Bentara Timur – Peringatan Hari Sumpah Pemuda pada Rabu, 28 Oktober 2026, diwarnai aksi demonstrasi serentak oleh aliansi mahasiswa dan elemen masyarakat sipil di berbagai kota, mulai dari Jakarta, Yogyakarta, hingga berbagai simpul daerah. Di tengah deru orasi muncul satu simbol visual yang mendominasi yaitu three-finger salute atau salam tiga jari.
Gestur tangan yang diangkat ke udara ini bukan sekadar atribut estetika aksi, melainkan medium ekspresi politik untuk menyuarakan solidaritas, perlawanan terhadap ketidakadilan, serta tuntutan reformasi struktural di bawah sorotan tema besar gerakan, seperti seruan “Tepati atau Pergi” yang digaungkan aliansi Komite Sadar di ibu kota.
Asal-usul three-finger salute memiliki akar budaya pop yang kuat sebelum bertransformasi menjadi bahasa pergerakan sosial global. Simbol ini pertama kali dipopulerkan melalui film trilogi fiksi ilmiah The Hunger Games yang diperankan oleh Jennifer Lawrence.
Dalam narasi tersebut, gestur tiga jari yang merapatkan jari telunjuk, tengah, dan manis sementara ibu jari dan kelingking saling bertumpu—awalnya merupakan tanda penghormatan kuno di Distrik 12 untuk menyatakan kekaguman, rasa terima kasih, dan perpisahan penuh cinta. Seiring berjalannya cerita, gestur itu bermutasi menjadi simbol perlawanan terbuka melawan rezim otoriter Capitol.
Di dunia nyata, fiksi tersebut beresonansi kuat dengan dinamika politik global. Gerakan prodemokrasi di Asia Tenggara tercatat paling masif mengadopsi simbol ini. Selepas kudeta militer Thailand pada 2014, para aktivis mahasiswa menggunakan salam tiga jari sebagai bentuk penolakan damai terhadap junta militer.
Penggunaan serupa bangkit kembali pada gelombang perlawanan di Myanmar pascakudeta 2021, serta dalam aksi-aksi penuntutan kebebasan sipil di Hong Kong. Di berbagai negara tersebut, gestur ini diadopsi sebagai lambang perlawanan universal terhadap represi negara.
Dalam konteks aksi Sumpah Pemuda 28 Oktober 2026 di Indonesia, Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) menyatakan bahwa three-finger salute telah jauh melampaui batas-batas narasi fiktif. Simbol tersebut direinterpretasikan ke dalam nilai-nilai universal Revolusi Prancis: liberté (kebebasan), égalité (kesetaraan), dan fraternité (persaudaraan).
Bagi gerakan mahasiswa, tiga jari yang diacungkan merepresentasikan tiga tuntutan fundamental: kebebasan sipil dari intervensi kekuasaan, kesetaraan di hadapan hukum, serta persaudaraan kaum tertindas di lingkar konflik agraria, buruh, dan perkotaan.
Selain berfungsi sebagai penanda solidaritas fisik di jalanan, penggunaan simbol ini juga menjadi strategi komunikasi visual yang efektif di era digital. Dokumentasi foto dan video massa aksi yang mengacungkan tiga jari mempermudah penyebaran pesan kampanye di platform media sosial, menciptakan identitas kolektif yang mudah dikenali, direplikasi, dan diperluas skalanya oleh netizen.
Kendati demikian, para sosiolog dan pengamat gerakan sosial mencatat bahwa three-finger salute tidak memiliki makna tunggal yang kaku. Fleksibilitas interpretasinya sangat bergantung pada lokus, aktor, dan isu spesifik yang diusung oleh kelompok yang menggunakannya. Namun, dalam momentum Sumpah Pemuda tahun ini, gestur tersebut telah ditegaskan kembali sebagai bahasa universal kaum muda untuk menagih janji-janji demokratisasi di bumi pertiwi. (red)

