Bentaratimur.id

Pulihkan Kabaena Lewat Ekonomi Hijau di Luar Tambang

 

Pulau Kabaena selama ini lebih sering dikenal karena kandungan tambangnya. Padahal, di balik eksploitasi nikel yang terus berlangsung, Kabaena menyimpan kekayaan lain yang jauh lebih berkelanjutan: alam, budaya, pertanian, dan kelautan. Potensi-potensi ini seharusnya menjadi fondasi utama dalam membangun konsep ekonomi hijau Kabaena sebagai bagian dari gerakan Pulihkan Kabaena.

Ketergantungan pada sektor tambang hanya menciptakan ekonomi jangka pendek dengan risiko kerusakan lingkungan yang besar. Sementara itu, sektor wisata, budaya, pertanian rakyat, dan perikanan memiliki kemampuan menciptakan ekonomi yang lebih ramah lingkungan, menyerap tenaga kerja lokal, sekaligus menjaga identitas masyarakat Kabaena.

Di sektor pariwisata, Kabaena memiliki banyak destinasi yang belum tersentuh pengelolaan serius. Desa Wisata Tangkeno misalnya, menawarkan panorama pegunungan, tiga benteng bersejarah, jalur pendakian Gunung Sabampolululu yang cocok untuk pendaki pemula, hingga keindahan Air Terjun Lakambula. Kawasan ini sebenarnya dapat dikembangkan menjadi wisata alam berbasis masyarakat yang mengutamakan konservasi lingkungan dan pemberdayaan warga lokal.

Begitu pula Gowa Watuburi yang menyimpan cerita asal mula Tari Lumense serta artefak purbakala. Sayangnya, sebagian peninggalan sejarah mulai rusak akibat minimnya perlindungan dan kesadaran pengunjung. Ini menunjukkan bahwa pengembangan wisata harus dibarengi dengan edukasi budaya dan perlindungan situs sejarah.

Kisah Lusia dan Masa Depan Anyaman Kolosua yang Terancam

Potensi wisata lain juga tersebar di berbagai wilayah Kabaena, seperti Permandian Air Panas Lamonggi yang mudah diakses tetapi belum tertata, Pulau Sagori dengan sejarah kapal karam Belanda, pasir panjang, dan potensi snorkeling berair jernih, hingga Pulau Damawala yang memiliki panorama pantai unggulan di wilayah timur Kabaena. Ada pula Sungai Eemeroro di Desa Ulungkura, Pantai Lanere di Batuawu, dan pantai pasir putih Desa Mapila yang semuanya berpotensi menjadi destinasi wisata hijau berbasis ekowisata.

Namun, kekayaan Kabaena bukan hanya soal alam. Budaya Kabaena adalah aset ekonomi sekaligus identitas yang sangat bernilai. Tari Lumense misalnya, bukan sekadar tarian tradisional, tetapi bagian dari ritual pengobatan masyarakat yang sarat makna spiritual. Bahkan tarian ini pernah dipentaskan pada peringatan 17 Agustus di Istana Merdeka Jakarta. Kabaena juga memiliki lulo asli dengan ragam gerakan dan tabuhan, sastra tutur mekada tentang kepahlawanan Tongkimpuuwonua Tamano Moronene, hingga ohohi sebagai bentuk ekspresi sosial masyarakat.

Sahrul Gelo

Warisan budaya seperti ini seharusnya tidak hanya dipertahankan sebagai simbol tradisi, tetapi juga dikembangkan menjadi industri budaya yang memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat. Festival budaya tahunan, paket wisata adat, hingga dokumentasi digital budaya lokal dapat menjadi jalan untuk memperkenalkan Kabaena ke tingkat nasional bahkan internasional.

Pulau Kabaena Dikepung Longsor, Warga Kehilangan Akses Air dan Jalan Tani

Selain itu, sektor ekonomi rakyat juga menyimpan peluang besar. Kabaena dikenal sebagai penghasil gula aren yang sejak lama menopang kehidupan masyarakat. Produk khas seperti gola nii menunjukkan bahwa masyarakat sebenarnya telah memiliki tradisi pengolahan pangan lokal yang bernilai ekonomi tinggi. Begitu pula jambu mete yang selama ini hanya dijual mentah. Jika diolah menjadi kacang mete siap konsumsi, nilai jualnya akan meningkat berkali-kali lipat dan membuka peluang industri rumahan.

Di sektor kelautan, wilayah barat Kabaena menjadi jalur lintasan ikan tuna dan cakalang dengan potensi ratusan ton per tahun. Ironisnya, potensi besar ini justru lebih banyak dimanfaatkan nelayan luar daerah yang memiliki kapal modern, sementara masyarakat lokal hanya menjadi penonton. Kondisi serupa terjadi di wilayah timur Kabaena, di mana hasil tangkapan ikan tidak pernah tercatat karena transaksi berlangsung di tengah laut dan langsung dibawa keluar daerah.

Karena itu, konsep ekonomi hijau Kabaena harus dimulai dari keberpihakan kepada masyarakat lokal. Pemerintah daerah tidak boleh hanya menjadikan tambang sebagai pusat pembangunan. Investasi juga harus diarahkan pada penguatan UMKM, industri pengolahan hasil laut dan pertanian, pelatihan wisata berbasis masyarakat, hingga pembangunan infrastruktur yang mendukung ekonomi berkelanjutan.

Gerakan Pulihkan Kabaena pada dasarnya bukan sekadar penolakan terhadap kerusakan lingkungan akibat tambang. Gerakan ini harus menjadi upaya bersama untuk mengembalikan arah pembangunan Kabaena kepada potensi aslinya: alam yang lestari, budaya yang hidup, dan ekonomi rakyat yang mandiri.

Kabaena tidak boleh hanya dikenang sebagai pulau penghasil nikel. Kabaena harus dikenal sebagai pulau yang mampu menjaga alamnya, merawat budayanya, dan menyejahterakan masyarakatnya melalui ekonomi hijau yang berkelanjutan.