Bentara Timur – Di antara deretan hewan cerdas di alam liar, burung gagak dikenal sebagai salah satu yang paling pintar. Namun, kecerdasan gagak bukan hanya terlihat dari kemampuannya menggunakan alat atau memecahkan teka-teki. Salah satu perilaku unik yang kini menarik perhatian para peneliti adalah kebiasaan gagak mencari semut saat ia merasa tidak sehat.
Fenomena ini dikenal dalam dunia biologi sebagai “anting“, yakni perilaku burung yang membiarkan semut merayapi tubuhnya atau bahkan menggosokkan semut hidup ke bulunya. Menariknya, ini bukan bentuk permainan atau interaksi biasa, ini adalah bentuk pengobatan alami.
Semut Sebagai Apotek Alam
Semut tertentu, seperti semut kayu atau semut api, diketahui menghasilkan asam format, zat kimia yang bersifat antiseptik dan antiparasit. Gagak tampaknya memahami bahwa zat ini dapat membantunya mengusir kutu, bakteri, atau bahkan mengurangi infeksi ringan yang membuatnya lemas.
“Burung yang melakukan anting biasanya sedang mengalami ketidaknyamanan fisik, seperti infeksi jamur atau serangan kutu,” ujar Dr. Anne Moller, ahli etologi dari Universitas Kopenhagen. “Dan gagak tahu persis semut mana yang harus dicari.”
Tidak hanya gagak, beberapa spesies burung lain seperti jay biru, pipit, dan bahkan burung gereja juga diketahui melakukan anting. Namun, gagak menambahkan lapisan kompleksitas—mereka kadang mengumpulkan semut hidup dalam paruhnya, menggosokkannya ke sayap dan punggung, lalu melepaskannya kembali.
Adaptasi Cerdas di Alam
Burung gagak merupakan hewan yang sangat adaptif. Mereka bisa hidup di perkotaan, menggunakan kendaraan untuk memecahkan kacang, bahkan mengenali wajah manusia. Tapi kebiasaan anting ini menunjukkan bahwa gagak juga menyimpan “pengetahuan herbal” dalam insting alaminya.
Beberapa pengamat burung bahkan melaporkan bahwa gagak tidak hanya mencari semut ketika sedang diganggu kutu, tapi juga ketika terlihat lemas atau tidak aktif. Dugaan yang muncul: gagak memahami bahwa semut adalah bagian dari strategi pemulihan tubuhnya.
Apa yang Bisa Kita Pelajari?
Perilaku anting ini membuka pertanyaan besar tentang etno-medisina hewan, yaitu bagaimana makhluk hidup non-manusia menggunakan sumber daya alam untuk menyembuhkan diri. Sama seperti simpanse yang memakan daun pahit untuk membasmi cacing, atau kucing yang memakan rumput saat mual, gagak tampaknya memiliki ‘pengetahuan instingtif’ tentang tanaman dan serangga yang bersifat menyembuhkan.
“Ini bukan sekadar naluri,” jelas Dr. Moller, “melainkan bentuk kecerdasan ekologis. Mereka belajar, mencoba, dan mengingat apa yang bekerja.”
Editor : Rosnia

