembang apabila kualitas air menurun. Demikian pula sektor pertanian dan perkebunan akan menghadapi tantangan besar jika daerah tangkapan air mengalami degradasi yang menyebabkan banjir saat musim hujan dan kekeringan saat musim kemarau.

Karena itu, mewujudkan Agrominapolitan tidak cukup hanya dengan menyusun program ekonomi. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah memulihkan dan melindungi ekosistem yang menjadi penyangga kehidupan masyarakat. Pemerintah daerah perlu melakukan evaluasi menyeluruh terhadap aktivitas pertambangan yang telah menimbulkan sedimentasi, memperkuat pengawasan lingkungan, memastikan reklamasi dan rehabilitasi lahan berjalan efektif, serta menetapkan kawasan-kawasan penting sebagai wilayah perlindungan sumber air dan pesisir.

Selain itu, pembangunan ekonomi harus diarahkan pada penguatan sektor-sektor yang terbukti menjadi sumber penghidupan masyarakat Kabaena, seperti perikanan, pertanian, perkebunan aren, kopi, dan pengembangan ekowisata berbasis alam dan budaya. Pendekatan ini akan memberikan manfaat ekonomi yang lebih merata sekaligus menjaga keberlanjutan sumber daya alam untuk generasi mendatang.

Hari Laut Sedunia tahun ini seharusnya menjadi pengingat bahwa laut bukan sekadar ruang ekonomi, melainkan ruang hidup masyarakat Kabaena. Jika visi Agrominapolitan ingin diwujudkan, maka pemulihan pesisir dan perlindungan lingkungan harus menjadi prioritas utama. Sebab tidak mungkin membangun ekonomi kelautan yang kuat di atas ekosistem laut yang terus mengalami kerusakan.

Kisah Lusia dan Masa Depan Anyaman Kolosua yang Terancam

Pulau Kabaena masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki arah pembangunan. Namun kesempatan itu hanya akan terwujud apabila pemerintah, perusahaan, dan masyarakat bersama-sama menempatkan keselamatan lingkungan sebagai dasar dari setiap kebijakan pembangunan. Sebab masa depan laut Kabaena pada akhirnya adalah masa depan masyarakat Kabaena itu sendiri. PULIHKAN KABAENA